OPINI – Sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul, maka sejak saat itu tertancaplah Islam sebagai pandangan hidup sempurna bagi umat manusia. Keberadaan Islam dalam sistem kehidupan mengatur seluruh manusia tanpa kecuali.

Islam sebagai ideologi karena dari aqidahnya terpancarlah sistem aturan kehidupan. Sebagai Rahmat bagi seluruh alam, tentunya tidak sekedera diyakini. Tapi kerahmatan tersebut akan terealisasi manakala diterpakan sempurna

Dalam ideologi Islam, peraturan itu dibagi menjadi tiga dimensi. Pertama, hubungan manusia dengan Pencipta (Allah SWT). Kedua, hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Dan ketiga hubungan manusia dengan manusia yang lainnya.

Hubungan manusia dengan Pencipta adalah segala ibadah yang menggambarkan bahwa manusia adalah makhluk dan Allah SWT sebagai Pencipta.

Di sana muncul kesadaran manusia sebagai hamba. Sehingga segala sesuatunya harus terikat pada aturan yang telah dibuat oleh Pencipta.

Adapun hubungan manusia dengan dirinya maka ini berkaitan dengan akhlak, pakaian dan makanan. Semua ada aturannya.

Sementara dimensi yang ketiga adalah aturan yang mengatur manusia dengan manusia lainnya ini cakupannya lebih luas dibanding dua dimensi sebelumnya.

Pada dimensi ketiga, yang diatur adalah persoalan ekonomi, pendidikan, pergaulan, politik, dan lainnya.

Terkait dimensi pertama dan kedua, tidak akan ada paksaan bagi non muslim. Mereka diberikan jalan untuk tetap beribadat sesuai kemampuannya.

Mereka dibiarkan untuk memakan makanan yang menurut mereka boleh untuk dimakan. Mereka boleh menikah dengan tata cara agamanya.

Semua itu akan dijamin oleh negara. Adanya jaminan dimaksudkan mereka akan dibiarkan menjalankan menurut agamanya.

Jadi dalam Islam tidak ada paksaan untuk beraqidah Islam. “Lakum dinukum waliyadiin”. Demikianlah Islam menjamin aqidah. Allah SWT telah berfirman Allah Ta’ala berfirman,

لَا إكْرَاه فِي الدِّين قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْد مِنْ الْغَيّ

“Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (QS. Al Baqarah: 256)

Ibnu Abbas menceritakan, Ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki Ansar dari kalangan Bani Salim ibnu Auf yang dikenal dengan panggilan Al-Husaini.

Dia mempunyai dua orang anak lelaki yang memeluk agama Nasrani, sedangkan dia sendiri adalah seorang muslim.

Maka ia bertanya kepada Nabi Saw., “Bolehkah aku memaksa keduanya (untuk masuk Islam)? Karena sesungguhnya keduanya telah membangkang dan tidak mau kecuali hanya agama Nasrani.” Maka Allah menurunkan ayat ini berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Ibnu Kasir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tidak boleh memaksa seseorang untuk masuk agama Islam, karena sesungguhnya agama Islam itu sudah jelas, terang, dan gamblang dalil-dalil dan bukti-buktinya.

Untuk itu, tidak perlu memaksakan seseorang agar memeluknya. Bahkan Allah-lah yang memberinya hidayah untuk masuk Islam, melapangkan dadanya, dan menerangi hatinya hingga ia masuk Islam dengan suka rela dan penuh kesadaran.

Barang siapa yang hatinya dibutakan oleh Allah, pendengaran dan pandangannya dikunci mati oleh-Nya, sesungguhnya tidak ada gunanya bila mendesaknya untuk masuk Islam secara paksa.

Beranjak dari pandangan dasar ini maka, setiap agama akan diberikan perlindungan terhadap peribadatan mereka. Bahkan akan diangkat seorang Qadhi (hakim) khusus dari kalangan mereka untuk menyelesaikan persengketaan diantara mereka.

