Courtesy: Antara Foto

OPINI – Gelombang penolakan atas Pengesahan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker) menjadi Undang Undang (UU) resmi masih terjadi. Penolakan terjadi sebab dinilai banyak pasal dalam UU ini yang merugikan rakyat, khususnya buruh. Alhasil aksi demonstrasi besar-besaran pun tidak terhindarkan.

Mahasiswa kembali turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya menolak UU Ciptaker. Aksi demonstrasi telah dilakukan oleh mahasiswa dari berbagai kampus di banyak daerah Indonesia.

Tentu Pemerintah tidak tinggal diam melihat ini, Kemendikbud telah mengeluarkan surat edaran nomor 1035/E/KM/2020 tentang pelarangan mahasiswa untuk ikut aksi demo Omnibus Law UU Ciptaker. Para dosen diimbau untuk tidak memprovokasi mahasiswa agar menolak UU tersebut.

Selain itu, Kemendikbud juga meminta pimpinan Perguruan Tinggi untuk melanjutkan pembelajaran jarak jauh dan memastikan para mahasiswanya benar-benar belajar di rumah masing-masing. Kampus pun diminta untuk ikut mensosialisasikan Omnibus Law UU Ciptaker (tasikmalaya.pikiran-rakyat.com 11/10/2020).

Pemerintah bahkan menuding aksi demonstrasi yang terjadi itu disponsori. Hal ini dinyatakan langsung oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia TV. Dia mengaku tahu pihak-pihak yang membiayai aksi demo itu (finance.detik.com 8/10/2020).

Tak hanya itu, pengusaha juga turut merespon langkah mahasiswa yang menggelar demo menolak Omnibus Law Ciptaker.

Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, UU ‘Sapu Jagat’ ini dibuat untuk menciptakan lapangan kerja yang manfaatnya bisa dirasakan mahasiswa. Sementara mahasiswa setelah lulus tentu membutuhkan pekerjaan. Oleh karenanya dia heran bila mereka menentang UU Ciptaker (finance.detik.com 8/10/2020).

Adanya pengancaman nilai akademis terhadap mahasiswa, aksinya diduga bersponsor, bahkan diancam akan kehilangan kesempatan kerja, menunjukkan bahwa independensi mahasiswa dalam menyuarakan perubahan bangsa telah dikebiri. Berbagai aturan ataupun stigma negatif disiapkan untuk membungkam suara-suara kritis mahasiswa.

Satriawan Salim, Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G), mengatakan seharusnya Mendikbud memberikan apresiasi kepada para mahasiswa. Sebab kampus merupakan tempat untuk mempersiapkan generasi muda yang memiliki peran sebagai intelektual organik.

Para mahasiswa belajar tak hanya di ruang kuliah yang terbatas tembok, ruang kuliah sesungguhnya para mahasiswa adalah lingkungan masyarakat itu sendiri. Mengikuti aksi demonstrasi adalah bagian dari laboratorium sosial mahasiswa sebagai agen perubahan. Menjauhkan mahasiswa dari rakyat, sama saja menjauhkan ikan dari lautan luas (tasikmalaya.pikiran-rakyat.com 11/10/2020).

Menyuarakan Aspirasi: Wujud Penunaian Intelektualitas

Sejatinya, para mahasiswa sedang menunaikan tugasnya sebagai agent of change, sebab mereka adalah kelompok intelektual yang menyambungkan rakyat dengan penguasa. Sepatutnya institusi kampus memfasilitasi mahasiswa agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik, sehingga mereka dapat menyuarakan aspirasi dan menunjukkan pembelaannya atas rakyat.

Sayangnya aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa kerap kali berujung bentrok dan anarkis. Bahkan tidak sedikit yang ikut aksi tanpa tahu esensinya. Beberapa hanya memanfaatkan momen untuk eksistensi diri dengan membuat konten vlog, TikTok, dan sejenisnya atau bahkan membuat spanduk dengan perkataan yang tidak pantas. Meski begitu di antaranya tetap ada yang tergerak murni karena dorongan idealismenya.

