Menjadikan iman generasi terpisah dari aturan-Nya, atau memisahkan aturan-Nya dari kehidupan yang mereka jalani, justru akan menjatuhkan mereka pada kehancuran dan kerusakan. Disinilah pentingnya menanamkan kesadaran pada generasi milenial agar terikat dengan aturan-aturan Allah.
Ketiga, lingkungan (masyarakat) juga harus kondusif untuk tumbuh kembang anak agar terbentuk kepribadian Islam pada mereka. Lingkungan yang penuh suasana keimanan dan amar makruf nahi munkar di tengah-tengah akan memudahkan mereka untuk tetap istikamah dalam ketaatan dan segera diluruskan saat mulai melakukan penyelewengan atau keluar dari koridor aturan-Nya.
Keempat, negara. Yakni keberadaan negara yang berkarakter ra’in (pemelihara) dan junnah (perisai pelindung) bagi rakyatnya, dengan penerapan kebijakan dan peraturan yang benar sesuai tuntunan-Nya.
Negara semacam ini akan melindungi generasi dari berbagai pemikiran yang merusak dan aktivitas-aktivitas unfaedah yang justru menjauhkan mereka dari identitasnya sebagai seorang muslim.
Disamping itu, negara semacam ini juga akan sanggup mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat dan generasi. Mendesain kurikulum terintegrasi untuk mewujudkan profil kepribadian Islam generasi dan menjauhkan generasi dari pemikiran sekuler liberal ini, hingga menjatuhkan hukuman berat yang setimpal kepada para pelaku yang merusak generasi.
Selain itu, pelaku yang bertanggung jawab atas kualitas generasi, bukan hanya menjadi tanggung jawab sang anak itu sendiri. Akan tetapi juga orang tua, sekolah, masyarakat dan negara. Oleh karena, semua harus menjalankan fungsinya masing-masing dan saling bersinergi dalam mewujudkan profil generasi muslim yang berkepribadian Islam.
Karena generasi hari ini adalah aset masa depan. Maka, menyelamatkan generasi dari berbagai perilaku yang merusak adalah kewajiban kita sebagai manusia. Agar terwujud generasi berkepribadian Islam yang bertugas melanjutkan nilai-nilai kebaikan yang ada, serta sebagai pembangunan peradaban. Dan semua ini hanya akan terwujud manakala kembali berhukum pada hukum-hukum-Nya. Wallahu a’lam. (*)
Penulis: Ulfiah (Penggiat Literasi)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













