OPINI—Setahun kepemimpinan Mendikbud, Nadiem Makarim diperingati 23 Oktober lalu. Banyak kebijakan kontroversi ala Nadiem sejak beliau menjabat. Bapak Menteri dengan background pengusaha, pendiri Gojek Indonesia, terkesan optimis akan memajukan pendidikan Indonesia dengan ide-ide yang tak biasa.

Namun, beberapa pihak malah memberikan penilaian yang kurang baik, bahkan memberi angka di bawah rata-rata. Indikasi kegagalan di tahun pertamanya. Ini tentu hal yang tidak fair, jika menilainya secara personal, sebab kebijakan-kebijakan yang ditempuh tak lepas dari sistem apa yang dianut negeri ini.

Seperti yang diungkapkan Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti yang memberikan nilai 55 untuk kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dikeluarkan Mendikbud, Nadiem Mukarim. Penilaian tersebut dikeluarkan dalam rangka menyoroti kinerja Nadiem Makarim dalam setahun menjadi Mendikbud.

“Kami beri nilai 55 karena kami punya data-data survei dan memiliki perwakilan berbagai daerah yang guru-guru ini betul-betul pelaku lapangan dan berhubungan dengan orangtua murid,” kata Retno di acara Rapor Merah 1 Tahun Pendidikan Mas Menteri Nadiem secara virtual, Minggu (Kompas.com, 25/10/2020).

Senada dengan hal tersebut, Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim mengungkapkan bahwa hingga saat ini masih banyak pelajar dan pengajar yang belum mendapatkan bantuan kuota internet gratis untuk PJJ. Total pendidik dan peserta didik yang berhak dapat bantuan kuota kan hampir 58 juta (data Pusdatin), nah yang disalurkan bulan September tak sampai 30 juta nomor. Artinya tidak maksimal penyaluran dan sasarannya,” imbuh Satriwan (Suara.com, 23/10/2020).

Patut menjadi renungan bahwa kondisi negeri ini sedang sakit parah. Berbagai kerusakan mendera hampir di semua sendi-sendi kehidupan. Kali ini tentang PJJ, yang menuai banyak masalah. Rapor merah yang disematkan kepada Pak Nadiem di satu tahun menjabat Mendikbud, tidak serta merta menggambarkan kesalahan personal Pak Menteri. Tersebab jabatan yang beliau emban, tak berdiri sendiri. Aroma politik kerap dikedepankan dalam negara demokrasi, sehingga sangat rentan terjadi penyimpangan atau kongkalikong antara penguasa dan pengusaha.

Sistem Pendidikan Sekuler

Berbagai problem seputar dunia pendidikan terus terjadi, baik skala siswa maupun mahasiswa. Kebijakan-kebijakan pak Menteri seringkali menuai kontroversi. Lompatan ala Nadiem sudah sangat familiar di jagat maya, antara lain Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar. Polemik PJJ masih terus mewarnai sistem pendidikan Indonesia hingga saat ini, yang dinilai prematur dan tidak terukur. Kondisi infrastruktur yang tidak merata di seluruh pelosok negeri dan ekonomi masyarakat yang semakin sulit, menambah panjang derita rakyat, termasuk anak didik maupun pendidik.

Tak dipungkiri, resesi ekonomi yang menimpa Indonesia di tengah pandemi, membuat segala hal menjadi tambah ruwet. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh pemerintah di sektor pendidikan, yakni PJJ, seakan tak mampu meredam problem yang terus bertambah. Ditambah lagi korupsi masih terus terjadi, walau negara dalam kondisi extra ordinary.

Hal ini sangat dimungkinkan, mengingat Indonesia menganut sistem pendidikan sekuler. Sistem yang lahir dari rahim kapitalisme dengan orientasi materi. Negara absen memberikan pelayanan pendidikan terbaik atas rakyatnya. Terkesan tidak sungguh-sungguh memberikan hak pendidikan kepada generasi.

Sistem Terbaik

Terkait pendidikan, Islam memandang sebagai salah satu kebutuhan dasar publik. Negara berkewajiban memenuhinya dengan biaya yang murah bahkan gratis. Sarana dan prasarana dengan kualitas terbaik serta gaji/honor pendidik yang sangat fantastis. Membuat suasana belajar dalam institusi-institusi pendidikan, berjalan dengan nyaman.

Hal ini sudah dibuktikan dalam rentang sejarah selama 13 abad lamanya, kegemilangan peradaban Islam membuat seluruh mata dunia tertuju padanya. Pendidikan berkembang pesat di saat Eropa masih dalam kegelapan.

Negara men-support penuh dalam meriayah rakyatnya, sebagai wujud ketakwaan kepada Rabb-Nya. Lihatlah hasil dari sistem pendidikan Islam, melahirkan generasi cemerlang. Sebutlah Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu Khaldun, Al-Zahrawi, dan sederet nama lainnya. Tumpah ruah penemuan-penemuan kala itu, yang hingga kini masih digunakan di era modern.

Ilmuwan Muslim merupakan peletak dasar ilmu pengetahuan yang tak tertandingi. Cerdas dalam ilmu dunia dan mumpuni dalam ilmu akhirat. Kolaborasi kepribadian generasi terbaik yang dihasilkan oleh sistem pendidikan terbaik.

Lalu dengan kondisi seperti saat ini, masihkah kita ingin hidup dalam sistem yang membuat penderitaan tak berujung? Jika Indonesia ingin mendapatkan kesejahteraan dan keberkahan, selayaknya memilih sistem terbaik yang menerapkan syariat secara total dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk aspek pendidikan. Benarlah firman Allah Swt. dalam QS. Al-Araf: 96, yang artinya:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Wallahualam bishshowab