Ilusi Perdamaian
Berbicara masalah konflik Israel dan Palestina tidak lepas dari pembicaraan antara yahudi dengan Islam. Islam dan Yahudi memiliki sejarah yang sangat panjang. Kisahnya pun diabadikan di dalam Al-Qur’an dan sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Yahudi adalah musuh nyata bagi umat Islam.
Hal ini sebagaimana yang tarcantum dalam Q.S Al- Maidah Ayat 82 yang artinya “Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.” Yang demikian itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan para rahib, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri.
Sejatinya perdamaian antara Israel dan Palestina ini tidak akan pernah terwujud terlebih jika diharapkan kepada sistem kapitalisme saat ini. Hal ini bisa kita lihat dari rentetan upaya yang telah dilakukan oleh PBB beserta para negara yang menjadi anggotanya yang tidak pernah berhasil justru menuai kegagalan. Bahkan upaya ini dilakukan hampir setengah abad yang lalu.
Terbukti pada tahun 2019 lalu, Donal Trump selaku presiden AS mengajukan proposal perdamaian baru antara Israel dan Palestina yang dianggap sebagai” Kesepakatan Abad ini”. Proposal tersebut fokus pada peningkatan perekonomian negara Arab, termasuk Palestina. Namun, dalam proposal damai itu, solusi pembentukan dua negara yang selama ini menjadi standar proses perdamaian Israel-Palestina yang diakui komunitas internasional tidak tercantum.
Terakhir pada tahun ini dibuat pula kesepakatan dengan tujuan yang sama yakni mewujudkan perdamaian diantara keduanya (Israel- Palestina). Kesepakatan perdamaian ini berlangsun pada 19-3-2023, dalam hal ini Mesir menjadi tuan rumah bagi pertemuan pejabat Israel dan Palestina di Kota Sharm el-Sheikh.
Pertemuan itu merupakan bagian dari upaya meredakan ketegangan di Tepi Barat menjelang Ramadan. Upaya Mesir ini didukung oleh Yordania dan dikoordinasikan oleh Amerika Serikat melalui pertemuan puncak lima negara pada 26-2-2023 di Yordania.
Namun, sayang nya upaya yang dilakukan sia sia. Karena, pada kenyataannya penyerangan kembali dilakukan oleh Israel terhadap palestina pada bulan Ramadan. Dan serangan tersebut cukup membuktikan bahwa berbagai diplomasi melalui pertemuan antarnegara dan kesepakatan yang dihasilkannya hanyalah “Ilusi” belaka.
Semuanya gagal memaksa Israel untuk berhenti melakukan serangan. Nasib kesepakatan itu sama saja dengan rentetan resolusi Dewan Keamanan PBB untuk Palestina. Semuanya berujung pada kegagalan dan Israel tetap melakukan serangan, lagi dan lagi. Hal ini semestinya membuka mata dunia bahwa Israel tidak mengenal kata “damai” dalam kamus mereka.
Sejak awal berdirinya, mereka memang bertujuan menguasai wilayah Palestina seluruhnya. Israel merasa tidak memiliki kesamaan dengan negeri-negeri muslim dan bertindak seolah-olah sebagai pewaris tunggal tanah Palestina. Mereka tidak mau menyerahkan sejengkal pun tanah yang mereka rampas. Tidak ada niatan mereka untuk berbagi wilayah dengan muslim Palestina sebagaimana yang dikoar-koarkan dengan istilah “solusi dua negara” oleh Amerika Serikat.
Berkaca Dari Sultan Abdul Hamid II
Jauh sebelum hari ini zionis yahudi (Israel) telah melakukan upaya untuk memiliki tanah Palestina, Yerusalem (baitul maqdis) secara utuh melalui tangan Theodor Hezl. Hal itu terjadi ketika tanah palestina masih berada dalam kekuasaan Sultan Abdul Hamid II yaitu pada masa Kepemimpinan Turki Utsmaniyyah. Theodore Herzl, tokoh Zionis Yahudi saat itu yang sering dijuluki juga sebagai ‘the father of modern Zionism’, pada tahun 1902 datang kepada Sultan Abdul Hamid II dan menyodorkan sejumlah tawaran.
Tawaran yang diberikan ini bukan main-main. Pertama adalah paket hadiah sebesar 150 juta poundsterling untuk pribadi Sultan. Uang itu setara dengan Rp3 triliun sekarang ini, mengacukurs Rp20.001 per poundsterling.
Selain itu, akan dibayarkan semua utang pemerintah Turki Utsmani yang saat itu mencapai 33 juta poundsterling, akan dibuatkan kapal induk untuk menjaga pertahanan pemerintahan Utsmani senilai 120 juta frank, akan diberikan pinjaman tanpa bunga sebesar 35 juta poundsterling dan akan dibangunkan sebuah universitas Utsmani di Palestina.
Tetapi, tawaran menggiurkan delegasi Yahudi itu ditolak oleh Sultan Abdul Hamid II. Melalui perdana menterinya, Tahsin Basya, Sultan menyampaikan pesan, sebagai berikut:
“Nasehati Mr. Herzl, agar dia tidak terlalu serius menanggapi masalah ini. Sesungguhnya, saya tidak sanggup melepaskan kendati hanya satu jengkal tanah Palestina, sebab ini bukan milik pribadiku, tetapi milik rakyat. Rakyatku telah berjuang untuk memperolehnya sehingga mereka siram dengan darah mereka. Silahkan Yahudi itu menyimpan kekayaan mereka yang milyaran itu. Bila pemerintahanku ini tercabik-cabik, saat itu baru mereka dapat menduduki Palestina dengan gratis. Adapun jika saya masih hidup, maka tubuhku terpotong-potong adalah lebih ringan ketimbang Palestina terlepas dari pemerintahanku.”
Dari kisah ini harusnya para pemimpin negeri negeri muslim bisa belajar bagaimana seharusnya bersikap dihadapan para zionis.
Bahwasanya harusnya sebagai pemimpin mampu bersikap tegas untuk membebaskan palestina dari penjajahan dan tidak cukup hanya sekedar memberikan kecaman.
Sebab, tanah palestina adalah milik kaum muslim dan termasuk didalamnya Baitul Maqdis yang merupakan kiblat pertama kaum muslim. Wallahu’A’lam. (*/4dv)
Penulis: Satriah Ummu Aulia (Pengurus MT Mar’Atul Mutmainnah)
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