Adapun untuk dimensi yang ketiga tentang hubungan manusia dengan yang lainnya, maka disinilah peran negara dalam mensejahterakan seluruh warga negara tanpa terkecuali. Muslim maupun non Muslim akan diperlakukan seadilnya.

Dalam sistem ekonomi, dilarang melakukan aktifitas yang mengandung riba. Tidak boleh memperjual belikan makanan, minuman dan barang-barang haram.

Jika ada non Muslim yang fakir, tidak ada pekerjaan maka negara akan memberikan fasilitas untuk bekerja. Jika ada non Muslim bersengketa dengan Muslim maka akan diterapkan hukum seadil-adilnya.

Sebagai contoh kisah Umar bin Khattab saat menjabat sebagai seorang Khalifah. Saat itu wali(gubernur) Mesir Amr bin ‘ Ash sedang berselisih dengan orang Yahudi saat memperkuat bangunan sebuah mesjid.

Orang Yahudi ini merasa tidak adil pada apa yang dilakukan sang gubernur. Meskipun telah mendapat ganti rugi dia tetap mengadukan permasalahan tersebut kepada Sang Khalifah Umar bin Khattab.

Maka setelah mendengar cerita dari orang Yahudi, Umar bin Khattab lalu memperingatkan sang gubernur lewat sebuah tulang yang dikirim kepada gubernur.

Pada tulang itu Umar menorehkan dua garis yang berpotongan: satu garis horizontal dan satu garis lainnya vertikal. Amr bin ‘ Ash mengerti maksud dari pesan Sang Khalifah.

Sekiranya dia diminta untuk berlaku adil jika tidak kepalanya akan dipenggal. Seketika itu pula Amr bin ‘Ash mengembalikan rumah Yahudi yang digusurnya.

Apa yang dilakukan oleh Umar bin Khattab adalah cerminan keadilan pengurusan negara terhadap Muslim dan non Muslim. Kondisi ini beranjak dari apa yang telah Rasullah SAW lakukan pada masanya.

Setiap memotong kambing, Beliau selalu membagikannya kepada tetangganya terlebih dahulu, termasuk orang-orang Yahudi.

Beliau juga menjenguk kaum Yahudi yang sakit, memberi hadiah, juga bermuamalah melalui jual beli dan berbagai hubungan sosial lainnya.

Inilah sebuah gambaran kecil bagaimana Islam mengatur kehidupan beragama di tengah masyarakat.

Tidak akan ada istilah mayoritas dan minoritas, karena kedudukan semua sama sebagai warga negara selama mereka terkategori Ahlu dzimmi (orang-orang yang dilindungi oleh negara).

Demikianlah Islam sebagai rahmat. Kerahmatan yang akan diperoleh bagi seluruh umat manusia.

Allah SWT berfirman dalam Q.S Saba’ ayat 28 yang artinya: “Dan tidaklah Kami utus engkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh manusia”.

Juga dalam Q.S An Nisaa ayat 105 yang artinya: “Sesungguhnya telah kami turunkan al kitab (Al Qur’an) kepadamu agar engkau menghukumi di antara manusia sesuai dengan apa yang diwahyukan Allah kepadamu”.

Kedua ayat ini bersifat umum seluruh manusia. Tidak dibedakan agama dan keyakinannya. Demikianlah kesempurnaan syariat Islam sebagai sistem kehidupan.

Islam diturunkan bukan sekedar untuk mengatur kehidupan orang Muslim saja. Tetapi Islam adalah penyempurna agama sebelumnya.

Sehingga kesempurnaan Islam terletak pada pengurusannya terhadap seluruh umat di dunia. Dan semua itu hanya bisa dirasakan apabila Islam diterapkan sempurna dalam tatanan sistem kehidupan umat manusia.

Dengan diterapkan dengan sempurna peristiwa-peristiwa penistaan agama lain, pengrusakan tempat ibadah, pelecehan simbol-simbol agama tidak akan lagi terjadi. Masyarakat Muslim dan non Muslim pun hidup berdampingan secara damai. Wallahu a’lam. (*)

Penulis: Aridha Nur Salim S. E. I (Anggota Revowriter Makassar, Anggota Spirit Nabawiah Community)