OPINI—Konflik di Timur Tengah tak lagi bisa dibaca sebagai perang kawasan semata. Ia telah menjelma menjadi krisis global yang saling terhubung. Laporan CNBC Indonesia (22 Maret 2026) mencatat eskalasi yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini merembet ke berbagai titik strategis—Irak, kawasan Teluk, hingga sekitar Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Dampaknya tak berhenti pada aspek militer. Serangan balasan Iran, sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia (19 Maret 2026), turut menghantam wilayah sipil, termasuk Palestina. Korban jiwa terus bertambah, menandakan perang telah melampaui target militer.
Di saat bersamaan, sektor energi global mulai terguncang. Gangguan produksi LNG di Qatar (CNBC Indonesia, 22 Maret 2026) menjadi sinyal ancaman krisis energi dunia. Efek berantai juga merambah sektor pangan.
Mengutip World Food Programme (WFP), CNBC Indonesia (21 Maret 2026) memperingatkan hingga 45 juta orang berpotensi terdorong ke ambang kelaparan akibat terganggunya distribusi dan lonjakan harga.
Dengan kata lain, konflik Timur Tengah tak lagi menghancurkan wilayahnya sendiri. Dunia ikut menanggung dampaknya.
Jika ditarik ke belakang, pola ini bukan hal baru. Sejak runtuhnya Khilafah Utsmaniyah dan pembagian wilayah melalui Perjanjian Sykes-Picot, kawasan ini terus berada dalam lingkaran yang sama: dipecah, diintervensi, dan dijaga dalam ketidakstabilan.
Perebutan Kepentingan Global
Timur Tengah bukan sekadar medan konflik, melainkan pusat kepentingan global. Hampir setengah cadangan minyak dunia berada di kawasan ini. Tak heran jika konflik di sini tak pernah benar-benar usai, ketidakstabilan justru membuka ruang kontrol atas sumber daya.
Secara geopolitik, kawasan ini juga sangat strategis. Jalur vital seperti Selat Hormuz (yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia) menjadi titik kunci. Siapa yang menguasainya, memegang pengaruh besar terhadap ekonomi global.
Dalam situasi seperti ini, konflik bukan sekadar akibat, melainkan instrumen. Ia menjadi alat untuk menjaga dominasi dan memperluas pengaruh.
Kolonialisme Biodigital: Wajah Baru Penjajahan
Di balik eskalasi konflik, terdapat pergeseran mendasar yang kerap luput dari perhatian. Perebutan tak lagi hanya soal wilayah fisik, tetapi telah masuk ke level sistem kehidupan. Inilah yang dapat disebut sebagai kolonialisme biodigital.
Jika kolonialisme klasik menguasai tanah dan sumber daya, kolonialisme modern bekerja dengan mengendalikan sistem: data, teknologi, energi, hingga pangan. Yang diperebutkan bukan lagi sekadar wilayah, melainkan kendali atas cara hidup manusia.
Konflik Timur Tengah memperlihatkan pola ini. Serangan tidak hanya menyasar militer, tetapi juga infrastruktur vital (energi dan distribusi). Gangguan LNG di Qatar, misalnya, bukan sekadar pukulan ekonomi, melainkan gangguan terhadap sistem energi global.
Ketergantungan pada teknologi global semakin memperkuat pola ini. Infrastruktur komunikasi, data, hingga platform informasi banyak dikuasai pihak luar. Kontrol tak lagi hadir dalam bentuk senjata, melainkan melalui algoritma dan arus informasi.
Akibatnya, narasi dapat diarahkan, opini dibentuk, bahkan cara memahami realitas ikut dipengaruhi. Kolonialisme menjadi lebih halus, namun sekaligus lebih dalam.
Kontrol terhadap pangan dan energi memperparah keadaan. Ketika distribusi terganggu, negara yang bergantung langsung terdampak. Tak ada paksaan terbuka, tetapi tercipta ketidakberdayaan. Inilah wajah penjajahan modern.
Dampak terhadap Dunia Islam
Dampak bagi dunia Islam terjadi pada dua lapisan sekaligus: yang terlihat dan yang tersembunyi.
Di permukaan, kehancuran fisik terus berlangsung di Palestina, Suriah, dan Yaman. Namun di lapisan lain, umat kehilangan kendali atas sistem yang menopang kehidupan (ekonomi, teknologi, hingga informasi).
Ketergantungan pada teknologi global menempatkan umat sebatas pengguna, bukan pengendali. Informasi yang diterima, isu yang dibahas, hingga cara memahami realitas dapat diarahkan dari luar.
Hal serupa terjadi pada sektor pangan dan energi. Ketika distribusi global terganggu, negeri-negeri Muslim langsung merasakan dampaknya. Dalam kondisi ini, kemandirian melemah dan keputusan sulit benar-benar bebas.
Yang lebih mengkhawatirkan, situasi ini tidak selalu terasa sebagai bentuk penjajahan. Ia hadir dalam kemasan kemudahan dan kenyamanan, sementara kontrol bekerja secara perlahan membentuk arah kehidupan.
Kegagalan Sistem Saat Ini
Mengapa kondisi ini terus berulang?
Akar persoalannya terletak pada sistem. Dunia Islam saat ini berada dalam kerangka sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, hukum dan kebijakan ditentukan oleh kepentingan manusia, bukan prinsip yang tetap.
Dalam sistem seperti ini, keadilan bukan orientasi utama. Relasi global berjalan dengan logika kekuatan: yang kuat mendominasi, yang lemah mengikuti.
Sistem negara-bangsa semakin memperparah kondisi. Umat terpecah, kehilangan kekuatan kolektif, dan mudah didominasi.
Di era kolonialisme biodigital, kelemahan ini semakin nyata. Banyak negeri Muslim hanya menjadi pengguna teknologi, bukan pengendali. Artinya, kedaulatan tidak sepenuhnya dimiliki.
Urgensi Sistem Islam sebagai Solusi
Realitas ini menunjukkan bahwa persoalan bersifat sistemik, sehingga solusi pun harus sistemik.
Islam tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga mencakup politik, ekonomi, dan hubungan internasional. Dalam kerangka ini, kedaulatan hukum, pengelolaan sumber daya, dan arah kebijakan berada dalam satu kesatuan.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka…” (QS. Al-Ma’idah: 49)
Selama sistem yang ada dipertahankan, dominasi dan ketergantungan akan terus berlangsung—meski dalam bentuk yang berubah, termasuk kolonialisme biodigital.
Sebaliknya, penerapan sistem Islam secara menyeluruh dipandang mampu memutus akar ketergantungan tersebut. Umat tidak lagi menjadi objek, melainkan kembali menjadi subjek yang berdaulat atas hukum, sumber daya, dan arah kebijakan.
Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam Mafahim Siyasiyah menegaskan bahwa dominasi negara kuat akan terus berlangsung selama tidak ada kekuatan yang mandiri dan berdaulat. Tanpa perubahan sistem, ketergantungan akan terus berulang.
Penutup
Konflik Timur Tengah bukan sekadar perang terbuka, melainkan bagian dari mekanisme global yang mempertahankan dominasi.
Kolonialisme tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya bertransformasi, menjadi lebih halus, lebih canggih, dan lebih dalam.
Selama sistem yang sama dipertahankan, konflik akan terus diproduksi.
Pertanyaannya kini sederhana: apakah umat akan terus berada dalam lingkaran ini, atau mulai mencari jalan untuk keluar darinya?. (*)

Penulis:
Eka Purnama Sary, S.Pd
(Penggerak Mammesa Pammase)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.












