Karena pada dasarnya pemuda milenial, mereka tumbuh dan berkembang di lingkungan sosial budaya digital yang terkoneksi langsung secara global, serta yang demikian mereka jadikan sebagai sumber informasi dalam memberikan persepsi terhadap segala sesuatu di kehidupan nyata.
Kehidupan dunia yang relatif dan tantangan yang dihadapi pemuda milenial telah membentuk suatu persepsi milenial tentang kepahlawanan. Sehingga, figur kepahlawanan di masa lalu, belum tentu terkoneksi dengan tantangan generasi milenial saat ini, karena diangap kurang relevan dengan zamannya. Sedangkan bagi generasi milenial, pahlawan harus relevan dengan tantangan zaman di era sekarang.
Masalah yang dihadapi sekarang adalah terkait tentang bagaimana cara menciptakan pemuda milenial yang optimis dan cakap dalam menghadapi dinamika zaman, akan tetapi juga tetap relevan dengan konteks sekaran tanpa melupakan nilai-nilai kepahlawanan yang telah ada sebelumnya.
Dengan adanya akomodasi konsep pemuda milenial mengenai pahlawan sesuai dengan eranya, maka konsep pahlawan tidak hanya menjadi sejarah masa lalu. Namun, pahlawan juga bisa berada dan hidup di era sekarang untuk memberikan kontribusi terbaiknya kepada Indonesia.
Saat ini kita memasuki era society 5.0, dan bangsa Indonesia membutuhkan banyak pahlawan. Sehingga sudah menjadi amanah bersama untuk menjadi dan menciptakan serta melahirkan pahlawan-pahlawan baru yang relevan dengan konteks sekarang tanpa melupakan nilai-nilai kepahlawanan yang ditinggalkan oleh para pejuang kemerdekaan.
Para pemimpin di seluruh negeri, idealnya juga memberikan contoh terkait nilai-nilai kepahlawanan yang di tinggalkan oleh pejuang kemerdekaan, yang rela memberikan pengorbanan atas kepentingan sosial dan bukan untuk kepentingan individu semata. Karena sebagian pemimpin terlalu sibuk dengan agenda memperkaya diri dengan menyalahgunakan kewenangan jabatan dan sibuk mempromosikan diri lewat pencitraan di media sosial.
Hari pahlawan 10 November 2022 ini, idealnya para pemimpin berhenti berbicara mengenai kepentingan diri pribadi dan mencari popularitas. Seharusnya yang menjadi topik, adalah bagaimana membangun negeri dan kontribusi apa yang harus diberikan. Karena pemimpin adalah figur yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan perilaku pemuda milenial. Dengan harapan bangsa ini bisa progres dan membenahi ketertinggalannya dari bangsa-bangsa lain. (*)
Penulis: M. Rusdi, M.Pd (Dosen Ilmu Pendidikan Sosiologi Universitas Iqra Buru)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.












