MAKASSAR—Universitas Hasanuddin (Unhas) resmi mengumumkan rencana Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2025 pada acara yang digelar di Gedung Rektorat Unhas, Tamalanrea, Rabu (18/12/2024).
Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menegaskan komitmen Unhas untuk tetap memberikan peluang kepada mahasiswa disabilitas melalui jalur afirmasi khusus.
“Meskipun tantangannya tidak mudah, kami terus berupaya menyediakan jalur khusus dan membangun difabel center untuk mendukung mereka. Tahun depan, kami harap lebih banyak disabilitas yang bisa diterima,” ujar Prof. Jamaluddin.
Selain itu, ia menyampaikan bahwa Unhas juga melakukan sosialisasi ke sekolah luar biasa untuk menjangkau calon mahasiswa disabilitas.
“Ini adalah bagian dari tanggung jawab kami sebagai institusi pendidikan. Mereka adalah simbol inspirasi. Jika mereka bisa berusaha, tentu kita semua harus belajar dari mereka,” tambahnya.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp. BM (K), menjelaskan skema penerimaan mahasiswa baru yang meliputi tiga jalur utama: SNBP, SNBT, dan Seleksi Mandiri.
Ia menekankan bahwa Unhas memprioritaskan jalur SNBP dan SNBT, sementara kuota Seleksi Mandiri dibatasi hingga 21 persen.
“Seleksi Mandiri di Unhas menawarkan banyak pilihan, mulai dari Mandiri UTBK, Mandiri non-UTBK, hingga jalur khusus seperti Afirmasi Disabilitas dan Talent Showcase. Tidak semua jalur Mandiri membebankan biaya tinggi; misalnya, jalur Ketua OSIS dikenakan UKT reguler,” jelas Prof. Ruslin.
Tingkat keketatan seleksi Unhas juga menjadi sorotan. Pada 2023, tingkat keketatan mencapai 16,4 persen, sementara pada 2024 turun sedikit menjadi 15,22 persen, meskipun jumlah peminat meningkat signifikan.
Sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), Unhas memiliki fleksibilitas dalam menentukan kebijakan jalur Mandiri. Namun, Prof. Jamaluddin menegaskan bahwa kebijakan tersebut tetap memperhatikan kemampuan ekonomi masyarakat, khususnya di kawasan Indonesia Timur.
“Kami tidak ingin membebani mahasiswa dengan biaya tinggi. Jika kondisi ekonomi di wilayah ini membaik, mungkin ke depan kuota Seleksi Mandiri dapat ditingkatkan,” ungkapnya.
Unhas berharap skema penerimaan yang inklusif dan transparan ini dapat memberikan akses pendidikan tinggi yang lebih luas, sekaligus menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi lainnya. (*/4dv)













