Rusak dan Merusak
Sejarah historis telah membuktikan dahsyatnya azab bagi pelaku kaum Nabi Luth ini. Lalu, dalam peradaban manusia modern saat ini, berkembang dan terulang kembali kisah yang sangat dimurkai oleh Allah Swt tersebut.
Mengapa perbuatan yang sudah sangat jelas diharamkan dalam agama dan dilarang dalam aturan negara ini, masih terus berkembang? Bahkan mereka sudah berani pamer di depan publik dan tanpa malu-malu ingin diakui eksistensinya.
Aroma liberalisme sangat kental dalam perilaku LGBT. Berlindung di balik HAM adalah senjata pamungkasnya. Bebas mengekspresikan makna cinta dan rasa suka kepada siapapun. Nalar liarnya, mengutak-atik rasa dan pikirnya.
Padahal, rusak dan punahnya generasi adalah salah satu dampak langsung dari aktivitas ini. Belum lagi beragam penyakit berbahaya siap menerkam pelakunya. Begitulah gambaran lemah dan terbatasnya akal manusia plus support system yang melingkupi.
Beraneka fakta yang ada menegaskan bahwa kaum pelangi diduga kuat dimotori oleh pihak-pihak tertentu, dalam rangka pengrusakan generasi.
Dibuktikan pula turut andilnya berbagai platform media sosial mengkampanyekan dalam beragam bentuk. Fenomena yang begitu massif ini tentu saja butuh dana yang tidak sedikit dan rakyat menduga ada pihak yang sengaja mendanai.
Hal ini sesuatu yang wajar dalam alam demokrasi karena sistem yang diadopsi adalah sistem kapitalisme yang bersandar pada asas sekuler. Sistem yang menegasikan peran agama dalam berkehidupan. Kebebasan berekspresi dijamin dalam sistem ini, betapapun rusak dan bahayanya, tetap akan dilakoni. Naudzubillah!












