Pandemi Covid-19, Haruskah Menjadi Pintu Masuk Bagi Hilangnya Budaya Nusantara

Ambang Ardi Yunisworo (Pemimpin Redaksi Mediasulsel.com)

OPINI – Wabah Coronavirus Disiase (Covid)19 yang merebak seantero bumi yang belakangan ini mengekang pola hidup kita, sepertinya akan menjadi pintu masuk bagi punahnya budaya Nusantara yang telah lama dipertahankan sejak zaman leluhur kita.

Jargon “New Normal” yang belakangan mulai dikampanyekan oleh pemerintah, membawa kita kepada sebuah era baru yang bisa jadi akan melahirkan kebiasaan baru yang menghilangkan budaya Nusantara yang telah ada sebelumnya sejak ratusan tahun silam.

Bangsa Indonesia yang mengedepankan pola hidup Gotong Royong yang mulai menipis khususnya di perkotaan, berpotensi akan lebih cepat punah, dengan adanya gaya hidup jaga jarak yang akan diterapkan dalam “new normal” ini.

Gotong royong yang hampir semua suku bangsa yang hidup dibelahan bumi Nusantara menganutnya, dimana hal ini menekankan hidup dalam kebersamaan, penjalinan silaturahmi atau kekeluargaan yang mendalam.

Tentu lambat laut akan menjadi tidak dikenali oleh generasi bangsa ini, jika pola hidup ‘Jaga Jarak’ jadi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

‘Jaga Jarak’ yang bisa berkonotasi menjauhkan satu dengan yang lain, berpotensi akan melahirkan kebiasaan untuk saling menjauh dengan siapapun dengan dalih untuk menjaga kesehatan, meski hal itu tidak mutlak benar.

Berita Lainnya

Namun perlu kiranya anak bangsa waspada terhadap potensi yang sengaja diciptakan oleh konspirasi manapun yang menginginkan hilangnya Gotong Royong yang sebetulnya merupakan kekuatan bangsa ini.

Melemahnya semangat gotong royong dari efek terhadap prilaku hidup jaga jarak, bisa jadi akan melahirkan perpecahan yang lebih besar, ketika kemudian hari jaga jarak ini dibarengi dengan adanya rasa curiga terhadap pihak lain yang dianggap sebagai pembawa penyakit.

Lihat Juga:  Jeratan Utang Ditengah Wabah Virus Corona

Bersalaman yang notabene sebuah simbol dekatnya hubungan antara satu dengan yang lain yang kemudian juga perlahan-lahan hilang akibat ketakutan terhadap penyebaran virus, tentu bisa saja lambat laun tidak lagi dikenali fungsi dan manfaatnya oleh anak cucu kita, jika penerapan hal ini berkepanjangan.

Berawal dari kebiasaan untuk tidak bersalaman jika bertemu seseorang, lama-lama akan menjadi sebuah kebiasaan yang mengarah pada rasa tidak perlu lagi bersalaman, yang bahkan kebiasaan “sungkem” dengan orang yang lebih tua, sebagai simbul rasa hormat yang santun, berpotensi akan lenyap dari belahan bumi ini.

Penggunaan masker yang mengakibatkan seseorang sulit mengenali orang lain, ini akan berdampak terhadap kemungkinan terjalinnya kembali tali silaturahmi yang putus akibat jarak dan waktu, sehingga jangan lagi pernah berharap kita dapat menyapa keluarga atau mungkin kawan lama yang tidak pernah bertemu, meski kita saling berhadapan.

Jika saat ini kita masih bisa meraba-raba dan memberanikan diri untuk menyapa seseorang yang pernah kita kenal, namun telah beberapa tahun tidak ketemu.

Kemudian dengan ragu-ragu kita menyapa dengan sopan sambil mempertanyakan apakah sesorang tersebut teman lama kita, maka jangan berharap ketika kewajiban masker di tempat umum ini dilanjutkan, hal itu bisa terjadi lagi.

Penggunaan masker tidak menutup kemungkinan akan merubah kita yang selama ini menjunjung tinggi rasa persaudaraan, akan merubah kita menjadi sangat idividualistis, karena kita tak lagi bisa mengenali satu dan lainnya jika ketemu di sebuah tempat.

Meski saya yakin, saat ini hal itu telah sering kita alamai jika ketemu orang lain, membuat kita tidak mengenali siapa dia, meski mungkin sebelumnya kita berkawan karib.

Bukankah sebelum pandemi ini kita berasumsi, jika lebaran tiba, kita serasa menjadi anak yang tidak berbakti kepada orang tua yang sudah berkorban membesarkan kita, jika kita tidak menyempatkan waktu untuk mengunjunginya meski hanya sekejap.

Lihat Juga:  Cegah Penularan Covid-19, IPM Sulsel Serukan Para Pelajar Tetap Berada di Rumah

Lalu jika saat ini berkunjung ke orang tua “saat lebaran” kita dianggap membawa sebagai bencana bagi mereka, sebetulnya apa yang sedang kita lakukan .

Apakah kita akan mengorbankan warisan-warisan leluhur yang merupakan budaya bangsa ini, yang telah mendarah daging dan mengakar di kehidupan sehari-hari kita, kita hanya mengandalkan teknologi untuk bersilaturahmi, tak bersentuhan dianggap lebih baik dibanding bersentuhan, sungkem orang tua dianggap sebagai bencana, menjaga jarak dianggap lebih sopan dibandingkan mendekatkan badan?

Berkunjung ke rumah kolega, sahabat ataupun keluarga dianggap sebagai malapetaka, beribadah bersama di rumah ibadah dianggap sebagai awal prahara, berkumpul menjadi hal yang tabu, arisan, reuni, pengajian dan hal lain pengikat tali silaturahmi dengan berkumpul menjadi sesuatu yang terlarang.

Jadi apakah iya kita akan bersepakat masuk fase itu, fase dimana kita tak lagi seperti saudara karena mendekat, tetapi saudara keluarga adalah saling menjaga dengan saling menjauh.

Selamat Memilih antara new normal, atau kita kembali ke pola hidup lama, yang lebih dipenuhi nuansa kekeluargaan, kedamaian meski dengan segala apapun resiko yang harus kita terima. (*)

Penulis: Ambang Ardi Yunisworo (Pemimpin Redaksi Mediasulsel.com)

Berita terkait