OPINI – Belum hilang dari ingatan derita saudara muslim Uighur, di Turkistan Timur (Xinjiang) beberapa waktu lalu. Hingga mendorong adanya àksi soliďaritas kaum musĺim diberbagai wilayah di Indoñesia. Bahkan, di luar negeri diantaranya Jepang, Turki dan Australia.

Indonesia: Uighur dan Natuna
Nurmia Yasin, S.S, Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Makassar. (Foto: Pribadi)

Namun, saat gelombang protes disejumlah daerah. Justru sejumlah pejabat malah mempertontonkan kekompakannya dalam merespon derita Uighur.

Pejabat atas nama pemerintah begitu hati-hati dalam mengeluarkan pernyataan apalagi kecaman.

Peristiwa penyiksaan dan berbagai derita yang dialami muslim Uighur tak membuat membuat pemerintah berpaling dari pelukan China.

Walaupun darah terus mengalir dan korban berjatuhan tetap tidak membuat pemerintah segera ‘menceraikan’ China.

Seperti pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD menegaskan, sebagai umat muslim terusik dengan apa yang terjadi dengan suku Uighur di China.

Secara diplomasi, Indonesia telah memanggil duta besar China. Usai pertemuan itu, Mahfud menegaskan pemerintah Indonesia tak akan ikut campur. Dan menanyakan itulah bagian dari diplomasi yang dimaksud dengan diplomasi lunak (Merdeka, 28/12/19).

Hal serupa ditunjukkan pejabat lainnya, seperti Moeldoko bahwa pemerintah RI tidak ikut campur dalam urusan negara China mengatur dalam negeri. Itu prinsip-prinsip dalam standar hubungan internasional. (Merdeka, 28/12/19).

Jadi pejabat saat ini, sepakat dan kompak dalam merespon terkait Uighur. Ini mengisyaratkan betapa sulitnya pemerintah lepas dari jerat China.

Sejumlah kerja sama telah di ditandatangani dari utang atas nama investasi hingga proyek infrastruktur. Tak sedikit telah selesai dan selebihnya masih berjalan.

Inilah salah satu penyebab pemerintah sangat hati-hati merespon terkait Uighur. Mencoba menutup rapat-rapat mulut, telinga bahkan mungkin hati nurani mereka.

Derita yang dialami saudara muslim Uighur rupanya tidak membuat mereka ‘terenyuh’ hatinya. Tidak sama sekali. Mereka sangat paham konsekuensi tatkala berseberangan dengan China.

Segala bentuk kerjasama Indonesia-China siap untuk ‘dicancel’. Tentunya hal ini dianggap bahaya bagi penguasa dan pengusaha.

Jadilah Uighur semakin ditindas dan dilemahkan. Karena tak ada satupun negara di dunia ini termasuk Indonesia yang siap melindungi Uighur dari ancaman China.

Belum lepas diingatan ttg peńyiksaan China atas muslim Uighur. Kini, kita dihadapkan dg sikap ‘pongah’ China atas Indonesia.

Hubungan Indonesia dan China baru-baru ini memanas lantaran pelanggaran Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang dilakukan kapal Negeri Tirai Bambu di perairan Natuna, Kepulauan Riau (CNBC, 5/1/20).

Sebelumnya China telah melakukan pelanggaran terkait kegiatan penangkapan oleh nelayan asing (China). Melarang nelayan lokal melakukal hal yang sama di perairan Natuna diakhir tahun 2019 (CNBC, 5/1/20)

Belum tuntas permasalahan tersebut, memasuki tahun 2020, pelanggaran tetap dilakukan oleh China.

Terbaru, Komando Armada I Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut melaporkan kehadiran Coast Guard China di perbatasan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia di Laut Natuna Utara, Kamis (2/1/2020).

Coast Guard China mengawal beberapa kapal nelayan Negeri Tirai Bambu yang sedang melakukan aktivitas perikanan.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto serta Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan turut angkat bicara bahwa China tetaplah negara sahabat.

“Ya saya kira kita harus selesaikan dengan baik. Bagaimanapun China adalah negara sahabat,” kata Prabowo di Kantor Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Jumat (3/1/20) petang.

