OPINI—Tidak lama lagi kita akan menyambut musim haji 1446 H. Dimana seluruh umat Islam di seluruh dunia akan berkumpul melaksanakan ritual haji di Padang Arafah. Momentum haji yang banyak di tunggu umat Islam di seluruh dunia.
Pelaksanaan haji yang menjadi rukun iman yang terakhir adalah salah satu pembuktian iman seorang hamba kepada Rabbnya. Bagaimana tidak dalam pelaksanaan haji, kita tidak hanya diminta pengorbanan waktu dan tenaga, tapi juga pengorbanan harta yang tidak sedikit.
Begitu banyak umat Islam yang rela menunggu puluhan tahun agar bisa berhaji. Dan tidak sedikit umat Islam menghabiskan hartanya untuk bisa berhaji.
Momentum haji pun adalah menjadi waktu berkumpulnya umat Islam diseluruh dunia. Dengan berbagai latar belakang bahasa, negara, warna kulit. Disana kita akan melihat betapa Islam menjadi sebuah kekuatan yang mampu menyatukan seluruh perbedaan yang ada. Ya. Itulah kekuatan aqidah Islam.
Sesungguhnya Islam mempunyai semua unsur persatuan, semua unsur kedaulatan, namun apa yang membuat umat Islam terpecah?
Pertama, Umat terpecah belah karena mengadopsi nation state dan tidak ada kepemimpinan tunggal untuk umat Islam. Umat Islam disekat dengan ide nasionalisme dengan label bendera negara dan perundang-undangan masing-masing yang membuat mereka merasa cinta dengan bangsa dan negaranya sendiri dan melupakan nilai-nilai ukhuwah sesama muslim.
Bukti nyata umat Islam terpecah adalah genosida yang menimpa G4z4. Tidak ada satu negeri Islam yang berani melakukan perlawanan fisik (jihad dan perang) kepada zionis untuk membebaskan Palestina. Tanpa disadari nation state inilah yang melemahkan umat Islam di seluruh dunia. Jumlah umat Islam yang mendominasi di dunia dan mereka memiliki kekuatan militer yang canggih namun semua itu tidak mampu membantu umat Islam di Palestina.
Kedua, Umat Islam memahami Islam hanya sebatas agama ritual yang dilakoni oleh individu-individu. Termasuk dalam ibadah Haji, jika hanya diposisikan dalam kerangka ibadah, dan dijauhkan dari pesan politik Rasulullah dalam Haji Wada’, tidak akan memberikan inspirasi persatuan dan kebangkitan.
Haji akan sekedar menjadi ritual rukun iman yang tidak lepas dari euforia belaka. Seharusnya dari perjalanan haji, umat Islam bisa mengambil hikmah betapa besarnya kekuatan mereka dengan berbagai negara dan bangsa yang disatukan oleh Aqidah Islam.
Haji Bukan Sekedar Ibadah, Tapi Momentum Dakwah dan Dukungan Politik Rasulullah SAW.
Musim haji merupakan waktu yang tepat bagi Rasulullah SAW untuk berdakwah karena pada saat itu banyak orang dari berbagai daerah berkumpul di Makkah untuk melaksanakan ibadah haji dan berdagang. Termasuk dari berbagai kabilah kafir Quraisy dan lainnya dari kalangan pedagang Arab yang datang di musim haji.
Rasulullah SAW memanfaatkan momen ini untuk menjangkau lebih banyak orang dan menyampaikan ajaran Islam. Beliau mendatangi kabilah-kabilah Arab dan menawarkan diri untuk bergabung dengan mereka, serta mengajak mereka untuk memeluk Islam.
Sebelum musim haji tiba, Rasulullah SAW semakin menggencarkan dakwahnya di sekitar Mekkah yang masih di dominasi kafir Quraisy sekaligus mencari dukungan politik atas dakwah beliau untuk perlindungan dari para pengikutnya yang telah memeluk Islam. Melihat banyaknya tantangan dakwah yang di hadapi saat melakukan dakwah sehingga membutuhkan dukungan kekuatan politik untuk melindungi dakwah Rasulullah SAW .
