Terlebih, masyarakat Sulsel dikenal sejak dulu sebagai masyarakat yang taat pada syariat. Adat ketimuran yang kental dan jejak sejarah kesultanan yang bercirikan Islam melekat erat di beberapa daerah. Misal, Kesultanan Gowa Tallo, Kesultanan/Kerajaan Bone, Kesultanan/Kedatuan Luwu, dll.
Nafas Islam begitu terasa dalam dokumen-dokumen sejarah dan masih tersisa di beberapa ruang sempit. Tergerus oleh kehidupan sekuler kapitalis yang membuat generasinya jauh dari nilai-nilai Islam.
Memburu prestasi duniawi tanpa melihat hukum syariat yang menempel pada setiap aktivitas tersebut. Jadilah kebahagiaan yang diperoleh hanyalah kebahagiaan semu, bahkan diduga kuat bisa menyebabkan pelakunya terjerumus dosa.
Kebahagiaan Hakiki
Islam dengan seperangkat aturan yang komprehensif dan paripurna. Mengatur segala hal termasuk aktivitas berolahraga. Syariat telah memberikan aturan yang sangat detail terkait hal tersebut, termasuk peran negara dalam turut serta memfasilitasi prasarana dan sarana olahraga bagi masyarakat.
Semua aktivitas dilakukan dalam rangka meraih takwa. Oleh karena itu, seluruh komponen masyarakat bersinergi dalam mencapainya. Individu, masyarakat, dan paling urgen peran negara dalam menciptakan atmosfer ketakwaan tersebut.
Pun kebahagiaan dalam paradigma Islam sangat berbeda secara diametral dengan kebahagiaan sistem kapitalisme. Dimana rida Allah adalah puncak kebahagiaan seorang muslim. Sehingga untuk menuju kesana, tentu saja harus sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan-Nya.
Sedangkan kebahagiaan semu ala kapitalisme hanyalah berdasar materi belaka. Capaian nominal yang tak akan pernah berhenti dikejar dan tak akan pernah terpuaskan. Sebab, mengejar harta dunia bagaikan minum air asin. Akan menimbulkan rasa haus yang mendera secara kontinu.
Realita tersebut dengan mudah diindera hari ini. Begitu banyak orang menjadi korban sistem kapitalisme. Sistem hidup yang berasas sekuler kapitalis. Mengejar kehidupan dunia yang sangat singkat ini dengan mengorbankan banyak hal. Terjebak oleh kehidupan hedonis liberal, sebagai akibat diterapkannya sistem rusak yang menyalahi kodrat manusia.
Padahal, sejarah peradaban Islam telah menorehkan dengan tinta emas kegemilangan penerapan sistem Islam selama 1300 tahun lamanya. Peradaban yang rakyatnya meraih kesejahteraan luar biasa, tanpa sekat. Bukan saja makhluk hidup, tetapi alam pun terjaga dengan aturan-Nya.
Inilah urgensi meletakkan sesuatu pada fitrahnya. Berolahraga pun punya aturan baku sesuai tuntutan Sang Pencipta. Karena sesungguhnya Allah Swt. menciptakan manusia sesempurna bentuk dan aturan yang melekat padanya.
Menerapkan seluruh aturan-Nya dalam semua aspek kehidupan adalah sesuatu yang urgen dan mendesak. Jangan sampai lelah yang dirasakan di dunia, berakibat azab di akhirat kelak. Wallahualam bis Showab. (*)
Penulis: Dr. Suryani Syahrir, ST, MT (Dosen dan Pemerhati Sosial)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.












