MEDIASULSEL.com – Akibat patahan lempengan bumi, Sulawesi Selatan berpotensi rawan terjadi gempa bumi. Badan Meteriologi Klimatologi dan Geofisika mengimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
BMKG menyatakan bahwa Sulsel rawan gempa, staf BMKG Regional IV Makassar, Marniati mengatakan terjadi patahan lempengan bumi yang bisa mengakibatkan gempa bumi dan potensi tsunami.
“Sulawesi merupakan daerah yang rawan terjadinya gempa bumi dan tsunami. Kita perlu meningkatkan kewaspadaan akan potensi bencana alam gempa bumi yang mungkin bisa saja terjadi di daerah Sulsel,” sebut Marniati, Jumat (9/12/2016).
Hal itu dikarena Sulsel mempunyai dua patahan yang aktif yakni daerah Palu Koro dan Walanae Wilayah Luwu Raya akibatnya, Menurut Marniati daerah di sulsel pada dasarnya rawan gempa bumi.
Sebelumnya, BMKG PGR IV melaporkan gempa bumi terjadi di Kabupaten Toraja, Sulsel dengan kekuatan 3,4 Skala Richter (SR) pada Rabu (7/12) pukul 11.44.14 WITA dilokasi 2.31 Lintang Selatan-121.39 Bujur Timur (di darat, 38 kilo meter Timur Laut Luwu Timur) kedalaman 35 Kilometer tidak berpotesi tsunami.
Selain itu, ada beberapa segmentasi sesar (merupakan bidang rekahan atau zona rekahan pada batuan yang sudah mengalami pergeseran Sesar terjadi sepanjang retakan pada kerak bumi yang terdapat slip di antara dua sisi yang terdapat sesar tersebut) yang sangat berpotensi membangkitkan gempa bumi kuat di Sulawesi Selatan.
Sesar-sesar tersebut yakni pada point A, Sesar Palu Koro yang memanjang di Palu ke arah Selatan dan Tenggara melalui Sulsel bagian Utara menuju ke Selatan Bone sampai di laut Banda.
Selanjutnya, Sesar Saddang point B yang memanjang dari pesisir Pantai Mamuju memotong diagonal melintasi daerah Sulsel bagian tengah dan bagian selatan, Bulukumba menuju ke Pulau Selayar bagian Timur.
Kemudian, Sesar Parit-Parit pada poin C di Laut Makassar Selatan dan Laut Bone, dan beberapa anak patahan baik yang berada di darat maupun di laut.
“Artinya seperti yang disampaikan bahwa secara umum daerah sulawesi adalah daerah yang rawan terhadap bencana alam gempa bumi termasuk ada potensi tsunami,” ungkapnya.
Kendati demikian, tingkat seismisitas di daerah Sulsel tergolong cukup tinggi, itu di karenakan, pada poin A menunjukkan keaktifan seismik suatu daerah, semakin besar A berarti tingkat seismisitas atau kegempaannya semakin tinggi. Sedangkan pada nilai B menunjukkan kondisi batuannya.
Ia menjelaskan ada dua pola gerak patahan di Sulawesi, yakni patahan Palu Koro yang bersifat strike slip dan overthrust, bila patahan ini bergerak akan berhubungan dengan patahan Matano, bila patahan matano bergerak, lanjutnya menambahkan akan memerus ke bagian selatan Sulawesi termasuk Pulau Buton serta patahan Walanae.
Olehnya karena itu, kata Marniati, patahan Walanae merupakan imbas gerak dari patahan regional dan terasa pada patahan Saddang di Toraja dan patahan lokal di Kabupaten Bone .
“Ini karena sifat patahan Walanae adalah sinistral bara laut tenggara memotong lengan selatan Sulawesi terus berlanjut ke selat Makassar,” jelas Marniati, staf BMKG Regional IV Makassar. (aks/shar)













