OPINI – Hari ini, ramai diberikan situasi semakin banyak yang terindikasi Covid-19. Sampai akhirnya, Menhub diduga terinfeksi olehnya. Masyarakat dibuat panik, sebab Covid-19 cepat penularannya. Sudah tersebar diberbagai negara. Beberapa negara telah melakukan lockdown, guna menghadang laju Covid-19 ini.

Bagaimana di negeri kita? masyarakat berharap agar negara dapat mengambil kebijakan yang cepat dan solutif. Namun, apa yang disampaikan pemerintah ternyata, belum bisa menampung harapan masyarakat.

Seperti dilansir dari CNBC Indonesia (17/3/2020), Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan tak berpikir untuk melakukan kebijakan lockdown atau menghentikan total pergerakan manusia.

Beberapa negara telah menerapkan lockdown untuk mencegah penyebaran virus. Beliau menegaskan di Istana (16/3/2020) bahwa tidak berpikir ke arah kebijakan lockdown.

Sejalan dengan pernyataan Presiden, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pun telah buka suara soal wacana untuk lockdown Indonesia di tengah mewabahnya COVID-19.

Bahwa pemerintah belum berfikir kebijakan lockdown, sebab setiap negara mempunyai cara tersendiri dalam mengontrol Covid-19. Seperti adanya pengontrolan, belajar jarak jauh dan tidak banyak bertemu (cnbc,17/3/2020).

Dengan meresapi pernyataan diatas, pemerintah pada dasarnya peduli. Tetapi sayang terlihat begitu lamban dalam merespon kasus Covid-19.

Solusi lockdown oleh beberapa negara dalam menghambat laju virus ini, tak membuat negeri ini mengambil pengalaman negara-negara tersebut.

Lockdown Total

Cara ini dilakukan oleh beberapa negara dalam mengantisipasi merebaknya Covid-19. Menghentikan beberapa saat aktifitas luar, yang berhubungan dengan kontak terhadap orang banyak.

Keluar rumah ketika betul-betul penting dan mendesak. Sekolah, kampus, ASN bahkan pekerja dapat melakukan aktifitasnya di rumah diutamakan.

Menjaga kebersihan diri, misal senantiasa mencuci tangan dan anggota lainnya. Manjaga makanan dan minuman dengan pola hidup sehat. Juga menjaga kebersihan rumah. Kesemua itu upaya setiap individu masyarakat agar terhindar dari virus tadi.

Memang harus ada kesadaran penuh dari setiap individu dalam menghambat penularan virus tersebut. Pemerintah tak menjadikan lockdown sebagai salah uslub dalam menangkalnya. Hanya menekankan pengontrolan, belajar jarak jauh dan tidak keluar rumah.

Tetapi pemerintah lupa, ketika masyarakat saat ini berupaya keras merealisasikan himbauan. Disaat yang sama para WNA asing berdatangan dengan jumlah yang besar. Adanya perlakuan bebas visa bagi WNA membuka kran penularan semakin deras.

Pemerintah saat ini, terlihat hati-hati untuk mengeluarkan kebijakan. Bagai ‘memakan buah simalakama’. Jika memberlakukan lockdown maka laju investasi dan WNA terhambat, hal ini akan berpengaruh pada perekonomian negara. Tetapi, jika tetap membuka kran kedatangan WNA, maka negara dan rakyatnya bersiap dengan penularan Covid-19.

Masalah ekonomi memang sangat krusial bagi negara dan masyarakat. Namun, pemerintah juga jangan mengabaikan kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Jika persoalan ekonomi yang membuat pemerintah ‘galau’ dalam mengambil keputusan. Maka perlu direnungi bahwa sumber daya alam negeri ini sangat kaya dan melimpah.

Diberbagai wilayah mempunyai berbagai jenis sumber daya alam, misal batu bara, tembaga, minyak, nikel, emas dan masih banyak lagi. Indonesia negara yang subur, sungguh nikat yang diberi Sang Pencipta patut disyukuri.

Ketika semua sumber daya alam dikelola dan distribusikan dengan baik. Maka persoalan ekonomi bukanlah menjadi masalah yang ‘menggalaukan’ pemerintah dalam memilih kebijakan.

Lockdown total dengan waktu tertentu bukan hal yang sulit direalisasikan. Hingga situasi betul-betul kondusif untuk beraktifitas seperti sedia kala.

Sistem Total

Kebijakan yang tak menyentuh akar masalah tentu akan menuai masalah baru. Lahir dari sistem yang tidak menyeluruh. Solusi tambal sulam yang mengakar dalam menyelesaikan masalah. Sistem kapitalisme telah berperan penting dalam tatanan dunia.

Pun di negeri yang tercinta ini. Sehingga dalam setiap kebijakan selalu didasari ‘untung-rugi’. Maka, tidak heran ketika wacana lockdown di tengah masyarakat merebak.

Pemerintah sepertinya ‘galau’ dan sangat hati-hati dalam mengeluarkan kebijakan. Bagaimana pengaruhnya terhadap perekonomian, investasi, devisa dll. Semua menjadi tolak ukur.

Padahal, kalau kita mau jujur, keselamatan dan nyawa masyarakat tak dapat diukur dengan dunia beserta isinya. Melihat kekayaan yang melimpah, sungguh miris dan mengkhawatirkan ketika kebijakan masih pro terhadap asing.

Sistem menyeluruh dan sempurna dapat merealisasikan sejumlah kebijakan, sempurna lagi menyeluruh juga. Tidak tambal sulam, dapat mengatasi seluruh problem kehidupan tanpa menimbulkan masalah baru.

Tak terkecuali dengan kasus wabah yang satu ini. Bagaimana kasus wabah terjadi pada masa Umar ibn Khattab, telah mengajarkan kaum muslim dalam menghadapi wabah.

Bagi rakyat dalam wilayah wabah maka dilarang untuk keluar wilayah. Begitupun rakyat diluar dilarang untuk masuk dalam wilayah wabah.

Agar penyebaran wabah dapat ditekan dan diobati sesegera. Hingga kondisi stabil dan aman bagi masyarakat.

Fakta histori ditambah penelitian-penilitian para pakar harusnya buat pemerintah mengambil banyak pelajaran. Jangan hanya memikirkan masalah keutungan semata sehingga lupa nasib rakyat mengalami kebuntungan.

Sistem sempurna dan menyeluruh ternyata tak cukup. Dibutuhkan sistem yang baik dari Maha Baik. Sehingga membuat masyarakat baik secara individu, masyarakat hingga ke level negara.

Tidak lain, sistem tersebut adalah sistem Islam. Sistem merahmati seluruh alam. Jika dapat direalisasikan dalam bernegara, bukan tidak mungkin segala masalah hidup akan terselasaikan. Karena Islam adalah way of life dan problem solving bagi seluruh manusia.

Penyelesaian wabah Covid-19 memang harus dengan ikhtiar sempurna. Namun kita tidak melupakan doa disetiap sujud. Berharap do’a dikabulkan, namun belum mau diatur dengan aturan Allah SWT.

Seyogyanya sikap seorang muslim yang beriman adalah taat secara total. Tanpa tapi, tanpa nanti. Seperti firman Allah SWT,

“Demi Rabbmu, sekali-kali mereka tidaklah beriman, sampai mereka menjadikanmu -Muhammad- sebagai hakim/pemutus perkara dalam segala permasalahan yang diperselisihkan diantara mereka, kemudian mereka tidak mendapati rasa sempit di dalam diri mereka, dan mereka pun pasrah dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa’: 65). Wallahu a’lam bish-shawab. (*)

Penulis: Nurmia Yasin (Pemerhati Sosial)