Paradigma Keliru
Pembangunan infrastruktur pada sebuah wilayah merupakan suatu kelaziman, tetapi menjadi sesuatu hal yang mengerikan ketika asas yang digunakan berbasis paradigma berpikir yang keliru.
Sudut pandang ini urgen untuk dianalisis secara jernih dan komprehensif, tersebab akan melahirkan sebuah kebijakan.
Indonesia sebagai salah satu negara yang menganut sistem kapitalisme dengan asas sekuler, menjadikan segala hal diukur dari materi.
Di tengah derita rakyat, pembangunan infrastruktur tetap digenjot dengan harapan menumbuhkan perekonomian, walau harus dipaksakan dengan skenario utang ribawi.
Tak sedikit pembangunan juga merampas hak rakyat. Pun, dampak lingkungan sudah tak berbilang.
Aroma kongkalikong antara korporat dan birokrat tak bisa dihindari. Proyek-proyek infrastruktur menjadi bancakan pihak-pihak tertentu.
Kebocoran dana di setiap pintu sudah menjadi rahasia umum. Akibatnya, infrastruktur yang terbangun tidak sesuai lagi dengan spesifikasi teknis, terjadi reduksi dimana-mana.
Jika demikian, bagaimana mungkin bisa menumbuhkan ekonomi lokal. Para pihak yang terlibat hanya sibuk memikirkan kepentingan mereka sendiri.
Kalaupun bertumbuh secara mikro, hanya dirasakan segelintir orang saja. Realita ini bisa disaksikan dan dirasakan dari banyak infrastruktur yang mangkrak atau sudah terbangun tetapi akhirnya dilelang.











