Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

OPINI – Ada-ada saja tingkah sebagian orang saat ini. Belum habis perbincangan terkait pernyataan ‘agama adalah musuh besar negara’ yang menuai kritik berbagai kalangan.

Seperti yang dilansir dari Media Indonesia (21/2/2020) beberapa waktu terakhir ini muncul lagi perbincangan di berbagai media massa mengenai pernyataan Kepala BPIP Yudian Wahyudi terkait akan mengganti salam umat Muslim, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, dengan Pancasila.

Berdasarkan keterangan tertulis Direktorat Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP wacana itu berawal dari hasil wawancara salah satu media online dengan Kepala BPIP Yudian Wahyudi pada 12 Februari lalu.

Pernyataan tersebut sontak buat wargenet dan umumnya kaum muslim bereaksi. Bagaimana tidak, ucapan ‘salaam’ yang telah menjadi bagian kaum muslim dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi doa keselamatan antara pemberi an penerima salaam akan digantikan dengan ‘sesuatu yang lain’.

Walaupun pada akhirnya, mungkin akan ada pernyataan untuk mengklarifikasi ‘lagi’, mungkin saja terjadi. Diera digital saat ini, informasi sangat cepat dan sangat mudah mengakses informasi.

Wajar ketika masyarakat sangat cepat bereaksi. Segala tindak tanduk baik itu publik figur bahkan pejabat sekalipun akan terawasi oleh masyarakat.

Sehingga mereka harus berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan yang akan menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat an menimbulkan reaksi. Karena suatu alamiah ketika ada aksi, pasti ada reaksi.

Pernyataan kontroversi oleh ketua BPIP suatu aksi dan sebagian besar masyarakat mengomentari pertanyaan tersebut adalah reaksi.

Pejabat bukan rakyat biasa yang dapat melakukan apapun tanpa memilih dan memilah sebuah pernyataan bahkan kebijakan apapun.

Karena masyarakat saat ini semakin cerdas melihat fakta sekitarnya. Apalagi yang berhubungan hajat dan keberlangsungan hidup masyarakat secara umum.

Salaam adalah salah satu bagian dari masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Dimana ada pahala dan doa yang terkandung di dalamnya. Memberi salaam kepada siapa saja, baik yang dikenal atau tak dikenal sekalipun.

Mengucap salam termasuk pada orang yang tak dikenal merupakan sunnah Rasulullah saw. Sebagaimana dalam hadits Imam Bukhari:
“Seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai islam bagaimana yang baik.

Beliau menjawab, “Memberikan makan (pada orang yang membutuhkan), serta mengucapkan salam pada orang yang dikenal dan yang tidak dikenal.” (HR. Bukhari no. 6236)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Beberapa Anjuran dan Manfaat Salam:

1. Salam merupakan salah satu tanda cinta

Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidak dikatakan beriman sebelum kalian saling mencintai. Salah satu bentuk kecintaan adalah menebar salam antar sesama muslim.” (H.R Muslim no. 54)

2. Menjawab Salam Itu Wajib

Terdapat dua hukum dalam menjawab salam. Pertama, jika seseorang diucapkan salam ketika ia sedang sendiri, maka ia wajib menjawab salam tersebut karena menjawab salam dalam kondisi sendiri hukumnya adalah fardu’ain.

Kedua, jika suatu kelompok menerima salam maka hukum menjawab salam tersebut adalah fardu kifayah. Fardu kifayah artinya, jika seseorang telah menjawab salam tersebut, hal tersebut sudah cukup dan yang lain tidak mengapa jika tidak membalas salam tersebut.

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An Nisa’: 86).

3. Memulai salam itu hukumnya sunnah

Memberi salam kepada seseorang hukumnya adalah sunnah atau dianjurkan, sedangkan untuk sekelompok orang hukumnya sama dengan menjawab salam, yaitu sunnah kifayah. Sunnah kifayah artinya, jika seseorang dari kelompok tersebut mengucapkan salam maka hal itu sudah cukup.

Dari Ali bin Abi Thalib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sudah mencukupi untuk suatu rombongan jika melewati seseorang, salah satu darinya mengucapkan salam.” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

4. Salam merupakan salah satu perintah Rasul

Dari Abdulloh bin Salam, Rasulullah bersabda, “Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam di antara kalian, berilah makan sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (H.R Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

5. Lebih baik jika ucapkan salam dengan sempurna.

Imron bin Husain berkata, “Ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi seraya mengucapkan Assalamu ‘alaikum. Maka nabi menjawabnya dan orang itu kemudian duduk.

Nabi berkata, “Dia mendapat sepuluh pahala.” Kemudian datang orang yang lain mengucapkan Assalamu ‘alaikum warahmatullah. Maka Nabi menjawabnya dan berkata, “Dua puluh pahala baginya.”

Kemudian ada yang datang lagi seraya mengucapkan Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Nabi pun menjawabnya dan berkata, “Dia mendapat tiga puluh pahala.” (H.R Abu dawud, Tirmidzi dan Ahmad)

Sangat jelas Islam telah menempatkan sunnah salaam ini ke tempat yang mulia. Ucapan tak sekedar hanya ucapan semata. Tetapi mengandung banyak makna, pahala dan do’a.

Hari ini, kita dapati bagaimana simbol-simbol Islam terkesan dipermainkan. Islam yang menjadi pandangan hidup seorang muslim. Hari ini kita lihat, hukum Islam tidak menjadi arah pandang sebagian orang bahkan untuk bernegara.

Sensitif menempatkan Islam sebagai hukum di tengah-tengah masyarakat. Pelabelan yang sifatnya negatif, sebut saja radikalisme, intoleran dan lainnya membuat stigma negatif makin gencar disyiarkan.

Islam adalah agama yang penuh kasih sayang tidak seperti apa yang dilabelkan sebagian orang. Sebab Islam sesuai dengan fitrah, memuaskan akal dan menentramkan hati. Islam agama paripurna mengatur hajat hidup manusia secara komprehensif karena ia rahmat seluruh alam. Wallahu a’lam bish-shawwab. (*)

Penulis: Nurmia Yasin (Pemerhati Sosial)