JENEPONTO — Membaca buku tak lagi sekadar aktivitas duduk diam dan menyimak. Siswa UPT SDN 3 Kelara dan UPT SDN 25 Kelara justru diajak aktif memahami cerita, berdiskusi, hingga berani menyampaikan pendapat melalui kegiatan Membaca Nyaring yang digelar di lingkungan sekolah dan Perpustakaan Tombolo Smart Plus.
Kegiatan tersebut menjadi cara untuk mengenalkan literasi kepada anak dengan pendekatan yang lebih hidup. Siswa tidak hanya mendengarkan cerita yang dibacakan, tetapi juga diajak memperhatikan isi bacaan, memahami pesan, menjawab pertanyaan, dan memberikan tanggapan.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan. Mereka mengikuti cerita dengan saksama dan terlibat dalam interaksi yang berlangsung. Kesempatan bertanya dan menjawab membuat kegiatan membaca terasa lebih dekat dengan dunia anak.
Dalam keterangan tertulis yang diterima mediasulsel.com, Selasa (11/8/2026), membaca nyaring dinilai dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun kebiasaan literasi sejak usia dini. Metode ini membantu siswa mengenal kosakata baru, meningkatkan kemampuan menyimak, memahami alur cerita, sekaligus mengasah kemampuan mengingat informasi.
Tak hanya soal membaca, siswa juga dilatih untuk berkomunikasi. Ketika diminta menceritakan kembali isi bacaan maupun menyampaikan pendapat, mereka mendapatkan ruang untuk melatih keberanian berbicara dan menyampaikan gagasan secara runtut.
Perpustakaan Tombolo Smart Plus turut menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Kehadiran perpustakaan sebagai ruang belajar yang nyaman diharapkan dapat semakin mendekatkan siswa dengan buku sekaligus memperkenalkan mereka pada beragam bacaan dan pengetahuan.
Kolaborasi UPT SDN 3 Kelara dan UPT SDN 25 Kelara menunjukkan bahwa membangun budaya literasi membutuhkan dukungan bersama. Sekolah, perpustakaan, dan keluarga memiliki peran penting agar kebiasaan membaca tidak berhenti setelah kegiatan selesai.
Lebih jauh, membaca nyaring juga menjadi sarana untuk melatih kemampuan berpikir siswa sejak dini. Anak dibiasakan mendengarkan informasi, memahami maknanya, mengingat bagian penting, lalu menghubungkannya dengan pengalaman maupun pengetahuan yang telah dimiliki.
Budaya literasi memang tidak lahir dari satu kegiatan. Namun, kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi fondasi penting. Membaca nyaring menjadi salah satu cara untuk membuat anak mengenal buku sebagai sesuatu yang menyenangkan, bukan sekadar kewajiban dalam proses belajar.
Melalui kegiatan tersebut, siswa Kelara diharapkan semakin dekat dengan buku dan memiliki ketertarikan untuk membaca secara mandiri. Sebab, dari cerita yang didengarkan, anak belajar memahami. Dari buku, mereka menemukan pengetahuan. Dan dari kebiasaan membaca sejak dini, tumbuh generasi yang lebih percaya diri, berwawasan, dan siap menghadapi tantangan pembelajaran di masa depan. (Mp/Ag4ys)
Citizen Reporter: Alfian A. (mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan Unhas)













