OPINI—Gaung moderasi beragama menggema di seantero negeri. Berbagai sudut ruang, menjadi incaran program yang katanya untuk keadilan dan peneguhan komitmen kebangsaan. Benarkah demikian? Ataukah malah menjauhkan umat dari kesadaran beragama yang paripurna, sehingga arah perjuangan bangsa menjadi tidak jelas?

Kakanwil Kemenag Sulsel H. Khaeroni yang didampingi oleh Kabag TU H. Fathurrahman dan Kabid Penais Zakat Wakaf H. Kaswad Sartono, memaparkan bahwa Moderasi beragama adalah cara pandang dan bersikap dalam hidup beragama yang mengedepankan nilai-nilai toleransi, saling menghargai, keadilan dan peneguhan komitmen kebangsaan (sulsel.kemenag.go.id, 26/2/2921).

Senada dengan hal tersebut, Staf Khusus Menteri Agama, Ishfah Abidal Aziz yang akrab dipanggil Gus Alex menegaskan bahwa moderasi beragama yang diusung Kemenag adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi agama.

Lebih lanjut, Gus Alex mengatakan bahwa cara pandang dan sikap moderat dalam beragama sangat penting bagi masyarakat plural dan multikultural seperti Indonesia, karena hanya dengan cara itulah keragaman dapat disikapi dengan bijak, serta toleransi dan keadilan dapat terwujud.

Menurutnya, indikator keberagamaan yang moderat itu antara lain: komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi/budaya (kemenag.go.id, 26/2/2921).

Jika melihat diksi yang digunakan, sepintas tak ada yang keliru. Moderasi beragama yang dimaksud adalah hal-hal yang terkait dengan Islam moderat. Indikatornya pun sangat jelas digambarkan, termasuk penerimaan terhadap tradisi/budaya.

Selain itu, toleransi dan anti kekerasan juga tak luput dari apa yang mereka jabarkan sebagai moderasi beragama. Namun, indikator-indikator tersebut seakan hanya menyasar agama tertentu saja. Bukti yang valid terkait hal tersebut adalah masuknya program moderasi beragama ke madrasah dan pesantren, yang notabene adalah umat Islam.

Jika kita cermati sedari awal, berbagai narasi yang digaungkan terkait moderasi beragama, seolah tak pernah padam. Berbagai upaya terus dijalankan agar umat jauh dari ber-Islam paripurna. Masyarakat menangkap sinyal kekhawatiran yang berlebihan yang ditujukan kepada umat Islam. Kenapa? Karena bidikannya adalah sekolah-sekolah keagamaan. Ini tentu tak fair, tersebab fakta yang teridera tidak demikian adanya.

Tak dapat dipungkiri, narasi ini begitu massif menggempur hampir semua lini. Saat ini sasaran moderasi beragama adalah dunia pendidikan berbasis agama. Namun, masyarakat perlu mewaspadai berbagai program yang kelihatannya baik, namun sejatinya merusak. Beginilah tabiat sistem yang berasas sekuler, yakni pemisahan agama dari kehidupan.

Pengkerdilan Makna Agama

Moderasi beragama adalah program yang diduga kuat ditengarai untuk membendung kesadaran umat melawan kezaliman yang dipertontonkan di negeri ini. Banyaknya kasus yang sangat tidak logis, cacat hukum, diksi yang ambigu, sehingga sangat berpotensi untuk menjerat siapa saja yang mereka inginkan.

Fakta yang bertebaran, membuat rakyat makin cerdas menilai bahwa terjadi krisis di hampir semua aspek. Distrust rakyat sudah mulai menggejala, akibat berbagai kebijakan yang tak pro rakyat dan penegakan hukum tebang pilih. Hal demikian banyak dipertontonkan, terlebih saat pandemi melanda. Arah negeri ini, tak jelas ingin dibawa ke mana. Negeri baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur yang dicita-citakan bersama, seakan tidak sejalan dengan misi yang diimplementasikan.

Pandemi yang sudah setahun lebih, membuat penghidupan rakyat makin sengsara. Alih-alih fokus ke problem kesejahteraan, penguasa malah sibuk mengurusi moderasi beragama. Padahal, jika kita ingin pure mencermati fakta yang ada, berbagai masalah terkait radikalisme dan atau ekstrimisme adalah perkara yang tidak muncul secara spontan. Namun, masyarakat menilai bahwa agenda ini seringkali dibarengi dengan pengalihan isu-isu politik yang ending-nya sangat mudah tertebak.

Sistem sekuler-kapitalis yang diemban hampir semua negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia meniscayakan hal tersebut berlaku. Adanya pengklasifikasian terhadap suatu ajaran agama, semisal Islam moderat, membuat makna agama menjadi sangat sempit. Tak salah, jika banyak pihak menilai bahwa dengan moderasi beragama makin menjauhkan umat dalam makna Islam hakiki, yakni kesempurnaan ajarannya.

Agama Universal

Tak dapat dipungkiri, sejarah panjang peradaban Islam menaungi dua per tiga belahan dunia. Selama kurun waktu 1300 tahun lamanya, kesejahteraan umat manusia melingkupi tanpa batas. Islam sebagai agama universal, mampu menyatukan beragam agama, suku, dan ras. Keagungan Islam begitu mempesona, bahkan diakui oleh orang-orang non Muslim.

Tentu hal ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bahwa jika mengambil aturan dari Sang Pencipta, maka kesejahteraan untuk semua akan tercipta. Mengapa demikian? Sebab, Dia-lah yang menciptakan manusia beserta seluruh isi semesta. Pasti paling tahu apa yang terbaik buat makhluk-Nya. Menegasikan regulasi trial and error buatan manusia.

Ketaatan akan seluruh aturan-Nya, akan berimplikasi pada terciptanya kesejahteraan hidup untuk semua. Tidak memilah-milah sesuai kepentingan dan hawa nafsu. Islam dengan kesempurnaan syariat-Nya yang memuaskan akal dan menenteramkan jiwa, insya Allah akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Sebagaimana dalam QS. Al-Araaf: 96, yang artinya:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Wallahualam bish Showab.

Penulis: Dr. Suryani Syahrir, ST, MT (Dosen dan Pemerhati Generasi)