Namun, tak jarang idealisme ini pun tergadai oleh kilauan harta dan kekuasaan. Bukankah yang duduk di kursi kuasa sana adalah dia yang dulu juga pernah berjuang?

Maka tak heran bila muncul pertanyaan, ke mana sebenarnya arah gerakan mahasiswa? Sebab yang terlihat hanyalah arah perubahan yang tidak jelas.

Aksi-aksi yang dilakukan masih kosong dari visi kebangkitan yang shahih dan hanya sebatas emosi sesaat. Mereka hanya fokus menyelesaikan kasus demi kasus atau sibuk menuntut ganti pemimpin. Bahkan setelah ini, suara lantang mereka akan kembali terkubur bersama realitas kehidupan yang mendera.

Inilah salah satu dampak penerapan sistem demokrasi sekuler yang merambah hingga ke sistem pendidikan yang tidak mampu mencetak generasi berkepribadian Islam. Mahasiswa ibarat orang buta yang kehilangan tongkat, ia telah kehilangan pedoman yang shahih dalam hidupnya. Hingga tidak mampu melihat akar permasalahan yang sebenarnya.

Mereka masih sibuk menyuarakan solusi yang tidak solutif. Bahkan, tidak sedikit intelektual yang tak acuh dengan politik dan arah gerak perubahan sosial di tengah masyarakat.

Merekonstruksi Arus Perubahan

Mahasiswa, sebagai pemuda, memiliki peranan yang amat besar dalam perubahan. Ia adalah kunci untuk memperbaiki kehidupan rakyat. Melalui lisannya, ia mampu menyampaikan keresahan rakyat. Maka wajar jika tumpuan harapan perubahan ada di pundaknya. Sebagaimana nasehat Imam Syaf’i, “Pemuda hari ini, Pemimpin esok hari”.

Ia mampu mewujudkan kebangkitan, jika ia menjalankan fungsinya dengan baik. Ketika ia menyadari arah perubahan hakiki adalah mengamalkan seluruh aspek kehidupan sesuai dengan perintah dan larangan Allah Swt.

Sebagaimana Rasulullah Saw. telah memberikan teladan, ketika Allah Swt mewahyukan pada beliau “Wahai orang yang berkemul (berselimut), Bangunlah, lalu berilah peringatan” (QS. al-Muddatstsir: 1-2).

Maka tatkala itu, Rasulullah Saw. menghimpun para pemuda di antaranya Ali bin Abi Thalib ra., Sa’ad bin Abi Waqqas ra., Ja’far bin Abi Talib ra., Zubair bin Awwam ra., dan sahabat yang lain. Mereka dibina dengan aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) Islam sehingga cara berpikir dan berperilaku mereka dituntun oleh aqidah Islam.

Kepribadian Islam pun tergambar dari diri mereka sehingga mampu menganalisis berbagai peristiwa dengan benar, tidak pernah takut terhadap ancaman dan celaan dari berbagai pihak, sebab perjuangannya semata-mata hanya untuk mendapat ridho Allah Swt.

Dapat terlihat jelas arah pergerakan pemuda di masa itu adalah menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam kehidupan. Mereka teguh membersamai Rasulullah dalam dakwah hingga berhasil mendirikan negara baru di Madinah.

Seperti itulah harusnya gerakan mahasiswa hari ini. Arah pergerakannya harus mencerminkan kepeduliannya terhadap nasib umat dan agama Islam, tidak hanya fokus menuntut ganti personal pemimpin. Sebab pangkal problematika kehidupan adalah penerapan sistem buatan manusia. Sistem demokrasi meniscayakan lahirnya Omnibus Law UU Ciptaker yang zalim, bahkan setelah inipun akan tetap bermunculan UU lain yang serupa, selama akarnya belum tercabut.

Maka, mahasiswa wajib fokus pada arah perubahan yang benar, yakni menggantikan  sistem demokrasi dengan sistem Islam. Mahasiswa wajib menyuarakan kebangkitan hakiki agar rakyat dapat terselamatkan dan rezim represif dapat ditumbangkan.
Wallahu’alam Biashawab. (*)

Penulis: Jumriah, S.Pd. (Aktivis Muslimah)