Optimisme Pasca Pemilu
Optimisme Pasca Pemilu, Fathimah Ali (Mahasiswi Makassar)

OPINI – Pemilu telah usai. Pihak petahana menyambut dengan gempita. Bagaimana dengan Kubu Prabowo-Sandi? Inilah pesta demokrasi. Pesta sekali lima tahun diadakan dinegeri ini. Apakah pasca pemilu Indonesia akan lebih baik atau justru sebaliknya?.

Ironi dan Tragedi Pasca Pemilu

Banyak kalangan menilai, pemilu tahun ini gagal bahkan terburuk sepanjang sejarah. Kegagalan tampak dari balasan ribu korban yang sakit bahkan menelan korban sekitar 600 jiwa. Dana yang digunakan tidak tanggung-tanggung sebesar Rp25 triliun.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua DPR, Fadli Zon membandingkan pemilu 2019 dengan kerja paksa zaman kolonial belanda.

Menurutnya, jumlah korban petugas KPPS lebih banyak dibanding korban saat kerja paksa. Bahkan dia meragukan penyebab korban berjatuhan pemilu 2019 akibat kelelahan (CNN Indonesia, 3/5/2019).

Sistem demokrasi terbukti gagal dan menunjukkan kemorostan kualitas demokrasi. Benarlah apa yang disampaikan Thomas Jefferson, “Decline from democracy to tyranny is invitable“. Kemorosotan dari demokrasi menjadi tirani tidak terelakan.

Jargon demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat telah membuka mata. Justru mengorbankan rakyat. Dan umat khususnya nitizen heboh terkait pertemuan Presiden Jokowi dan Prabowo.

Akankah harapan umat kepada pak Prabowo pupus? Inilah wajah demokrasi sesungguhnya. Dalam demokrasi tidak ada kawan dan lawan sejati. Yang ada kepentingan sejati.

Optimisme Pasca Pemilu

Demokrasi pada hakekatnya lahir dari ideologi kapitalisme. Para pemilik modallah yang menetukan siapa yang layak jadi penguasa.

Imbas dari itu semua negeri ini terus terpenjara dari penjajahan diberbagai lini. SDA dirampok atas nama privatisasi lewat Undang-Undang.

Jumlah utang LN terus meroket. Liberalisasi mengancam generasi, proyek OBOR menyala di negeri ini yang hanya menguntungkan Cina.

Berbagai kemaksiatan lainnya. Sungguh kita tak bisa diam dari persoalan yang melanda negeri ini. Kita harus menjadi bagian untuk mengawal perubahan untuk indonesia lebih baik. Menuju negeri baldatun thoyyibatun wa rabbul ghafur.

Keberkahan negeri hanya bisa diraih dengan menjadikan syariat Allah sebagai sumber hukum.

Meski Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya mengalami kekalahan karena penjajahan ideologi kapitalisme sebagai muslim kita harus optimis.

Dengan dakwah secara pemikiran ditengah-tengah umat. Mengikuti metode dakwah Rasulullah SAW.

Keyakinan dan Kesabaran dalam Perjuangan

Pengemban dakwah harus yakin dan terus berinteraksi ditengah-tengah umat untuk merobohkan demokrasi kapitalisme. Kereta dakwah terus melaju dan pastikan kita berada diatasnya.

Ditengah derasnya upaya menghadang dakwah dengan berbagai ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan. Kondisi penuh kediktatoran penguasa untuk membendung dakwah.

Penuh keyakinan dan kesabaran. Kesabaran terbaik patut kita teladani keluarga Yassir. Berbagai penyiksaan mereka dapatkan dari quraisy. Tak sedikitpun menjadikan mereka berpaling.

Rasulullah SAW bersabda, “Tetap bersabarlah keluarga Yasir sungguh telah disediakan untuk kalian surga’. Keyakinan akan janji Allah SWT dan kabar gembira Rasulullah SAW Akan kembalinya khilafah Rasyidah akan mendobrak segalanya.

Menyongsong janji Allah SWT dengan mengerahkan tenaga, waktu, harta hingga nyawa. Bukan dengan berpangku tangan.

Konsekuensi keimanan dalam rangka menolong agama Allah. Allah swt berfirman, “Wahai orang-orang beriman! Jika engkau menolong (Agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (TQS. Muhammad [47]:7).

Insya Allah keyakinan dan kesabaran akan membuahkan hasil. Allah SWT berfirman; “Kapankah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah dekat (TQS Al-Baqarah [2]: 214). Wallahu ‘Allam. [*]

Penulis: Fathimah Ali (Mahasiswi Makassar)