OPINI—Aksi kritik terhadap pemerintah melalui mural atau cara melukis di atas media dinding atau tembok kini tak bisa lagi dilakukan. Pasalnya sejumlah mural di beberapa daerah yang mengandung kritik dihapus. Mulai dari mural dengan Kalimat ‘Tuhan Aku Lapar‘, ada juga ‘Dipaksa Sehat di Negara yang Sakit‘, hingga mural gambar wajah yang mirip dengan presiden yang bagian matanya ditutupi dengan tulisan 404 Not Found. Aparat segera menghapus dan mencari pelaku karena dianggap melanggar peraturan daerah dan dinilai provokatif. (Tempo.co. 14/08/2021)

Perasaan Gemas, kecewa, marah, bahkan putus asa. Itulah kesan yang tertangkap dari berbagai mural yang tiba-tiba bermunculan dan viral. Kini masyarakat menyayangkan sikap aparat yang menghapus.

Tentu mural bukanlah suatu hal yang asing lagi bagi kita. Bukan hanya di Indonesia bahkan di luar negeri pun mural cukup terkenal, mural bukan cuma dianggap seni tapi kadang wadah sebagai bentuk aspirasi. Bahkan bukan hanya mural, cara beraspirasi pun bermunculan dalam beragam bentuk lainnya. Seperti poster-poster yang dipublikasikan di media sosial, serta produk video yang dibuat para vloger pemula yang lugas mengkritik para penguasa.

Tak tampak rasa takut, bahkan terkesan setengah nekat. Tapi sebagaimana mural, apa yang disampaikan benar-benar mewakili perasaan rakyat atas situasi yang terjadi dan bagaimana pandangan mereka terhadap para penguasa yang dipandang makin abai mendengar keluhan rakyat. Merebaknya kritik sosial dalam berbagai bentuk seperti mural, poster, dan vlog setidaknya memotret pergolakan pemikiran dan perasaan rakyat yang sedang terjadi, bahkan kian memuncak terhadap penguasa mereka.

Saat semua saluran dianggap buntu, tembok dinding, aplikasi medsos, bahkan aspal jalanan pun mereka jadikan sebagai media perlawanan atas sikap para pemimpin atau pemangku jabatan yang dipandang makin hilang rasa.

Di luar negeri sendiri seperti di Inggris, ada seniman mural misterius bernama Banksy yang memakai mural sebagai sarana kritik. Muralnya yang paling terkenal adalah mural berjudul ‘Girl with Balloon‘ di London, Inggris yang menggambarkan gadis muda dengan tangan terjulur ke arah balon merah berbentuk hati. Ini adalah bentuk kritik atas krisis di Timur Tengah yang membuat anak-anak menjadi pengungsi.

Selain itu, muralnya pun pernah muncul di tembok-tembok Paris pada 2017 sebagai kritiknya terhadap kapitalisme dan krisis pengungsi yang sedang meliputi Eropa. Di Amerika Serikat ada Megan Wilson ia adalah seniman mural yang juga memakai mural sebagai sarana kritik sosial-politik.

Mirisnya pun, para penguasa alih-alih berkonsentrasi mendengar keluhan rakyat dan menyelesaikan problem bangsa. Mereka malah mulai tebar pesona lewat baliho dengan biaya yang begitu fantastis. Lalu mulai saling serang demi rebutan kursi di kontestasi pemilu yang akan berlangsung tiga tahun lagi.

Wajar ketika rakyat sudah merasa marah dan kecewa. Catatan hitam mereka sudah berderet panjang di belakangnya. Rakyat tak akan mudah melupakan berbagai kezaliman, ketidakadilan, pengkhianatan dan sikap represif.

Kini kekuasaan di anggap hanyalah alat untuk menyelamatkan kepentingan rezim dan segelintir orang. Di tengah buruknya pelayanan pada rakyatnya, upaya untuk memoles kekuasaan terus dijalankan.

Harusnya kita menyadari bahwa sistem hari ini sebagai alat untuk mengamankan kepentingan segelintir pihak. Kritik yang dianggap sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja muncul dalam pemerintahan saat ini, nyatanya bersifat elastis. Pendapat mana yang sejalan dengan kepentingan penguasa, itulah yang dimunculkan ke permukaan.

Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, seolah sebatas slogan. Bersuara cukup sekali, saat dibutuhkan dalam pesta demokrasi. Selepasnya, rakyat tak boleh bersuara.

Konsep ini dianggap kontras dengan realitas, bahkan dianggap ilusi yang membual akan jaminan kebebasan berpendapat. Bahkan tidak jarang mereka berpendapat bahwa semua ini disebabkan oleh kita yang belum dewasa dalam menjalankan semua.

Dalam pandangan Islam melakukan aktivitas muhasabah lil hukkam (aktivitas mengoreksi penguasa) merupakan aktivitas yang dibenarkan bahkan dianjurkan. Terlebih mengoreksi segala kezaliman yang dilakukan.

Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Ahmad Rasulullah saw. bersabda, “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran terhadap penguasa yang zalim
Kita harus memahami mengkritik berbeda dengan menghina. Menghina tentu tidak diperbolehkan. Sayangnya dalam sistem demokrasi, segalanya menjadi bias. Benar tidaknya sesuatu kadang diserahkan pada penguasa yang sedang berkuasa.

Islam, sebagai agama yang paripurna. Mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk di dalamnya masalah kepemimpinan negara. Melahirkan pemimpin yang terbuka dengan rakyatnya, mendengar keluhan mereka, dan menerima kritikan, masukan serta nasihat mereka. Hal itu telah dicontohkan Nabi saw. dan pemimpin sepeninggal beliau.

Rasulullah saw. pernah didatangi seorang perempuan hamil yang mengaku telah berbuat zina. Si perempuan menyampaikan penyesalannya kepada Rasul dan berharap diberikan sanksi berupa hukum rajam. Keterbukaan itu terjadi karena sifat tabligh Rasulullah.

Khalifah Umar pun pernah menerima dengan lapang kritik seorang perempuan mengenai mahar. Umar pun mendengar keluhan itu dan menerima. Ini membuktikan bahwa seorang pemimpin itu tidak boleh antikritik, senantiasa mendengar aspirasi rakyatnya dan memberikan solusi tuntas.

Jika melihat hal ini tentu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memilih islam dalam melahirkan sosok pemimpin yang menjadi dambaan ummat.

Wallahualam bish Showab

Penulis: Balqis, S.Pd (Pendidik dan Aktivis Muslimah)

***

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.