OPINI – Dari hari ke hari peningkatan kasus Covid-19 semakin mengkhawatirkan. Ya, penyakit baru ini mewabah dengan cepat ke seluruh dunia.

Bermula dari Wuhan-Cina, virus ini telah menjadi teror masyarakat dunia. Akibatnya puluhan juta warga di beberapa negara saat ini tidak lagi bebas melakukan aktivitas diluar pasca pemberlakukan lockdown.

Sebanyak 13 Negara telah memberlakukan lockdown, yaitu China, Italia, Polandia, El Salvador, Irlandia, Spanyol, Denmark, Filipina, Lebanon, Prancis, Belgia, Selandia Baru, dan Malaysia. Lantas bagaimana dengan Indonesia?

Kita ketahui hingga saat ini pemerintah Indonesia masih nggan memilih opsi lockdown untuk menekan penyebaran virus corona, tentu dengan pertimbangan bahwa perekonomian akan lumpuh.

Dilansir dari finance.detik.com, Deputy Director Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai, pemerintah tak mengambil kebijakan itu menimbang aspek ekonomi.

Menurutnya, dengan adanya virus corona, ekonomi Indonesia pasti melambat. Namun, kata dia, pemerintah berupaya menjaga agar penurunannya tidak tajam.

“Saya rasa pertimbangan utama pemerintah aspek ekonomi dalam konteks saat ini kan kalau turun ekonominya pasti turun, mungkin yang mau dijaga kemampuan masyarakat untuk tetap bisa mengkonsumsi dengan normal, secara walaupun mulai dibatasi akses transportasi publik, mulai diterapkan sosial distancing, jaga jarak,” kata dia kepada detikcom, Minggu (22/3/2020).

Menurutnya, pemerintah meyakini langkah yang ditempuh mampu menghalau corona. Sehingga kebijakan lockdown belum ditempuh.

Munculnya ide herd Immunity

Sejak pemerintah Indonesia mengumumkan adanya kasus corona pada 2 Maret 2020. Dengan waktu yang singkat wabah corona merebak di beberapa wilayah tanah air hingga sejumlah pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan bekerja dari rumah dan menutup sekolah selama dua pekan.

Sebagai pencegahan penyebaran Corona Covid-19, masyarakat pun diimbau untuk selalu memperhatikan social distancing atau pembatasan interaksi dengan disiplin.

Namun akhir-akhir ini muncul ide baru sebagai solusi untuk mengatasi virus covid-19 ini, yaitu membentuk herd immunity. Apa itu herd immunity? Herd immunity adalah kekebalan kelompok dengan asumsi data global fatality rate virus ini “hanya 3%“.

Sebelumnya Herd immunity sempat akan diterapkan di Inggris. Namun para ilmuwan banyak yang mengajukan penolakan dan melakukan petisi menolak kebijakan ini, seraya menekan pemerintah untuk segera bertindak.

Sebanyak 501 saintis menandatangani petisi untuk mendesak pemerintah melakukan social distancing ketika isu pembiaran wabah demi herd immunity alami bergulir.

Lalu bagaimana jika ide berbahaya ini diterapkan di Indonesia? Sekarang coba kita hitung secara matematis. Dengan melihat data statistik, jumlah penduduk Indonesia 270 juta.

Berarti untuk membentuk herd immunity butuh 70% x 270 juta = 189 juta jiwa minimal harus terinfeksi virus ini.

Dari 189 juta jiwa, berarti ada 3% yang meninggal dunia, yaitu sekitar 3% x 189 juta = 5.670.000 orang “harus dikorbankan” untuk meninggal. Ini jumlah yang sangat besar. Jadi jangan cuma dilihat dari angka 3% saja.

Ada yang berpendapat, Indonesia ini mempunyai bonus demografi, dimana jumlah mayoritas penduduk adalah usia produktif atau masih muda.

Maka kalau dilihat dari resiko terpapar virus covid-19 ini, usia muda itu lebih cepat sembuh dan bisa terbentuk imun. Lantas siapa yang mau dikorbankan?

Bisa jadi munculnya ide ini setelah menilai berbagai kemungkinan ketika solusi lockdown diambil. Tindakan lockdown di suatu wilayah akan berdampak serius pada wilayah tersebut.

Selain itu Negara juga tidak siap karena memutuskan lockdown akan membutuhkan pembiayaan yang sangat besar. Perekonomian menjadi colaps.

Dilema Lockdown

Ditengah penyebaran virus yang semakin tak terkendali, mengapa pemerintah Indonesia masih belum mengambil opsi lockdown?

