OPINI—Belum banyak masyarakat yang tahu bahwa tanggal 24 September merupakan Hari Tani Nasional. Dasar penetapannya adalah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Hal ini karena sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian.

Di Indonesia, keberadaan petani menjadi penting untuk berkontribusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebagai pilar utama negara, kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan terbesar kedua setelah sektor industri pengolahan. Sementara untuk kontribusi sektor pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian sendiri terhadap PDB pada triwulan I dan II secara berturut-turut adalah sebesar 9,84 persen dan 10,78 persen.

Oleh karena besarnya share sektor pertanian, pemerintah senantiasa berusaha melindungi kesejahteraan petani melalui penyaluran berbagai bantuan pertanian seperti pupuk bersubsidi dan bantuan alat pertanian, serta menetapkan harga dasar gabah, harga pembelian gabah dan beras. Salah satu indikator untuk melihat tingkat kesejahteraan petani adalah melalui nilai tukar petani (NTP).

NTP diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. NTP menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. NTP menjadi salah satu indikator untuk melihat daya beli petani di pedesaan. Jika nilainya semakin tinggi, maka semakin kuat daya beli petani.

Angka NTP yang lebih dari 100 menandakan petani mengalami surplus. Artinya harga produksi naik lebih besar dibanding kenaikan harga konsumsi atau dengan kata lain pendapatan petani naik lebih besar dibanding pengeluarannya. Jika NTP bernilai 100 menandakan petani mengalami impas. Artinya kenaikan/penurunan harga produksi sama dengan kenaikan/penurunan harga barang konsumsi atau dengan kata lain pendapatan petani sama dengan pengeluarannya.

Sementara jika NTP bernilai kurang dari 100 menandakan petani mengalami defisit. Artinya kenaikan harga produksi relatif lebih kecil dibanding kenaikan harga konsumsinya atau dengan kata lain pendapatan petani turun lebih kecil dibanding pengeluarannya (Badan Pusat Statistik).

Hasil penghitungan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa NTP gabungan Provinsi Sulawesi Selatan Bulan September 2021 adalah sebesar 98,90 atau naik 0,72 persen dibanding NTP Bulan Agustus 2021 (98,19). Peningkatan NTP tersebut terjadi akibat indeks harga yang diterima petani mengalami peningkatan sementara indeks harga yang dibayar petani mengalami penurunan. Indeks harga yang diterima petani meningkat 0,61 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani menurun 0,11 persen.

Indeks harga yang diterima petani Bulan September pada subsektor tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat, dan perikanan mengalami peningkatan dibanding Bulan Agustus.

Namun indeks harga yang diterima petani pada subsektor hortikultura dan peternakan mengalami penurunan. Subsektor peternakan mengalami penurunan terbesar yakni sebesar 1,31 persen. Sedangkan indeks harga yang dibayar petani pada semua subsektor mengalami penurunan. Penurunan indeks harga yang dibayar petani terbesar terjadi pada subsektor hortikultura, yakni sebesar 0,21 persen.

Tanaman Pangan

NTP subsektor tanaman pangan (NTPP) Bulan September 2021 (93,61) meningkat sebesar 0,58 persen dibanding Bulan Agustus 2021 (93,07). Peningkatan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 0,48 persen sementara indeks harga yang dibayar petani menurun sebesar 0,10 persen.

Kenaikan indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh kenaikan indeks pada kelompok padi sebesar 0,59 persen. Sementara penurunan indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh turunnya indeks konsumsi rumah tangga  sebesar 0,16 persen.

Tanaman Hortikultura

NTP subsektor tanaman hortikultura (NTPH) Bulan September 2021 (106,03) mengalami peningkatan sebesar 0,17 persen dibanding bulan sebelumnya (105,85). Indeks harga yang diterima petani menurun sebesar 0,04 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani menurun sebesar 0,21 persen.

Penurunan indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh penurunan indeks pada semua kelompok, dan penurunan terbesar terjadi pada kelompok obat-obatan (3,02 persen). Sementara penurunan terbesar indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh turunnya indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,26 persen.

Tanaman Perkebunan Rakyat

NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR) Bulan September 2021 (110,26) meningkat sebesar 2,31 persen dibanding bulan sebelumnya (107,78).

Peningkatan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 2,13 persen sementara indeks harga yang dibayar petani menurun sebesar 0,17 persen. Penurunan indeks harga yang dibayar petani utamanya disebabkan oleh turunnya indeks konsumsi rumah tangga (0,18 persen).

Peternakan

NTP subsektor peternakan (NTPT) Bulan September 2021 (100,35) menurun sebesar 1,22 persen dibanding bulan sebelumnya (101,59). Penurunan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani mengalami penurunan lebih besar dibanding indeks harga yang dibayar petani.

Indeks harga yang diterima petani menurun sebesar 1,31 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani menurun sebesar 0,08 persen.

Penurunan indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh menurunnya indeks pada hasil ternak/unggas sebesar 1,80 persen. Sementara penurunan indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh turunnya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,2 persen.

Perikanan

NTP subsektor perikanan (NTNP) Bulan September 2021 (106,11) meningkat sebesar 0,35 persen dibanding bulan sebelumnya (105,74).

Peningkatan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani meningkat sebesar 0,24 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani menurun sebesar 0,11 persen.

Peningkatan indeks harga yang diterima petani utamanya disebabkan oleh naiknya indeks pada subsektor perikanan budidaya sebesar (0,82 persen). Sementara penurunan indeks harga yang dibayar petani utamanya disebabkan oleh turunnya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,19 persen.

Selain kenaikan NTP, pada Bulan September 2021 juga terjadi kenaikan nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP) sebesar 0,61 persen dibanding Bulan Agustus 2021. NTUP dihitung dari indeks harga yang diterima petani dibagi dengan indeks BPPBM. NTUP pada semua subsektor meningkat kecuali pada subsektor peternakan, dan peningkatan terbesar terjadi pada subsektor Perkebunan Rakyat (2,23 persen).

Dengan meningkatnya NTP serta NTUP, kita berharap agar kesejahteraan petani di Sulsel semakin meningkat. Peningkatan kesejahteraan petani harus senantiasa dikawal, terutama petani tanaman pangan yang NTP nya masih dibawah seratus. Dari sisi harga produk pertanian, perlu dilakukan pengendalian harga terutama melalui Bulog maupun Kemendag.

Diketahui bahwa di tingkat nasional, rata-rata harga GKP dan GKG di tingkat petani dan penggilingan selama September 2021 mengalami peningkatan dibanding bulan sebelumnya. Selain itu, distribusi barang pun harus terkontrol agar biaya distribusi dan selisih harga di tingkat konsumen dan di tingkat petani dapat ditekan. Pemerintah pun perlu menjamin tersedianya sarana produksi serta bantuan usaha pertanian untuk meningkatkan produksi dan produktivitas usaha tani. (*)

Penulis: Riska Eka Agustina, S.ST., M.Sc (Statistisi Pertama di Badan Pusat Statistik)

***

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.