Pemuda dan Pendidikan ala Sekuler
Pemuda dalam sejarah bangsa Indonesia sangat diperhitungkan. Seperti kata Presiden pertama, Soekarno ” beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia“.
Jauh sebelum itu, Rasulullah memuji para pemuda sebab ketaatannya, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: (salah satunya)… pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah … ” (HR Bukhari).
Namun miris, pemuda yang diharapkan menjadi penerus masa depan yang lebih baik menjadi -tidak- berarti. Idealismenya digerus pemikiran asing yang rusak lagi merusak.
Problem generasi yang tak bertepi mengisi laman-laman berita lokal dan nasional. Pergaulan bebas hampir merata di setiap tempat, mewarnai interaksi mereka.
Kasus narkoba bagai gunung es yang tak dapat dibendung. Pacaran, Free sex, aborsi yang tak jarang depresi hingga berujung menelan korban seperti kasus beberapa waktu menjadi hal yang biasa. Tawuran dan begal pun tak kalah marak di tengah-tengah masyarakat.
Sekolah diharapkan menjadi tempat edukasi dan menuntut ilmu yang mengubah, justru para pelajar semakin jauh dari agamanya, atau mungkin dijauhkan oleh agamanya, bahkan mencurigai agamanya sendiri dengan berbagai stigma negatif yang hembuskan barat.
Jika masa muda dihabiskan untuk hal demikian, jangankan mengguncang dunia untuk hidup dengan normal saja akan sulit dijalani. Pemuda tak lagi bertaji, ditelan zaman yang semakin menggila. Masa muda dihabiskan begitu saja, tanpa ada tujuan jelas. Diperparah dengan sistem yang mengatur hidup saat ini.
Sungguh, tidak mungkin mencetak pemuda pelanjut peradaban tinggi. Sistem saat ini terbukti gagal total mengantarkan pemuda menjadi agent of change. Bahkan, gagal total mengantarkan manusia hidup menjadi lebih baik secara hakiki.












