Salah Arah Pendidikan Karakter dalam Sistem Sekuler

Salah Arah Pendidikan Karakter dalam Sistem Sekuler
Indah Dahriana Yasin, Ketua Yayasan Cinta Abi Ummi Makassar. (Foto: Pribadi)

OPINI—Kasus bunuh diri pelajar kembali menghebohkan jagat maya. Dilansir dari Suara.com, 13/7/2022, seorang perempuan dikabarkan meninggal dunia karena bunuh diri akibat tidak lulus ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Perempuan tersebut sebelumnya bernazar akan memberikan santunan kepada anak yatim jika diterima. Namun jika tidak diterima, ia bernazar akan melakukan bunuh diri. Masih di bulan yang sama, seorang mahasiswa ditemukan tewas gantung diri karena sudah tujuh tahun tidak lulus kuliah. (Kompas.com, 15/7/2022)

Maraknya kasus bunuh diri pada pelajar ini tentu saja sangat meresahkan, khususnya para orangtua. Bunuh diri seakan menjadi tren di kalangan kuwula muda.

Pada tahun 2017, Pew Research Center menemukan data 13% (sekitar 3,2 juta) remaja usia 12-17 tahun di AS mengalami depresi, ini bertambah 8% (atau sekitar 2 juta) dibandingkan tahun 2007. Remaja putri lebih beresiko tiga kali mengalami depresi ketimbang anak lelaki.

Sementara di Indonesia sendiri, data Riset Kesehatan Dasar 2013 menyebut, 140 dari 1000 remaja juga memiliki masalah kesehatan mental.

Di tahun 2018, satu penelitian yang dilakukan oleh dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ pada kurang lebih 941 siswa sekolah di daerah Jakarta menunjukkan lebih dari 30 persen mengalami depresi dan 18,6 persen di antaranya memiliki keinginan untuk bunuh diri.

Berita Lainnya

Pada tahun 2019, anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Teddy Hidayat, menyebutkan bila angka kasus bunuh diri di Indonesia mengalami peningkatan. Dalam satu tahun, tercatat ada 10 ribu kasus.

Sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, 800 ribu orang di dunia meninggal akibat bunuh diri. Menurut Teddy, di Indonesia setiap 40 menit satu orang bunuh diri.

Berita Terkait