Apakah pemerintah lebih mencemaskan perekonomian yang colaps dibanding keselamatan rakyatnya?

Menurut pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menegaskan sudah saatnya pemerintah melakukan lockdown.

Saat ini kesehatan dan keselamatan masyarakat sangat penting, dia menilai dengan lockdown justru virus corona dapat lebih mudah ditangani.

“Harusnya di-lockdown, saya setuju karena akan lebih cepat diselesaikan karena orang yang terjangkit nggak keluyuran, jadi nggak cepat menyebar,” ungkap Agus kepada detikcom, Jumat (20/3/2020).

Mengenai dampaknya ke perekonomian, Agus berpendapat jangan dulu melihat ke arah sana karena pemulihan negara dari virus corona harus diprioritaskan.

“Mau ekonomi gimana juga semua hancur, konsentrasi saja ke pemulihan ini. Coba lah dihitung, ada atau tidak lockdown berapa banyak kerugiannya? Sama-sama mahal, malah lebih mahal kalau nggak ada lockdown,” kata Agus.

Sungguh amat disayangkan, lambatnya penetapan status dan penyerahan langkah tindak pada masing-masing daerah terbukti membuat warga terjangkit covid meningkat berlipatganda.

Jumlah korban terinfeksi terus bertambah, namun pemerintah belum mengambil langkah serius untuk makukan lockdown. Padahal sebenarnya jika mau lebih serius lagi, lockdown ini solusi yang bukan tidak mungkin untuk dilakukan.

Dibutuhkan ketegasan dan keberberanian dalam mengambil risiko untuk mengeluarkan dana demi kepentingan masyarakat.

Lockdown tak mustahil untuk dilakukan Asalkan optimis, pasti bisa dilakukan. Jangan mengorbankan nyawa rakyat, demi mengkhawatirkan perekonomian yang colaps, apalagi sampai mengambil opsi herd immunity.

Sungguh akan sangat mengerikan bila tindakan herd immunity ini dilakukan. Maka sangat perlu pemerintah bertindak cepat mengambil opsi lockdown secara efektif, tentunya harus dibarengi dengan menjamin kebutuhan pokok warga negara.

Lockdown dalam Pandangan Islam

Strategi lockdown sebenarnya telah disyari’atkan dalam Islam. Sebagaimana dahulu pernah dilakukan ketika ada wabah penyakit.

Sebagaimana Nabi Sallāllāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Jika kau mendengar tentang wabah (thā’ūn) di suatu daerah maka jangan mendatangi daerah itu. Namun jika wabah tersebut menimpa daerah tempat tinggalmu maka janganlah keluar darinya.” [HR al-Bukhārĩ dalam Ṣaḥīḥ-nya no. 5396, dan Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya no. 2218.]

Dikutip dalam buku berjudul ‘Rahasia Sehat Ala Rasulullah SAW: Belajar Hidup Melalui Hadith-hadith Nabi’ oleh Nabil Thawil, di zaman Rasulullah SAW jikalau ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus, jauh dari pemukiman penduduk.

Tha’un sebagaimana disabdakan Rasulullah saw adalah wabah penyakit menular yang mematikan, penyebabnya berasal dari bakteri Pasterella Pestis yang menyerang tubuh manusia.

Jika umat muslim menghadapi hal ini, dalam sebuah hadits disebutkan janji surga dan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar ketika menghadapi wabah penyakit.

“Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya). (HR Bukhari)

Selain Rasulullah, di zaman khalifah Umar bin Khattab juga ada wabah penyakit. Dalam sebuah hadist diceritakan, Umar sedang dalam perjalanan ke Syam lalu ia mendapatkan kabar tentang wabah penyakit.

Hadist yang dinarasikan Abdullah bin ‘Amir mengatakan, Umar kemudian tidak melanjutkan perjalanan. Berikut haditsnya: “Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilah bernama Sargh.

Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhori).

Dari Fakta sejarah tersebut seharusnya pemerintah dapat mengambil pelajaran bahwa keselamatan rakyat adalah hal utama. Dalam sistem Islam, keselamatan dan nyawa masyarakat tak dapat diukur oleh apapun.

Maka tugas negara sejatinya adalah mementingkan keselamatan dan kemaslahantan rakyatnya sebagaimana yang pernah dilakukan oleh khalifah umar bin khattab dalam menangani wabah pada waktu itu.

Rakyat dalam wilayah yang terkena wabah akan dilarang untuk keluar wilayah. Begitupun rakyat yang berada diluar dilarang untuk masuk dalam wilayah wabah. Allahu a’lam bishawab (*)

Penulis: St.Nurwahyu (Pegiat Opini & Pemerhati Sosial)