OPINI—Benarlah jika dikatakan bahwa minuman keras (miras) adalah induknya kejahatan. Sebab banyak kasus kriminalitas yang berawal dari mengkonsumsi miras, seperti KDRT, pemerkosaan, perkelahian, pembunuhan dan semisalnya. Miras juga diharamkan dalam agama Islam.

Namun sangat miris, pemerintah Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim yang besar, justru membuka pintu investasi miras di negara ini. Tentu hal ini mengundang polemik di tengah masyarakat.
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menyoroti aturan tersebut sebagai sinyal pemerintah yang lebih mengedepankan kepentingan pengusaha daripada kepentingan rakyat.

Menurutnya, pemerintah sangat aneh membuat peraturan yang bertentangan dengan tugas dan fungsinya tersebut.
“Semestinya pemerintah sesuai dengan tugas dan fungsinya sebagai pelindung rakyat tentu tidaklah akan memberi izin bagi usaha-usaha yang akan merugikan dan merusak serta akan menimbulkan ke-mafsadat-an [kerugian] bagi rakyatnya,” kata Anwar dalam keterangan resminya. – (CNNIndonesia, 28/2/2021)

Penolakan ini juga diungkapkan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Makassar AGH Dr Baharuddin HS. Beliau dengan tegas menentang adanya investasi minuman keras (miras) di Indonesia. Bahkan jika hanya dikhususkan untuk empat provinsi saja.

Kiai Baharuddin mengatakan aturan mengharamkan miras tidak pernah berubah dalam Islam. Bahkan dengan alasan apapun. Dia menilai ada kekeliruan yang dilakukan pemerintah, mungkin karena melihat empat daerah yang dibolehkan dari sisi kearifan lokalnya. Padahal sebenarnya sama saja, sebab miras banyak mudaratnya. (Fajar.co.id, 1/3/2021).

Sekularisme-Kapitalisme Biang Kerusakan

Sekularisme-kapitalisme adalah sistem yang menjadikan manfaat sebagai asas dalam kehidupan dan menjadikan kebebasan baik kebebasan beragama, berpendapat, kepemilikan, dan berperilaku di atas segalanya.

Dalam sistem kapitalisme, paham kebebasan juga menjadi landasan dalam menjalankan perekonomiannya. Sistem kapitalisme sama sekali tidak mengindahkan kesejahteraan sosial, kepentingan bersama, kepemilikan bersama ataupun yang semacamnya. Asas kapitalisme adalah kepuasan sepihak, dan bagaimana mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Industri apapun dalam sistem ini akan mendapatkan ‘tempat’ selama industri tersebut bisa mendatangkan keuntungan secara materi. Baik bagi produsen maupun konsumennya.

Bahkan industri apapun itu, jika dianggap mampu memberikan pendapatan bagi negara, akan diberikan kemudahan berupa legalitas secara hukum untuk menjalankannya. Meskipun hal itu bertentangan dengan keinginan rakyat bahkan merusak tatanan kehidupan di tengah masyarakat.

Apalagi dalam sistem ini, sebuah negara dikendalikan oleh para pemilik modal di mana penguasa dijadikan sebagai alat yang digunakan untuk memuluskan langkahnya dalam mencapai tujuan, termasuk dalam hal berinvestasi. Maka wajarlah jika industri miras yang sudah jelas mendatangkan bahaya bagi masyarakat ini bisa dilegalkan dalam negara yang menganut sistem kapitalisme.

Islam Mengharamkan Industri Miras
Industri dalam Islam adalah sesuatu yang dibolehkan. Di masa Rasulullah saw, banyak bermunculan industri seperti industri sepatu, pakaian, pedang dan sebagainya. Bahkan Rasulullah saw dalam suatu riwayat pernah meminta untuk dibuatkan mimbar.

Rasulullah saw pernah mengutus seseorang kepada seorang wanita untuk memerintahkan putranya yang tukang kayu agar membuat untukku potongan-potongan kayu yang bisa diduduki.” (HR al Bukhari).

Hanya saja, barang-barang yang diproduksi dapat mengubah status industri tersebut mengikuti hukum barang produksinya. Maka seorang muslim haram untuk terlibat dalam industri barang-barang haram semisal narkoba dan minuman keras (miras).

Hal ini disebabkan adanya nash hadis yang menyatakan bahwa Allah SWT telah melaknat pemeras khamar dan orang yang mendapatkan perasannya. Jadi keharaman industri khamar terletak pada keharaman zat yang diproduksinya. Larangan tersebut bukan hanya ditujukan kepada yang meminumnya, tetapi semua yang terlibat dalam aktivitas yang berkaitan dengannya.

Rasulullah SAW bersabda “Allah mengutuk minuman keras, peminumnya, pemberi minum (orang lain), penjualnya, pemerasnya, pengantarnya, yang diantar kepadanya, dan yang memakan harganya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan Hakim, melalui sahabat Nabi Ibnu Umar.
Bahkan Allah SWT dengan tegas mengingatkan manusia untuk menjauhi minuman keras.

Sebagaimana dalam al-Quran surat al maidah ayat 90 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi dan berkurban untuk berhala dan mengundi anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung”.

Bayangkan jika saat ini saja miras diproduksi dan diperjual belikan secara tertutup namun masih banyak di antara individu masyarakat yang bisa mendapatkannya. Apalagi jika industri miras ini mendapatkan pengesahan dari negara untuk bisa diproduksi secara legal.

Maka kerusakan-kerusakan akibat mengkonsumsi miras akan semakin sulit untuk dikendalikan. Padahal, negara adalah perisai yang wajib menjaga rakyatnya dari berbagai bentuk kerusakan. Wallahu a’lam bisshawab. (*) 

Penulis: Indah Dahriana Yasin (Ketua Yayasan Cinta Abi Ummi-Makassar)