Peristiwa ini terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun kesepuluh nubuwah, tepatnya pada akhir Juni atau awal Juli 619 M. Rasulullah kembali ke Makkah, memulai langkah baru menawarkan Islam kepada berbagai kabilah dan individu. Beliau pun memanfaatkan momentum haji untuk melaksanakan misi mulia ini.
Rasulullah SAW mendatangi beberapa kabilah untuk berdakwah, di antaranya Bani Kalb (Kabilah Abdullah), Bani Khazraj, Aus, dan beberapa kabilah lainnya. Namun di antara sejumlah kabilah yang pernah di datangi Rasulullah SAW hanya dua kabilah yang mau menerima dakwah beliau yaitu para pemuda kabilah Aus dan Khazraj dari Yastrib dari Madina yang akhirnya berbaiat (sumpah setia) di Aqabah yang sering di sebut Bai’at Aqabah I, yang menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam. Dan itu semua terjadi di musim haji.
Di musim haji berikutnya suatu kesempatan, Rasulullah SAW mengajak 70 pemuda Yastrib (Madinah) untuk berbaiat (berjanji setia) dan menyeru mereka untuk mengikuti ajaran Islam yang di sebut Bai’at Aqabah II.
Dakwah Rasulullah SAW di musim haji membuahkan hasil, seperti perjanjian Aqabah II yang mengantar sebagian penduduk Yastrib (Madinah) untuk memeluk Islam yang akhirnya Islam pun menyebar luas menjadi institusi Islam pertama di jazirah Arab yang menerapkan Islam secara totalitas. Sejarah yang terlupakan yang harusnya dapat menjadi motivasi umat Islam di seluruh dunia untuk bersatu dengan kekuatan kepemimpinan Islam sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah SAW.
Pentingnya Persatuan Kaum Muslimin di bawah satu Kepemimpinan Islam.
Dengan melihat kekuatan yang dimiliki umat Islam. Umat Islam semestinya membangun kekuatan sendiri untuk menyelesaikan urusan mereka. Tidak bergantung pada negara-negara kafir penjajah seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, Rusia ataupun RRC. Umat Islam sedunia akan menjadi kekuatan adidaya jika bersatu dan menyatukan seluruh potensi yang mereka miliki. Jumlah mereka hampir 2 miliar. Sumberdaya alam mereka luar biasa berlimpah. Potensi geopolitik dan geostrategis mereka sangat menguntungkan. Kekuatan militer mereka juga sangat besar.
Namun demikian, semua potensi dan kekuatan itu tidak ada artinya saat umat tidak memiliki political will untuk bersatu dan membangun kekuatan adidaya. Potensi dan kekuatan yang luar biasa itu hanya akan seperti buih-buih di lautan yang segera lenyap ditelan gelombang. Juga tidak ada artinya potensi dan kekuatan Dunia Islam yang sangat besar itu jika kaum Muslim masih dipimpin oleh para penguasa yang masih mau tunduk pada negara-negara kafir penjajah.
Karena itu umat Islam sedunia harus sudah mulai bergerak untuk bersatu dalam ukhuwah islamiyah tanpa melihat perbedaan yang ada. Mereka harus segera menghapuskan sekat kebangsaan, tapal batas dan kepentingan sektoral. Semuanya wajib disatukan dalam ukhuwah islamiyah dalam naungan sistem pemerintahan Islam global, yakni Khilafah Islamiyah.
Inilah satu-satunya institusi yang sah menurut syariah sebagai wadah persatuan umat Islam sedunia. Institusi ini pula yang akan menjadi adidaya pelindung umat dari berbagai tikaman negara-negara kafir penjajah Barat maupun Timur. Hanya dengan itulah umat Islam akan meraih kembali posisinya sebagai umat terbaik.
Wallahu a’lam.
Penulis: Ifah Rasyidah (Pegiat Literasi Islam)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













