OPINI—Dunia baru saja memperingati Hari Anak Sedunia pada 20 November, sebuah momen yang digagas oleh UNICEF untuk meningkatkan kesadaran terhadap kesejahteraan anak-anak di seluruh dunia.
Namun, di tengah perayaan tersebut, suara tangis anak-anak Palestina kembali menggema, menyayat hati siapa pun yang peduli. Kehidupan mereka, yang seharusnya dipenuhi keceriaan dan harapan, berubah menjadi kisah pilu tanpa ujung.
Di Gaza, tempat yang kini menjadi kuburan bagi anak-anak Palestina, angka kematian terus meningkat. Esmail Baghaei Hamaneh, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, menggambarkan tragedi ini dengan penuh duka, menyebut bahwa lebih dari 17.000 anak Palestina telah dibunuh.
Ribuan lainnya dilaporkan hilang, puluhan ribu terluka, bahkan lebih dari seribu harus menjalani amputasi dalam kondisi medis yang tak manusiawi. Ini bukan hanya statistik; ini adalah gambaran nyata sebuah generasi yang perlahan dimusnahkan.
Ironi menyelimuti dunia. Ketika PBB menyerukan perlindungan hak-hak anak, anak-anak Palestina justru kehilangan hak hidup mereka.
Hak atas pendidikan, makanan, kesehatan, bahkan perlindungan dari kekerasan seolah menjadi mimpi yang mustahil. Jangankan hak atas kehidupan yang layak, hak untuk sekadar bernapas pun terasa dirampas.
Di tengah kepedihan ini, dunia internasional, termasuk PBB, seolah bungkam. Harapan terhadap negara-negara Barat tak lebih dari fatamorgana. AS dan sekutunya tak henti-hentinya menyokong militer Israel, menggelontorkan miliaran dolar untuk memperkuat cengkeraman Zionis.
Pemimpin dunia Islam pun diam, tenggelam dalam kepentingan ekonomi dan agenda politik nasionalisme yang mengkhianati saudara-saudara mereka sendiri.
Dalam Islam, anak-anak adalah amanah yang harus dijaga, dipenuhi hak-haknya, dan dilindungi keselamatannya. Namun, apa yang terjadi di Palestina menunjukkan bahwa dunia telah gagal menjalankan tanggung jawab ini.
Islam memandang nyawa seorang muslim lebih berharga daripada hancurnya Kakbah. Bagaimana mungkin dunia membiarkan ribuan anak tak berdosa kehilangan hidup mereka?
Rasulullah SAW bersabda, “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” (H.R. an-Nasai). Hadis ini seharusnya menjadi pengingat bahwa setiap jiwa, terutama anak-anak, memiliki nilai yang tak tergantikan.
Anak-anak Palestina membutuhkan lebih dari sekadar bantuan obat dan makanan. Mereka membutuhkan perlindungan nyata dari penjajahan Zionis.
Mereka membutuhkan keberanian dan persatuan umat Islam di bawah satu kepemimpinan yang adil, seorang Khalifah yang mampu mempersatukan kekuatan kaum muslimin.
Tanpa persatuan ini, luka Palestina akan terus menganga, menjadi saksi bisu atas pengkhianatan dunia terhadap generasi yang tak bersalah.
Anak-anak Palestina merindukan hadirnya pemimpin sejati yang dapat membebaskan mereka dari belenggu penindasan. Mereka tidak hanya memohon simpati; mereka mendambakan tindakan nyata. Hingga saat itu tiba, suara dunia hanya akan menjadi gema kosong di tengah jeritan yang tak kunjung reda. (*)
Penulis: Sri Wahyuni
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













