OPINI—Jagat media sosial kembali diguncang. Seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, dikeroyok oleh murid-muridnya sendiri. Guru bernama Agus Saputra itu bahkan sampai melapor resmi ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi pada Rabu, 14 Januari 2026 (Serambinews.com, 15 Januari 2026).
Peristiwa ini bukan hanya tragedi individual. Ia adalah alarm keras tentang rapuhnya hubungan guru dan murid dalam dunia pendidikan hari ini. Di ruang yang seharusnya menjadi tempat menanam adab dan ilmu, justru tumbuh kebencian, amarah, dan kekerasan.
Ironisnya, kekerasan tidak hanya bergerak satu arah. Kasus murid menganiaya guru seolah bersaing dengan kasus guru yang melukai murid. Pada September 2025, publik dikejutkan oleh tewasnya seorang siswa akibat penganiayaan guru, sementara pelaku hanya dijerat pasal perlindungan anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun (Antaranews.com, 13 Oktober 2025).
Belum lagi praktik perundungan yang makin menggurita. Semua ini menyingkap satu kenyataan pahit: dunia pendidikan kita sedang mengalami krisis nilai.
Sistem Sekuler dan Matinya Adab
Generasi yang lahir hari ini tumbuh di bawah sistem pendidikan sekuler yang menjauhkan iman dari kehidupan. Akibatnya, adab kehilangan makna, emosi mudah meledak, dan hormat kepada guru menjadi barang langka.
Di ruang kelas, guru tak lagi dipandang sebagai pendidik yang harus dimuliakan, melainkan sekadar “pekerja” yang bisa dilawan. Nasihat dianggap hinaan. Teguran dipersepsi sebagai serangan. Maka, ketika ego lebih dominan daripada akhlak, kekerasan pun menjadi jalan keluar.
Di sisi lain, maraknya guru melakukan kekerasan juga menunjukkan kegagalan sistemik. Guru dibebani administrasi, target, dan tekanan birokrasi. Orang tua pun banyak yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah tanpa pendampingan. Negara absen dalam menjamin sistem pendidikan yang benar-benar membentuk kepribadian.
Di tengah kekosongan itu, iman terpinggirkan. Islam hanya tinggal ritual, bukan pedoman hidup. Rukun iman dihafal, tetapi tidak membentuk karakter. Rukun Islam dijalankan, tetapi tidak melahirkan akhlak.
Tujuan Pendidikan yang Terasing dari Realitas
Padahal, konstitusi negeri ini menetapkan tujuan pendidikan yang luhur. UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 menegaskan bahwa pendidikan harus melahirkan manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.
Namun, realitas justru berkata lain. Kekerasan, perundungan, dan dekadensi moral menjadi pemandangan rutin. Kurikulum silih berganti, jargon pendidikan karakter dikumandangkan, tetapi kerusakan terus terjadi. Ini membuktikan bahwa yang diubah hanya kulitnya, bukan akar masalahnya.
Sistem pendidikan sekuler-kapitalistik memang tidak dirancang untuk melahirkan manusia beriman. Ia hanya mengejar angka, nilai, dan prestasi materi. Pendidikan agama diberi porsi minimal, sekadar dua jam seminggu, seakan iman tidak penting dalam membentuk manusia.
Islam dan Peradaban Pendidikan
Berbeda dengan Islam. Dalam sejarahnya, Islam membangun peradaban melalui pendidikan yang menyatukan iman dan ilmu.
Dari sistem itu lahir Al-Khawarizmi, perintis aljabar; Jabir bin Hayyan, pelopor ilmu kimia; Ibnu Sina, bapak kedokteran; Ibnu Rusyd, Al-Farabi, dan banyak lagi. Mereka bukan hanya ulama, tetapi juga ilmuwan yang membangun peradaban dunia.
Semua itu lahir karena pendidikan Islam memiliki visi yang jelas: membentuk manusia berkepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah), cerdas, berakhlak, dan bertakwa.
Dengan kurikulum berbasis akidah, ditopang sistem ekonomi yang adil serta kebijakan yang bersumber dari syariat, negara mampu menjamin pendidikan gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat.
Negara tidak hanya mengatur sekolah, tetapi juga membangun lingkungan sosial yang menjaga moral. Orang tua pun dibekali pemahaman Islam secara kafah sehingga pendidikan di rumah dan sekolah berjalan seiring.
Menutup Luka Pendidikan
Selama pendidikan masih berdiri di atas fondasi sekuler, luka-luka ini akan terus terbuka. Guru dan murid akan tetap saling menyakiti.
Namun, ketika Islam kembali dijadikan fondasi, pendidikan tidak lagi sekadar memindahkan ilmu, melainkan membentuk manusia. Di sanalah lahir generasi yang cerdas pikirannya, lembut akhlaknya, dan kuat imannya. (*)
Wallahu a‘lam.
Penulis:
Ulfiah
(Aktivis Remaja Muslim)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.



















