Sangat jelas ketika di pasaran telur dialihkan untuk bansos dengan bayaran saja akan mempengaruhi harga telur. Apalagi ketika ini cuma-cuma yang diambil oleh mensos untuk keperluan bansos.
Sebab lainnya yang justru lebih banyak imbas dan lebih masuk akal yaitu ditemukan karena harga pakan naik. Harga pakan yang naik baik yang bersumber dari dalam negeri maupun impor. Catatan Kemendag, harga pakan sekarang Rp 6.800 hingga Rp 7.200 per kilogram (detik.com Selasa, 30/08/22).
Naiknya harga pakan, ada beberapa kalangan masyarakat yang terkadang tidak terpikirkan sejauh ini. Jika naik harga pakan telur ikut berimbas mempengaruhi harganya. Ayam-ayam petelur butuh pakan dalam berkembangbiak sehingga jika dikaitkan pakan mahal. Telur yang dihasilkan tentunya juga ikut dinaikkan harganya agar mampu menutupi biaya pakan bagi peternak ayam.
Fokus penyebab jangka panjang
Setelah memahami berbagai penyebab yang menimbulkan naiknya harga telur hingga membuat masyarakat babak belur. Tentunya untuk lebih mudah mendekati jalan penyelesaian masalah. Untuk itu difokuskan penyebabnya yang sifatnya jangka panjang yaitu akibat pakan naik.
Perguliran harga-harga pangan dunia bukan hal yang mesti dimaklumi, ada hal yang mesti dikritisi yaitu dalam hal mengikuti harga dunia. Ini dapat dilihat terlebih dahulu mengenai rupiah manjadi salah satu mata uang yang nilainya kecil di skala dunia.
Hal itu disebabkan bergantung Negara itu apakah posisinya hanyalah manfaat konsumtif dan mampu dicengkaram berbagai arah ataukah tidak. Jika demikian tentunya dilihat dollar jadi mata uang dunia.
Demikian pula jika kembali dikaitkan dengan harga pakan, permainan harga pakan tentu dikendalikan asing. Sehingga Negara tertentu hanya pasrah dan tidak mampu berkutik jika terjadi demikian. Tinggal mengikuti arus kemauan asing.
Tersedianya komponen pakan impor. Jadi Pakan impor ini yang tidak bisa dikendalikan. Ini harus disiapkan juga oleh lokal produksinya. Sementara pakan dalam negeri tidak mencukupi.













