OPINI—Dalam upaya mencapai pembangunan yang berkualitas, masalah kemiskinan nampaknya masih menjadi tantangan yang tidak mudah dihadapi. Terkait kemiskinan, kelompok usia yang paling rentan terkena imbas dari kemiskinan adalah anak-anak.
Padahal, anak dalam hal ini adalah bagian dari sumber daya yang perlu disiapkan untuk berperan aktif dalam pembangunan. Namun, kemiskinan akan menyebabkan anak tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Seorang anak yang hidup dalam jurang kemiskinan akan beresiko mengalami deprivasi atau kekurangan pada banyak aspek dasar misalnya kekurangan nutrisi pada usia balita sehingga berpotensi mengalami stunting.
Patut disyukuri, hal ini telah disadari oleh pemerintah yang dalam beberapa tahun ini serius memperhatikan aspek kesejahteraan anak misalnya dengan upaya-upaya penurunan angka stunting.
Meskipun demikian, paradigma kebijakan sejatinya tidak hanya berfokus pada penurunan angka stunting saja, tapi lebih jauh lagi memastikan bahwa setiap anak dapat menikmati hak-hak dasar sehingga dapat tumbuh secara optimal.
Di Indonesia, Fenomena kemiskinan anak nampaknya terjadi di semua daerah, tidak terkecuali di Provinsi Sulawesi Selatan. Beberapa poin catatan yang perlu menjadi bahan diskusi diantaranya,
Persentase anak miskin di Sulawesi Selatan lebih tinggi ketimbang persentase penduduk miskin secara umum
Pada akhir 2023 yang lalu, Badan Pusat Statistik merilis publikasi tentang analisis kemiskinan anak moneter tahun 2022. Dalam publikasi tersebut, persentase anak miskin Sulawesi Selatan pada maret 2022 tercatat sebesar 10,89 persen. Angka tersebut lebih tinggi ketimbang persentase penduduk miskin pada periode yang sama yaitu sebesar 8,63 persen.
Pasca pandemi Covid-19, penurunan angka anak miskin nampak lebih kecil dibandingkan penurunan kemiskinan secara umum. Ini menjadi indikasi, seperti yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa anak adalah kelompok penduduk yang rentan terkena imbas dari kemiskinan.
Mengentaskan kemiskinan anak, strategi keluar dari jebakan kemiskinan antar generasi
Anak yang tinggal dalam jurang kemiskinan, akan beresiko mengalami deprivasi terhadap hak-hak dasarnya misalnya pada aspek kesehatan, pendidikan, dan lainnya.
Satu hal yang ditakutkan adalah bahwa dimasa mendatang anak tersebut akan kesulitan berdaya saing sehingga tidak mampu mendapatkan pendapatan yang cukup dan akan masuk kedalam jurang kemiskinan lagi.
Studi oleh SMERU Research Institute pada tahun 2020 menyebutkan bahwa anak yang terlahir miskin memiliki penghasilan lebih rendah 87 persen dibanding anak yang terlahir tidak miskin.
Kecenderungan ini yang harus menjadi catatan penting, bagaimana mengentaskan kemiskinan anak adalah upaya utama untuk menghindari jebakan kemiskinan antar generasi.
BPS dalam publikasinya menyebutkan bahwa karakteristik anak yang memiliki resiko miskin lebih tinggi antara lain anak yang tinggal dalam rumah tangga dengan jumlah anggota rumah tangga besar, anak yang memiliki kepala rumah tangga berpendidikan rendah, dan anak yang memilik kepala rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian.
Meskipun indikasi tersebut bersifat umum untuk seluruh wilayah Indonesia, namun juga bisa dijadikan acuan sebagai gambaran anak miskin di Sulawesi Selatan. Hal ini perlu diwaspadai mengingat tenaga kerja di Sulawesi Selatan didominasi oleh tenaga kerja berpendidikan SD kebawah berdasarkan catatan BPS.
Selain itu, dari share kue ekonomi PDRB, sebesar 21 persen kue ekonomi Sulawesi Selatan diciptakan dari nilai tambah sektor pertanian. Artinya, resiko anak miskin di Sulawesi Selatan patut menjadi perhatian sehingga pengentasan kemiskinan dimasa mendatang dapat berjalan secara efektif.
Menanti pelaksanaan program makan siang gratis
Jika tidak ada halangan, presiden dan wakil presiden terpilih 2024 memiliki program yang popular selama masa kampanye yaitu makan siang gratis yang tentu akan sangat dinantikan realisasinya.
Pasalnya, program ini digadang-gadang memiliki manfaat untuk pengentasan stunting dan tentu peningkatan gizi bagi penerima manfaat. Dalam kaitannya dengan kemiskinan anak, program ini sangat layak untuk ditunggu.
Sebagaimana diketahui, anak miskin dalam konsep kemiskinan moneter didasarkan pada belum terpenuhinya kebutuhan dasar (basic needs) baik makanan maupun bukan makanan.
Artinya, ketika anak miskin dapat menikmati makan siang gratis, maka akan meningkatkan jumlah kalori yang dikonsumsi. Program makan siang gratis, menurut hemat saya patut direalisasikan dengan baik dan tentu dengan mempertimbangkan potensi kendala dan efektifitas sehingga program tersebut dapat tepat sasaran.
Sebagai konklusi, pengentasan kemiskinan anak sebaiknya menjadi isu yang harus dikedepankan dalam rangka pengentasan kemiskinan secara umum. Jika kemiskinan anak tidak diatasi, maka akan menjadi ancaman serius bagi pembangunan dimasa mendatang.
Untuk itu, selain berfokus pada program penurunan angka stunting, secara bersamaan juga diperlukan langkah strategis untuk pengentasan kemiskinan anak. Sehingga anak yang tumbuh optimal dapat menjadi sumber daya yang berkualitas dan menjadi aktor utama pembangunan dimasa mendatang. (*)
Penulis:
Ikhsan Margo
(ASN BPS Jeneponto/Pengamat Sosial)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.












