Mercusuar Peradaban
Berbeda dengan sistem Islam dengan asas ketakwaan kepada Sang Khaliq. Berdasar asas tersebut, setiap individu (baik rakyat maupun penguasa) bersinergi membangun negeri.
Terpenting adalah semua aktivitas harus dalam koridor syariah. Utang ribawi dalam Islam adalah tidak menjadi opsi pembiayaan.
Berlimpahnya karunia berupa sumber daya alam dikelola secara mandiri dan independen.
Seluruh pembangunan dilaksanakan dalam rangka kemaslahatan seluruh rakyat.
Celah kebocoran dana pun sangat minim, karena ketakutan akan hisab di akhirat kelak.
Kegemilangan peradaban Islam masih terindera hingga saat ini. Kemegahan infrastruktur dengan kekokohan bangunan plus arsitek yang luar biasa, menjadi kekaguman tersendiri bagi yang menyaksikannya.
Lihatlah Masjid Selimiye di Turki, Masjidil Haram di Makkah, Istana Alhambra di Spanyol, Taj Mahal di India, dan masih banyak lagi yang lain.
Sudah terbukti sistem ini mampu menyejahterakan rakyat di semua aspek, termasuk sektor ekonomi.
Oleh karena itu, mari bersegera menuju sistem yang pernah menjadi mercusuar peradaban selama ribuan tahun, agar kesejahteraan bisa dirasakan semua makhluk. Wallahualam bish Showab. (*)
Penulis: Dr. Suryani Syahrir, ST, MT (Dosen dan Pemerhati Sosial)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.











