OPINI—Khalayak dihebohkan dengan aksi bom bunuh diri yang terjadi di Makassar pada tanggal 28 Maret 2021. Terjadi sekitar pukul 10.30 Wita, saat jemaat selesai melaksanakan misa kedua di gereja Katedral. Pihak kepolisian langsung bergerak sigap menanggapi kejadian ini.

Ada apa dengan teror bom di rumah ibadah? Apakah ini modus lama untuk menjustifikasi radikalisme yang diembuskan kepada agama tertentu?

Pengamat Terorisme, Ali Fauzi, mengatakan bahwa yang perlu dilakukan organisasi besar atau umat Islam yang mainstream di Indonesia adalah urun rembuk, langsung terjun terhadap program-program yang dikembangkan pemerintah, dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) misalkan, ada program radikalisasi.

Hal yang berbeda dinyatakan oleh Menkopolhukam, Mahfud MD bahwa sejauh ini, aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral belum ada kaitannya dengan penangkapan sejumlah anggota kelompok JAD di Sulsel dalam dua bulan terakhir oleh Densus 88 (liputan6.com, 2/4/2021).

Belum usai berbagai problem yang mendera negeri ini, kita dihadapkan lagi dengan kasus bom bunuh diri. Sangat disayangkan, sebab kejadian tersebut berlangsung di rumah ibadah umat Nasrani. Pihak kepolisian melalui pemberitaan di media, banyak menyebutkan ciri-ciri pelaku yang diduga kuat umat Islam. Laki-laki bersorban, wanita bercadar atau foto berkerudung adalah gambaran bahwa pelaku mengarah ke salah satu agama tertentu yakni agama mayoritas di negeri ini.

Framing negatif yang sudah lama disematkan ke umat Islam dalam rangka menciptakan islamofobia di tengah-tengah masyarakat adalah lagu lama yang sering dimunculkan ketika negeri dalam kondisi terpuruk. Modus ini seringkali terjadi dengan pola yang sama. Bahkan masyarakat awam pun sangat mudah membaca kemana arah goal setting peristiwa ini. Toh selama ini, aksi teror dengan beragam peristiwa akhirnya kandas tak berujung. Pengalihan isu-isu besar adalah salah satu hal yang sering dikaitkan oleh banyak pihak selain program moderasi beragama yang lagi massif.

War on radicalism

Berbagai upaya dilakukan pihak tertentu untuk menanamkan islamofobia di tubuh umat. Bukan saja di negeri ini, namun juga terjadi di belahan bumi lainnya. Baru-baru ini, penghinaan terhadap Rasulullah SAW terjadi di Inggris oleh seorang guru. Tentu hal ini membuat geram warga Muslim dimanapun berada. Cap Islam radikal yang sudah disematkan bagi mereka yang teguh dengan ajaran Islam, tidak pernah padam. Berbagai program kemudian dirancang untuk membendung geliat umat yang makin hari makin bergejolak.

Tambahan lagi, bahwasanya para kapitalis tidak ingin terhalang demi mendapatkan tujuannya yakni menjarah negeri-negeri kaya. Kesadaran umat akan adanya sistem pengelolaan yang tidak sesuai aturan-Nya, menyebabkan munculnya sikap kritik. Semua itu dalam rangka menjaga keutuhan negeri tercinta dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Tentu hal ini hanya bisa dibaca bagi rakyat yang melek politik. Konspirasi politik global tak bisa dilepaskan dalam setiap kebijakan yang diambil para penguasa di negeri-negeri jajahan para imperialis. Demi melancarkan agendanya, diciptakanlah narasi-narasi jahat seperti war on radicalism yang terus diembuskan ke negeri-negeri Muslim.

Perlu disadari bersama bahwa narasi radikalisme yang terus digaungkan, akibat diterapkannya sistem sekuler kapitalis. Sistem yang menegasikan peran Sang Pencipta dalam aturan berkehidupan. Agama hanya sebatas ibadah ritual semata. Selanjutnya perkara ekonomi, pendidikan, politik, dan yang lainnya menggunakan aturan buatan manusia yang sangat lemah dan terbatas. Rawan penyimpangan dan kecurangan karena sarat dengan kepentingan.

Bunuh Diri dan Membunuh, Dosa Besar

Islam sangat tegas terkait perkara bunuh diri dan membunuh atau menghilangkan nyawa orang lain. Bahkan dikatakan sebagai dosa besar yang pelakunya diancam dengan ancaman yang keras, yakni tidak masuk surga. Berkebalikan dengan alasan orang melakukan aksi tersebut yakni dalam rangka berjihad, sebagaimana diberitakan di banyak media.

Sungguh suatu pemahaman yang keliru dan sesat. Bagaimana mungkin, perkara yang dihukumi haram oleh syariat kemudian dijadikan dalih oleh oknum untuk melakukan hal yang dalam pandangan Islam adalah suatu kebaikan.

Menurut para ulama, bunuh diri termasuk dosa besar. Sebagaimana dalam QS. An-Nisa: 29, yang artinya: Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allâh adalah Maha Penyayang kepadamu.” Begitupun membunuh manusia dengan tanpa alasan yang dibenarkan syariat merupakan dosa besar.

Allâh Subhanahu wa Taala telah melarang dengan firman-Nya: “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allâh (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. (al-Isrâ`: 33).

Walhasil, aksi bom yang banyak dituduhkan bagi suatu agama tertentu adalah fitnah keji. Jikapun pelakunya mencirikan umat Islam, dipastikan mereka adalah orang yang sudah termakan propaganda jahat dan sesat. Sebab, sudah jamak diketahui bahwa tak satu pun agama di dunia yang membenarkan hal tersebut.

Wallahualam bis Showab.

Penulis: Dr. Suryani Syahrir, ST, MT (Dosen dan Pemerhati Sosial)