Pelajar di lingkungan sekolah juga harus memahami agenda barat yang sesungguhnya. Mereka sangat serius dalam proyek global ini dan mulai membuahkan hasil. Misalnya, isu ini tidak hanya di haruskan untuk orang dewasa. Tetapi, masuk ke semua lini tanpa memandang usia. Terakhir, berhembus berita isu ini pun digoreng sampai ke TK.
Kekuatan global barat sukses meracuni umat dengan isu yang dibuatnya sendiri. Tujuannya untuk menakuti umat bahkan umat lain dengan syariat Islam. Sehingga mereka takut dengan agamanya sendiri. Pemuda sebagai agent of change telah dibajak idealisme untuk ikut memerangi agama mereka sendiri.
Sebab, mereka (barat) tak mampu untuk head to head dengan umat Islam. Oleh sebab itu, menyerang melalui pemikiran generasi muda. Cara tersebut cukup berhasil untuk melumpuhkan umat Islam dari segi pemikiran lewat tsaqofah barat.
Massifnya sekulerisasi pendidikan menjauhkan peserta didik dengan agamanya. Memisahkan syariat dengan segala interaksi/perbuatan di lingkungan sekolah. Misal, siswi muslim membuka kerudung tak mengapa, bahkan beberapa sekolah tidak menyarankan. Aktifitas rohis dibatasi, dicurigai bahkan diawasi, padahal aktifitas ini merupakan bagian dari tuntunan agama.
Bagaimana Islam mengatur interaksi antara wanita-pria, berakhlak baik pada orang tua, guru dan teman, meningkatkan pemahaman terkait halal-haram, terpuji dan tercela. Menjauhi maksiat seperti narkoba, pacaran, free sex dan pergaulan bebas ala barat lainnya. Tetapi, sekali lagi semua itu dianggap ‘radikal’ versi barat karena kenyataanya mereka tidak suka dengan kedamaian dan kebaikan di tengah umat. Yang ada, menyebar isu radikal, intoleran dan ektremisme, dan lain sebagainya.
Akhirnya, kita sebagai umat Muslim pun takut dengan agama kita sendiri, apatah lagi umat lain? Ya, mereka (barat) berhasil dan bertepuk tangan dengan gembira. Kita sibuk dengan radikal-radikul yang tak berujung, diakhiri dengan diskriminasi yang merugikan umat Islam dan Islam sendiri.
Moderasi agama bagai madu berbalut racun, sebab pengistilahannya sangat halus tetapi mampu mengalihkan perhatian umat dari syariatnya.
Demokrasi telah memberikan jalan (barat) untuk mempromosikan, menyebarluaskan bahkan melindungi segala bentuk ide yang diemban barat. Semua atas nama “kebebasan”, sehingga upaya untuk menjaga eksistensi syariat di tengah kaum Muslim pun hanya mimpi di siang bolong.
Munculnya berbagai aksi pelecehan terhadap agama Islam, bahkan Nabi yang menjadi manusia paling mulia pun terjadi di negeri ini, bahkan di negara lain. Kapitalisme dengan corak liberalis yang dijaga oleh demokrasi berhasil mengukuhkan posisi barat di tengah kaum Muslim. Semua itu dilindungi atas nama HAM
Generasi muda sebagai ujung tombak negara, harus memusatkan perhatian pada masalah ini, bahkan mereka harus ikut berkontribusi menghalau laju opini yang menyesatkan umat. Menjadi bagian terdepan menghadang arus moderasi agama dengan kekuatan pikiran, tenaga dan imannya. Meski di tengah berbagai ‘kesenangan’ dunia yang ditawarkan sistem kapitlis-liberalis yang semakin mengganas.
















