Lagi, Predator ‘Pelangi’ Berulah, Sampai Kapan?

Penulis: Nurmia Yasin, S.S (Pemerhati Sosial)

0
106
Foto kombinasi Reynhard Sinaga, yang menunjukkan aktivitas di flat Reynhard Sinaga, di Inggris, yang dirilis 6 Januari 2020. (courtesy reuters)

OPINI – Viral tentang ‘predator’ baru-baru ini, memenuhi laman-laman berita. Kali ini berbeda, biasanya ‘predator’ berkeliaran di Indonesia dengan pelaku warga negara asing. Namun, kali ini berbeda yang terjadi di Inggris dengan pelaku orang Indonesia.

Nurmia Yasin, SS. (Foto Pribadi)

Reynhard Sinaga, Pria Asal Jambi, Indonesia. Ia dihukum seumur hidup oleh pengadilan Manchseter, Inggris atas 159 kasus pemerkosaan terhadap 48 korban pria.

Kasus ini terjadi selama rentang waktu 2,5 tahun mulai 1 Januari 2015 hingga 2 Juni 2017. Reynhard dari cctv yang disita polisi, diketahui sering keluar dari apartemen setiap malam lalu mencari ‘Mangsa’ pria yang tengah mabuk.

Reynhard membius dan memperkosa korban dari apartemennya. Pria yang dijadikan korban adalah pria berusia 17-30 tahun. Korban tak sadar ketika Reynhard melakukan aksinya.

Menurut BBC, kebanyakan korban yang ada di video yang direkam Reynhard dalam keadaan mendengkur. (Medialokal 7/1/20)

Bahkan pelaku diberi gelar oleh Ian Rushton, dari Kantor Kejaksaan yang memimpin penyidikan kasus, mengatakan Reynhard bahkan adalah “pemerkosa berantai terbesar di dunia.” (BBC.com 6/1/20)

Aksinya sangat berbeda diluar orang normal. Dalam satu kasus, Reynhard hanya memerlukan 60 detik untuk mendapatkan sasaran pria muda.

Sejak awal persidangan, Reynhard menyanggah ia memperkosa mereka dan mengatakan hubungan itu dilakukan atas dasar suka sama suka, walaupun bukti di pengadilan menunjukkan para korban yang diperkosa tidak sadar.

Reynhard, tampak sering tersenyum, ramah dan berperawakan kurus, penampilan yang tidak membuat targetnya curiga. (bbcnewsIndonesia, 7/1/20).

Dibalik sikapnya yang ramah dan seringnya tersenyum, rupanya cara menutupi karakter ‘predatornya’. Hingga mampu mengelabui korbannya. Prilaku bejat dan menyimpang ini selalu terulang.

Dalam al-Qur’an telah diceritakan kisah kaum nabi Luth, kaum ‘Ad. Allah berfirman:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ ، إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Dan ingatlah Luth ketika berkata pada kaumnya: Apakah kalian melakukan al-fahisyah yang belum pernah dilakukan seorangpun di alam ini. Sungguh kalian mendatangi laki-laki bukan wanita dengan penuh syahwat. Sungguh kalian kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf [7]: 81).

Liwath (homoseksual). Dalam pengertian fiqh adalah perbuatan keji (fahisyah) seperti yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth.

Sedang sihaq (lesbian) adalah perbuatan (zina) yang dilakukan perempuan dengan perempuan sebagaimana yang dilakukan laki-laki dengan perempuan (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyyah, Juz 24: 251).

Liwath adalah perbuatan keji yang dilakukan kaum Nabi Luth Alaihis salaam yang tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh siapapun.

Ibnu al-Qayyim menerangkan, ketika akibat buruk/dampak dari perbuatan liwaath adalah kerusakan yang besar, maka balasan yang diterima di dunia dan akhirat adalah siksaan yang berat (al-Jawab al-Kafi liman Sa-ala ‘an ad-Dawaa asy-Syafi).

Mereka dibinasakan dengan suara yang keras, dibenamkan ke dalam tanah lalu dihujani dengan batu.

“Sungguh mereka terombang-ambing dalam kemabukan mereka (kesesatan). Maka mereka dibinasakan oleh suara keras ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari sijjil.” (QS. Al-Hijr [15]: 72-74).

