Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Strategi Indonesia Ditengah Krisis Ukraina

2898
×

Strategi Indonesia Ditengah Krisis Ukraina

Sebarkan artikel ini
Strategi Indonesia Ditengah Krisis Ukraina
Haris Zaky Mubarak, MA, Eksekutif Peneliti Jaringan Studi Indonesia

Dampak Langsung

Ditengah krisis Ukraina, harga minyak mentah dunia, Brent telah menyentuh angka 139,13 dollar AS per barel pekan ini. Ini merupakan harga tertinggi sejak Oktober 2014.

Mulai meningkatnya permintaan minyak mentah erat kaitannya dengan situasi di Ukraina dimana banyak negara dunia yang khawatir suplai minyak mentah dunia menjadi terganggu akibat gejolak politik di Kazakhstan dan krisis politik antara Rusia dan Ukrania.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Seperti yang diketahui, Kazakhstan dan Rusia adalah produsen minyak dunia yang signifikan. Dengan produksi sekitar 11juta barel per hari, Rusia adalah negara dengan produksi terbesar ketiga setelah Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS).

Adanya serangan Rusia ke Ukraina mau tidak mau telah mengubah minat banyak para investor dunia dalam menemukan mitra ekonominya. Hal ini dapat dilihat saat bank dan perusahaan Barat meninjau kembali eksposur senilai ratusan miliar dollar AS ke Rusia tidak bisa dianggap remeh.

Berdasarkan data dari Reuters, krisis geopolitik Ukraina telah menyebabkan banyak investor dunia berpikir ulang cara menetapkan risiko ekonomi negara hubungan diplomatik. (Reuters, 2022).

Sejak pecahnya konflik Rusia dan Ukraina, setiap investor dunia yang memiliki aset keuangan yang berada dan terkait dengan Rusia telah tertekan sejak negara itu menyerang Ukraina per 24 Februari 2022.

Krisis Ukraina yang datang dengan puluhan sanksi ekonomi negara-negara Barat kepada Rusia berkembang menjadi perang energi. Amerika Serikat menghentikan impor energi Rusia.

Sebagai balasan, Rusia melempar sinyal menghentikan ekspor energinya. Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden di Washington DC, Selasa (8/3/2022) mengumumkan penghentian seluruh impor minyak, gas, dan batubara dari Rusia ke negaranya.

Ini disebutnya sebagai bagian dari tekanan agar Rusia mau menghentikan serangan ke Ukraina. Langkah serupa juga diikuti oleh dua perusahaan minyak raksasa yang berbasis di Inggris, BP dan Shell.

Adanya kenaikan harga minyak jelas semakin menekan neraca perdagangan migas nasional. Sebab, Indonesia importir minyak bersih (net oil importer) dan konsumsi energi nasional terhadap minyak dan gas bumi (migas) mencapai 51 persen.

Defisit neraca perdagangan migas nasional pun menjadi makin besar. Padahal, perolehan tambahan devisa harga komoditas, tak menutup kebutuhan tambahan devisa untuk membiayai impor migas.

Jika membaca data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (KemenESDM RI), Kebutuhan devisa impor migas mencapai sekitar 49,27 miliar dollar AS dengan asumsi harga minyak 120 dollar AS per barel. (KemenESDM RI, 2022).

Kebutuhan itu terdiri dari impor minyak dan produk BBM senilai 44,04 miliar dollar AS dan impor elpiji senilai 5,23 miliar dollar AS.

Dengan kebutuhan seperti itu, kebutuhan devisa impor migas bisa mencapai hampir 35persen dari cadangan devisa Indonesia saat ini yang tercatat sekitar 141 miliar dollar AS.

Dalam sisi fiskal, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dollar AS per barel akan menambah penerimaan migas dalam Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) 2022 sekitar Rp3 triliun dan meningkatkan kebutuhan nilai tambahan anggaran subsidi dan kompensasi minyak dan gas (migas) dalam jumlah yang lebih besar.

error: Content is protected !!