Potret Kepemimpinan Dalam Islam
Menggelontorkan dana besar untuk meraup simpatik dan elektabilitas politik di mata rakyat adalah hal yang tidak akan ditemukan di dalam islam.
Sementara di sisi politik demokrasi, mereka terus berlomba untuk meraih simpatik dengan cenderung menggunakan’ politik money’ sebagai jalan lempang meraih posisi. Alhasil, kolusi dan korupsi kerap terjadi dalam lingkaran kekuasaan kapitalis demokrasi.
Kepemimpinan di dalam islam adalah kepemimpinan yang dijalankan dengan rasa amanah dan tanggung jawab. Tidak akan ditemukan orang-orang yang berlomba untuk meraih kekuasaan demi kepentingan politiknya.
Bahkan tidak akan ditemukan orang-orang yang berbondong-bondong untuk meraih simpatik rakyat agar ia terpilih, bahkan dengan menggunakan segala jenis cara agar berada pada tampuk kekuasaan.
Kekuasaan di dalam islam amanah rakyat dalam menjalankan kedaulatan dari asy syari’, yaitu menjalankan aturan dari Allah secara mutlak. Seorang pemimpin di dalam islam adalah seorang pelayan untuk mengurusi segala kebutuhan rakyatnya.
Bahkan memilih pemimpin dalam islam dengan mekanisme yang mudah dan tidak membutuhkan biaya besar. Batas waktu memilih seorang pemimpin adalah 3 hari sebagaimana yang terjadi di masa Rasulullah Saw setelah wafat lalu kemudian umat menunjuk sahabat Abu Bakar Assiddiq untuk menggantikan Rasulullah saw sebagai seorang Khalifah.
Olehnya itu kepemimpinan di dalam islam adalah amanah Allah untuk mengatur umat di dalam aturan shahih. Seorang imam atau pemimpin adalah perisai bagi rakyatnya. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits dari jalur Abu Hurairah ra, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa Sallam, bersabda:
“Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya.” [HR. Bukhari dan Muslim]. Wallahu a’Lam Bishawwab. (*)
Penulis: Kasmirawanti, S.S, M.Pd (Pemerhati Kebijakan Publik)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