Begitulah balasan dari Allah SWT bagi pelaku liwaath/homoseksual. Adzab yang diberikan Allah bukan hanya menimpa mereka tetapi pun penduduk suatu wilayah hidup bersamanya.

Ide liberalisme telah merusak prilaku manusia. Atas dasar sekularisme yang dianut negara-negara liberalisme berkembang prilaku ‘predator’ kaum homoseksual.

Peristiwa semacam ini akan terus meñghiasi kehiďupan mànusia. Jika tidak ada usaha keras dari pemerintah untuķ melenyapkannya hingga keakar-akarnya.

Hukum syara’ dalam sanksi liwâth adalah bunuh; baik muhshan maupun ghairu muhshan. Setiap orang yang terbukti telah melakukan liwâth, keduanya dibunuh sebagai had baginya. Dalil yang demikian itu adalah sunnah dan ijma’ shahabat.

Adapun sunnah, dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbâs ra berkata, “Rasulullah Saw bersabda,

”Barangsiapa yang kalian dapati sedangkan melakukan perbuatannya kaum Luth, maka bunuhlah keduanya.” Diriwayatkan oleh Imam yang lima kecuali Nasa’iy.

Adapun apa diriwayatkan dari Sa’id bin Jabi dan Mujâhid dari Ibnu ‘Abbâs,

”Jejaka yang didapati sedang melakukan liwâth maka rajamlah.” Maksud dari hadis di atas adalah bunuhlah dengan hukuman rajam, bukan bermakna bahwa had liwâth adalah rajam.

Baihaqiy mengeluarkan dari Ibnu ‘Abbâs bahwa beliau ditanya tentang had pelaku liwâth, beliau ra berkata, ”Jatuhkanlah dari atas bangunan yang paling tinggi di suatu daerah, kemudian hujanilah dengan lemparan batu.”

Diriwayatkan dari ‘Alî ra, ”Bahwa beliau membunuh pelaku liwâth dengan pedang, kemudian membakarnya, karena demikian besar dosanya.” ‘Umar dan ‘Utsman berpendapat, ”Pelaku ditimpuki dengan benda-benda keras sampai mati.”

Semua ini adalah pendapat yang menunjukkan bahwa had liwâth adalah dibunuh, walau uslub pembunuhannya berbeda-beda.

Had liwâth dapat dijatuhkan dengan syarat, pelaku liwâth baik pelaku maupun yang dikumpulinya; baligh, berakal, karena inisiatif sendiri, dan ia terbukti telah melakukan liwâth dengan bukti syar’iyyah, yaitu, kesaksian dua orang laki-laki, atau seorang laki-laki dan dua orang perempuan.

Seandainya pelaku liwâth adalah anak kecil, orang gila, atau dipaksa dengan pemaksaan yang sangat, maka ia tidak dijatuhi had liwâth. (Nizhamul ‘Uqubat).

Islam telah menetapkan segala aturan dunia bagi manusia. Aturan yang sifatnya mencegah terjadinya kemaksiatan dengan menutup rapat sumber kemaksiatan melalui upaya-upaya yang dilakukan pemimpin kaum muslimin.

Sekaligus membuat jera pada pelakunya dengan sanksi yang tegas tanpa tawar-menawar sedikitpun. Aksi pelaku ‘predator’ terhadap korban mengakibatkan ‘korban’ pun dapat menjadi pelaku.

Hal semacam ini, tentu sangat berbahaya bagi kelangsungan generasi khususnya anak-anak kita di masa depan.

Sebab akan muncul ‘predator-predator’ lainnya jika akar masalah tidak terselesaikan.

Perbuatan semacam ‘predator’ seksual oleh aktivis pelangi Reynhart ini, sangat mungkin akan diadili seadil-adilnya oleh pemimpin yang memberlakukan hukum Allah SWT.

Hanya Khalifah sebagai pemimpin kaum muslim dan institusi Khilafah-nya yang mampu melenyapkan prilaku menyimpang dan bejat tersebut. Bahkan lebih dari itu, mampu memberikan solusi untuk seluruh problem kehidupan manusia secara menyeluruh dan sempurna.

Karena sistem-nya berasal dari pemilik alam semesta, manusia dan kehidupan ini. Dialah Allah SWT yang Maha Sempurna. Wallahu’allam bish-shawwab. [*]

Penulis: Nurmia Yasin, S.S (Seorang Ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Sosial)