Penulis: Indah Ummu Izzah (Pemerhati Anak dan Remaja).

OPINI – Perundungan atau yang lebih dikenal ‘bullying’ semakin marak terjadi di sekolah-sekolah. Meskipun kasus ‘bully’ ini sudah ada sejak dahulu, namun ini semakin muncul ke permukaan dan seaakan sudah menjadi hal yang lumrah terjadi khususnya di lingkungan sekolah.

Sebagaimana yang dilansir oleh Kompas.com bahwa ada sederet kasus ‘bullying’ atau perundungan yang terjadi di sejulah sekolah di Indonesia beberapa bulan terakhir. Kasus terbaru terjadi di salah satu Sekolah Menengah Pertama di Purworejo, Jawa Tengah.

Masih di bulan Februari, seorang siswi SMPN di kota Malang menjalani operasi amputasi jari setelah menjadi korban ‘bully’ 7 orang teman sekolahnya. Kompas.com, 14/2/2020.

Kasus ‘bully’ini sudah sampai kepada taraf darurat karena korbannya yang sudah semakin banyak. Bukan hanya mengalami tekanan jiwa, tapi telah berujung pada kematian.

Lalu mengapa kasus ‘bully’ ini tak kunjung reda? malah menjadi ‘momok’ yang menakutkan seakan sulit untuk dihentikan?

Ada banyak faktor yang menyebabkan kasus ‘bullying’ ini terjadi. Mulai dari dendam sampai hanya untuk eksistensi diri. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, sampai kapan perundungan atau ‘bullying’ ini akan terjadi?

Akar Masalah

Peran orangtua sebagai pendidik utama yang tidak berjalan dengan baik. Sistem Sekular-Kapitalis menyebabkan orangtua abai dalam proses pendidikan anak. Padahal keluarga adalah basis pendidikan utama. Rumah sejatinya adalah madrasah bagi anak.

Kapitalisme menyebabkan beban hidup setiap keluarga begitu berat, sehingga harus memeras otak dan banting tulang dalam mencari kehidupan. Maka orangtua sibuk mengejar materi, menghabiskkan waktu lebih banyak di luar rumah.

Peran ibu sebagai pendidik utama tak lagi memberikan perhatian dan kasih sayang. Tidak bisa memberi arahan akan kehidupan yang harus dicapai oleh anak-anaknya. Akhirnya anak terdidik dengan televisi dan gadget.

Padahal dari media-media itulah anak mendapatkan pengaruh buruk tentang pergaulan, kekerasan dan aktivitas kriminal lainnya.

Sementara itu, sekolah sebagai institusi pendidikan, alih-alih mencetak generasi muda yang berkualitas, memiliki kepribadian yang kuat sesuai dengan tujuan pendidikan.

Justru menghasilkan generasi muda yang banyak masalah. Padahal pemerintah telah menetapkan tujuan pendidikan nasional yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa serta berkembangnya potensi diri yang optimal.

Memang seharusnya seperti itulah proses pendidikan. Melahirkan pelajar yang mempunyai kepribadian yang berasal dari keimanan dan ketakwaan yang tinggi serta memiliki kemampuan berbasis kompetensi yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya kelak.

Hanya saja, sistem pendidikan saat ini adalah sistem pendidikan sekular kapitalistik. Membentuk pelajar yang hanya mengejar nilai. Tanpa peduli nilai qurani.

Materi agama yang waktunya hanya dua jam dalam sepekan, sangat tidak relevan dengan tujuan membentuk insan yang mu’min-muttaqin.

Rohis sebagai wadah untuk menambah nilai-nilai agama pun telah pudar pesonanya seiring isu radikalisme. Kata iman dan takwa tidak mewujud dalam kenyataan.

Belum lagi berbisa kualitas guru. Dalam sistem Kapitalisme, guru tidak hanya terbebani oleh setumpuk bahan ajar. Mereka juga dipusingkan dengan beban hidup yang semakin mencekik.

Sementara penghargaan pemerintah jauh dari nilai layak untuk para pendidik ini. Akhirnya proses belajar mengajar hanya untuk memenuhi kewajiban saja. Belum lagi metode pengajaran yang hanya mengedepankan transformasi ilmu, mengabaikan transformasi positif yang menjadi suri teladan.

Islam Memandang

Generasi muda adalah generasi penerus peradaban. Calon pemimpin masa depan suatu bangsa. Maka semua pihak harus terlibat dalam proses pendidikannya.

Juga mengambil peran dalam pembentukan kepribadiannya. Baik sekolah, keluarga, masyarakat dan negara.

Semuanya harus bersinergis mewujudkan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan generasi yang beriman dan bertakwa serta mengembangkan potensi diri dengan optimal.

Keluarga harus mengambil perannya sebagai institusi pertama dan utama. Melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak. dari rumahlah pertama kali dasar-dasar keIslaman ditanamkan.

Tempat di mana orangtua mengenalkan Pencipta kepada anak. Orangtua wajib mendidik anak-anaknya dengan perilaku dan budi pekerti yang sesuai dengan ajaran Islam. Membangun pembiasaan memilih kalimat-kalimat yang baik, sopan, santun dan kasih sayang kepada sesama.

Orangtua juga menjadi role model penerapan syariat Islam dalam rumah. Sehingga anak terbiasa mengedepankan perkara halal haram dalam memilih atau menyelesaikan masalah. Hal inilah yang akan membentuk pribadi anak yang shaleh dan terikat dengan aturan Islam.

Masyarakat juga memiliki peran dalam pembentukan generasi. Karena generasi muda adalah bagian dari masyarakat. Interaksi dalam lingkungan ini sangat berpegaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan generasi. Masyarakat memiliki peran penting sebagai kontrol sosial.

Tatkala masing-masing anggota masyarakat memandang betapa pentingnya suasana kondusif dalam pertumbuhan dan perkembangan generasi muda, maka semua orang akan sepakat mana perkara-perkara yang membawa pengaruh positif atau sebaliknya, bagi pendidikan generasi muda. Perkara yang membawa pengaruh negative akan dicegah bersama.

Peran paling penting dan strategis bagi pendidikan generasi muda ada pada negara, yaitu melalui pembentukan sistem pendidikan.

Kurikulum pendidikan harus dikembalikan pada asasnya yaitu aqidah Islam yang menjadi arah dan tujuan pendidikan.

Negara juga harus menyediakan sarana pendidikan yang baik dengan biaya murah serta mempersiapkan tenaga pengajar yang handal di bidangnya masing-masing.

Bukan hanya handal tetapi juga memiliki kepribadian Islam yang baik dan dapat menjadi teladan bagi peserta didiknya.

Negara juga harus mengontrol dan menetapkan aturan terhadap media-media yang diakses oleh rgenerasi muda.

Memastikan bahwa media-media tersebut tidak keluar dari rambu-rambu yang sudah ditetapkan. Sehingga generasi tidak terpapar oleh konten-konten yang merusak. Wallahu a’lam bisshawab. (*)

Penulis: Indah Ummu Izzah (Pemerhati Anak dan Remaja)