Siapkah Kita Untuk “New Normal”?

Siapkah Kita Untuk New Normal?
As'sifa (Ibu Ruma Tangga / Makassar)

OPINI – Berdasarkan data perkembangan situasi Covid-19 Sulsel, angka reproduksi Covid-19 (Rt) Sulsel mengalami kenaikan menjadi 1,01 pada tanggal 8 Agustus 2020 lalu. Padahal sejak dua pekan terakhir, posisi Rt stagnan di kisaran angka 0,93-0,96. (sindonews.com). Menurut tim pengendali Covid-19. Yang menjadi penyebab meningkatnya angka kasus Covid-19 disebabkan rendahnya kedisiplinan masyarakat tentang protokol kesehatan.

Sebelum diberlakukannya “New Normal”, orang-orang lebih merasa khawatir untuk keluar rumah. Dari sisi petugas masyarakat, ada penjelasan dan sosialisasi tentang protokol kesehatan selama aktivitas New Normal ini.

Pihak kepolisian juga ikut menertibkan masyatakat pada masa ini. Memberikan edukasi sampai sanksi kepada masyarakat yang tidak menggunakan masker dan mencuci tangan. Toko, Mall, tempat wisata juga di tutup.

Seiring waktu berjalan, masyarakat sudah mulai bosan tinggal dirumah. Banyak pegawai dan buruh yang terpaksa harus dirumahkan. Perekonomian kembali dibuka.

Toko-toko, restoran, hotel, rumah makan, pusat perbelanjaan sudah mulai dikunjungi masyarakat. Bahkan tempat wisata, taman umum mulai dipadati pengunjung.

Sebagian tempat melakukan protokol kesehatan dengan mengukur suhu tubuh dan mencuci tangan sebelum masuk ruangan. Namun yang berat dihindari adalah menjaga jarak.

Berita Lainnya

Banyak masyarakat yang abai atas protokol kesehatan ini. Untuk mau menjalankan anjuran pemerintah, dibutuhkan kesadaran bersama.

Kesadaran kolektif untuk saling melindungi secara kolektif. Namun faktanya tidak demikian. Seperti buah simalakama. Pilih PSPB atau masker?

Kebijakan PSPB akan melemahkan ekonomi masyarakat. Bahkan menjadi acaman baru bagi masyarakat kecil karena munculnya golongan miskin baru dan orang-orang yang sangat mungkin kelaparan.

Lihat Juga:  Wagub Sulsel: Butuh Intervensi Sektor Hulu untuk Atasi Covid-19

Sementara pilihan menggunakan masker nyatanya tidak efektif menekan laju reproduksi Covid. Yang terjadi justru lonjakan kasus Covid dibeberapa daerah, sebut saja Jakarta dan Sulawesi mengalami peningkatan.

Memilih menyehatkan ekonomi akan berimbas kepada penurunan bidang kesehatan. Sebaliknya, memilih meningkatkan kesehatan dengan pemberlakuan PSPB menyebabkan aspek ekonomi semakin melemah. Pilihan yang sangat sulit. Mati kelaparan atau mati karena penyakit?

Lambatnya keputusan penanganan pencegahan sejak awal membuat infeksi virus dari transmisi internasional sekarang menjadi tidak terkendali dan sulit diketahui penyebarannya. Dan pemerintah maupun masyarakat akhirnya kebingungan. Entah sampai kapan wabah ini berakhir.

Belum lagi sekolah tatap muka dibuka, 35 guru dan tenaga Pendidikan di Kota Surabaya meninggal dunia diduga akibat terpapar covid-19.

Angka ini semakin terus naik menyusul banyaknya tenaga pendidik, tenaga kependidikan, kebersihan dan keamanan di lingkungan sekolah yang terkonfrimasi positif.

Munculnya cluster sekolah, dan setidaknya muncul 6 nama sekolah yang terkonfirmasi menjadi cluster sekolah.

Anehnya, mendikbud merevisi kebijakan sekolah tatap muka yang awalnya jalur zona hijau saja dan sekarang membolehkan sekolah dengan tatap muka dizona kuning. Dengan syarat protokol yang ketat dan kebijakan pemerintah daerah setempat.

Kemudian seluruh sekolah di Luwu Utara mendapat izin belajar tatap muka. Izin belajar telah dikeluarkan Pemerintah Luwu Utara, agar sistem pembelajaran lebih efektif.

Penggunaan masker saja berjalan tidak disiplin, bagaimana dengan pelajaran sekolah? Akan banyak manusia berkumpul dalam satu wilayah dengan waktu yang lebih panjang. Bukankah resiko yang muncul akan semakin besar?

Belum landainya kurva Covid, menyebabkan semakin lama masyarakat berada dalam kondisi yang tidak biasa.

Kerja dari rumah, belajar dari rumah. Namun, tidak semua orang bisa beradaptasi dengan kondisi ini.

Lihat Juga:  Dilema Lockdown, Keselamatan Masyarakat atau Perekonomian?

Sebahagian guru dan orang tua mengeluhkan pelajaran daring yang dirasa kurang efektif. Sehingga meminta dilaksanakannya program belajar offline kembali.

Maka perlu kerjasama seluruh pihak baik keluarga, masyarakat dan pemerintah jika kita ingin menekan angka reproduksi Covid ini sebelum ditemukannya vaksin.

Diberlakukannya kebijakan New Normal menunjukkan peningkatan kasus kembali. Ini bisa menjadi pelajaran bagi kita bagaimana jika sekolah-sekolah kembali dibuka.

Jika kasus yang meningkat ada banyak yang sembuh dan jumlah yang meninggal hanya sedikit. Bukankah satu nyawa saja itu sangat berarti apatah lagi jika jumlah kematian meningkat dari prediksi.

Orang sehat memang seharusnya tidak dirumahkan. Ada beberapa pekerjaan yang sulit dikerjakan dari rumah. Misalnya karyawan pabrik, pasar dan lain-lain.

Seharusnya si sakit lah yang harusnya dirumahkan. Sayangnya penderita Corona ini lebih banyak yang nampak sehat tapi tidak menunjukkan gejala sama sekali. Dan ia lah yang memiliki peluang menyebarkan ke orang lain.

Jika memilah si sakit dan si sehat hanya bisa dilakukan dengan tes. Namun dengan kondisi krisis sekarang, tidak mungkin melakukan tes massal dan kontinyu.

Maka perlu ditinjau lagi pertemuan-pertemuan yang dilakukan secara offline. Lagi-lagi ini membutuhkan pemahaman yang sama, antara seluruh elemen masyarakat, dibutuhkan edukasi persuasif sehingga mudah diterima. (*)

Penulis: As’sifa (Ibu Ruma Tangga / Makassar)

Simak Juga:

Berita terkait