Hamid yang juga Sekretaris Badan Pengurus Filantropi Indonesia menyatakan pihaknya menerima informasi tentang kendala penerima vaksin Janssen ini dari beberapa komunitas di daerah yang menjadi penerima Vaksin Janssen, seperti di Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Barat.
“Kementerian Kesehatan juga perlu mensosialisasikan kekhasan vaksin Janssens dibanding vaksin-vaksin lain pada Kementerian Perhubungan, Dinas Perhubungan di daerah, dan para pengelola transportasi pesawat, kereta, dan kapal laut yang mensyaratkan vaksinasi,” kata Hamid Abidin.
Banyak Diberikan Kepada Masyarakat Adat dan Kelompok Rentan
Koordinator tim vaksinasi disabilitas Organisasi Harapan Nusantara (OHANA), Nuning Suryantiningsih, mengatakan warga penerima vaksin Janssen di Waingapu, Sumba, Nusa Tenggara Timur, kesulitan bepergian karena hanya menerima satu dosis vaksin. mereka selalu ditanya tentang dosis 2 dan booster saat harus ke luar kota.
“Masalahnya, mereka akan diminta menunjukkan bukti telah mendapat vaksin ke-2 ketika mengajukan booster,” kata Nuning.
Indonesia memanfaatkan beberapa vaksin COVID-19 sekali suntik. Dua di antaranya adalah vaksin Janssen dan vaksin Convidecia. Vaksin Janssen banyak diberikan kepada masyarakat adat dan kelompok rentan, seperti penyandang disabilitas dan warga di wilayah terpencil.
Pertimbangannya, vaksin ini efisien karena hanya perlu satu dosis sehingga mempermudah akses tanpa perlu bolak-balik ke lokasi penyuntikan.
“Vaksin sekali suntik menjadi tumpuan penyandang viabilitas karena mereka juga tidak perlu dua kali ikut vaksin. Penyelenggara vaksinasi juga tak perlu dua kali menggelar vaksinasi. Berdasar atas pengalaman di Bantul, Yogyakarta, pada Agustus tahun lalu, dibutuhkan persiapan panjang, tempat khusus, dan tenaga tambahan untuk menggelar vaksinasi bagi kalangan disablitas,” jelas Nuning.
Nuning mengatakan, program vaksinasi kalangan disabilitas memerlukan persiapan pamjang, mulai dari lokasi yang mudah diakses berbagai penyandang disabilitas hingga penyediaan tenaga penerjemah bahasa isyarat bagi tuna rungu.