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meminta ketegangan dengan China karena masalah laut Natuna tak perlu dibesar-besarkan. Dia justru ingin Indonesia berintrospeksi dir, (CNBC, 5/1/20).

China disebut negara sahabat dan tak perlu dibesar-besarkan. Sungguh pernyataan yang menyakitkan hati sebagai anak bangsa dan sebagai muslim.

Mengamini pembantaian China terhadap muslimg Uighur dengan tak ingin ikut campur kebijakan China. Mengamini pencaplokan perairan Natuna dengan menamai negara sahabat yang tak perlu dipermasalahkan.

Sungguh, betapa tak berkutiknya Indonesia di hadapan China. Sehingga penyiksaan saudara muslim Uighur dan pencaplokan semena-mena China terhadap Natuna tak membuat Indonesia berbuat apa-apa. Sekalipun hanya sebuah ‘kecaman tapi manis’.

Inilah gambaran global kaum muslim di seluruh negeri-negeri di hadapan negara-negara imprealis-kapitalis seperti China dan AS.

Menjajah negeri muslim dengan mendudukinya atas nama terorisme yang berubah melawan radikalisme. Meraup kekayaan negeri-negeri muslim yang penuh berkah dengan alasan yang sama.

Hari ini, kita dapati negara dan bangsa yang dicintai mengalami keterpurukan yang menggurita. Bahkan dinegeri muslim lainnya, mengalami kondisi yang sama.

Penjajahan melalui fisik tak nampak walau pun tak dipungkiri ada dan nyata dipelupuk mata. Sepertiy Uighur, Rohingya, India, Pattani, dan Palestina.

Namun, tak kalah hebatnya penjajahan pemikiran merasuk dan membayangi setiap lini kehidupan umat muslim di seluruh dunia.

Ide liberalisme, kapitalisme, materialisme, individualisme dan hedonisme menjadi senjata barat untuk menyerang kaum muslim tanpa kita sadari.

Saat ini kita rindu dan membutuhkan pemimpin yang kuat. Kekuatannya digunakan untuk membela dan menjaga kehormatan umat muslim.

Pemimpin yang ditakuti oleh negara penjajah baik di asia atau barat. Dimana umat muslim ada di belakangnya. Tidak gentar dengan siapa pun dan negara manapun.

Seperti pemimpin kaum muslim kala itu, yakni , terjadi pada masa khalifah al-Mu’tashim Billah, khalifah kedelapan dinasti Abbasiyah.

Kota Amurriyah yang dikuasai oleh Romawi saat itu berhasil ditaklukkan oleh al-Mu’tashim.

Pada penyerangan itu sekitar 3.000 tentara Romawi tewas terbunuh dan sekitar 30.000 menjadi tawanan.

Dan di antara faktor yang mendorong penaklukan kota ini adalah karena adanya seorang wanita dari sebuah kota pesisir yang ditawan di sana.

Ia berseru, “Wahai Muhammad, wahai Mu’tashim!” Setelah informasi itu terdengar oleh khalifah, ia pun segera menunggang kudanya dan membawa bala tentara untuk menyelamatkan wanita tersebut plus menaklukkan kota tempat wanita itu ditawan.

Setelah berhasil menyelamatkan wanita tersebut al-Mu’tashim mengatakan, “Kupenuhi seruanmu, wahai wanita!”

Merindukan pemimpin yang membela muslim Uighur, lelakinya, wanitanya, anak-anaknnya dan nenek-kakeknya. Mempertahankan setiap wilayah kaum muslim meskipun sejengkal.

Pemimpin sekelas khalifah al-Mu’tashim Billah hanya terwujud dalam suatu institusi yang menerapkan sistem hidup yang benar. Institusi itu yakni Khilafah Islamiyah.

Khilafah yang dijanjikan Allah SWT dan kabar gembira Rasulullah SAW, seperti dalam sabdanya: …kemudian akan ada Khilafah diatas jalan kenabian, kemudian beliau terdiam (HR. Ahmad). Wallahu ‘allam bish-shawwab. [*]

Penulis: Nurmia Yasin, S.S (Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Makassar. Seorang Ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Sosial