Dalam Islam, remaja berekspresi tentu saja adalah suatu hal yang positif. Namun, tentu saja berekspresinya dalam batasan syariat Islam. Aturan dari Allah ini bukan untuk menyiksa kita, melainkan untuk memberikan arah dan pedoman supaya berada di jalan yang lurus dalam kehidupan.
Bentuk ekspresi remaja yang susuai dengan syariat, apalagi yang menyangkut remaja yang hidup di masa milenial ini yang semua serba teknologi, media sosial, dan instagramable, misalnya jadi youtuber dan blogger, maka mesti memaksimalkan potensi yang dimilikinya.
Seperti, membuat konten yang bermanfaat yang bermanfaat yang akan semakin mendekatkan siapa pun yang melihatnya untuk taat kepada Allah. Atau dengan kata lain, konten yang mengajak kepada amar makruf nahi mungkar ataupun konten yang memotivasi remaja agar mau menuntut ilmu dan lain-lain sebagainya.
Agar remaja paham dan sadar akan potensi- potensi yang dimilikinya, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Pertama, akidahnya harus dikokohkan. Karena posisi akidah Islam ibarat akar dari sebuah pohon atau pondasi dari sebuah bangunan. Kuat lemahnya akar (pondasi) akan sangat berpengaruh pada kuat lemahnya pohon dan bangunan di atasnya.
Ketika akidahnya benar, maka mereka akan memahami bahwa ia hamba dari Penciptanya, sehingga mereka harus menjalani kehidupan ini dalam rangka beribadah kepada-Nya, dan kelak mereka akan dikembalikan kepada Penciptanya untuk mempertanggungjawabkan. Bagaimana penampilan mereka dalam menjalani kehidupan ini.
Kedua, remaja juga harus punya kesadaran untuk terikat pada aturan-aturanNya sebagai konsekuensi keimanan mereka. Agar saat menjalani kehidupan ini semata-mata mereka sadar dan takut akan azab-Nya.













