PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.312 ASN Pangkep Terima Satyalancana Karya Satya, Pengabdian hingga 30 TahunMulai Januari 2027, PPPK Penuh Waktu Didorong Jadi ASN Lewat Tes KompetensiOlympic of Statistics 2026 UNM Resmi Ditutup, Mahasiswa Sejumlah Kampus Bersaing di Ajang Statistik NasionalKapolri Dorong Polwan Indonesia Naik Kelas di Forum IAWP, Diikuti 43 NegaraRp130,4 Juta Digelontorkan untuk Pemuda Pangkep, KHDTK Tabo-Tabo Disiapkan Jadi Sentra EkowisataDPRD Makassar Dorong GERMAS dan Kesadaran Kesehatan Mental di Tengah MasyarakatPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.312 ASN Pangkep Terima Satyalancana Karya Satya, Pengabdian hingga 30 TahunMulai Januari 2027, PPPK Penuh Waktu Didorong Jadi ASN Lewat Tes KompetensiOlympic of Statistics 2026 UNM Resmi Ditutup, Mahasiswa Sejumlah Kampus Bersaing di Ajang Statistik NasionalKapolri Dorong Polwan Indonesia Naik Kelas di Forum IAWP, Diikuti 43 NegaraRp130,4 Juta Digelontorkan untuk Pemuda Pangkep, KHDTK Tabo-Tabo Disiapkan Jadi Sentra EkowisataDPRD Makassar Dorong GERMAS dan Kesadaran Kesehatan Mental di Tengah Masyarakat
Opini

Anak Palestina Merana, Suara Dunia Dimana?

563
×

Anak Palestina Merana, Suara Dunia Dimana?

Sebarkan artikel ini
Anak Palestina Merana, Suara Dunia Dimana?
Sri Wahyuni (Penulis)

OPINI—Dunia baru saja memperingati Hari Anak Sedunia pada 20 November, sebuah momen yang digagas oleh UNICEF untuk meningkatkan kesadaran terhadap kesejahteraan anak-anak di seluruh dunia.

Namun, di tengah perayaan tersebut, suara tangis anak-anak Palestina kembali menggema, menyayat hati siapa pun yang peduli. Kehidupan mereka, yang seharusnya dipenuhi keceriaan dan harapan, berubah menjadi kisah pilu tanpa ujung.

Di Gaza, tempat yang kini menjadi kuburan bagi anak-anak Palestina, angka kematian terus meningkat. Esmail Baghaei Hamaneh, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, menggambarkan tragedi ini dengan penuh duka, menyebut bahwa lebih dari 17.000 anak Palestina telah dibunuh.

Ribuan lainnya dilaporkan hilang, puluhan ribu terluka, bahkan lebih dari seribu harus menjalani amputasi dalam kondisi medis yang tak manusiawi. Ini bukan hanya statistik; ini adalah gambaran nyata sebuah generasi yang perlahan dimusnahkan.

Ironi menyelimuti dunia. Ketika PBB menyerukan perlindungan hak-hak anak, anak-anak Palestina justru kehilangan hak hidup mereka.

Hak atas pendidikan, makanan, kesehatan, bahkan perlindungan dari kekerasan seolah menjadi mimpi yang mustahil. Jangankan hak atas kehidupan yang layak, hak untuk sekadar bernapas pun terasa dirampas.

Di tengah kepedihan ini, dunia internasional, termasuk PBB, seolah bungkam. Harapan terhadap negara-negara Barat tak lebih dari fatamorgana. AS dan sekutunya tak henti-hentinya menyokong militer Israel, menggelontorkan miliaran dolar untuk memperkuat cengkeraman Zionis.

Pemimpin dunia Islam pun diam, tenggelam dalam kepentingan ekonomi dan agenda politik nasionalisme yang mengkhianati saudara-saudara mereka sendiri.

Dalam Islam, anak-anak adalah amanah yang harus dijaga, dipenuhi hak-haknya, dan dilindungi keselamatannya. Namun, apa yang terjadi di Palestina menunjukkan bahwa dunia telah gagal menjalankan tanggung jawab ini.

Islam memandang nyawa seorang muslim lebih berharga daripada hancurnya Kakbah. Bagaimana mungkin dunia membiarkan ribuan anak tak berdosa kehilangan hidup mereka?

Rasulullah SAW bersabda, “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” (H.R. an-Nasai). Hadis ini seharusnya menjadi pengingat bahwa setiap jiwa, terutama anak-anak, memiliki nilai yang tak tergantikan.

Anak-anak Palestina membutuhkan lebih dari sekadar bantuan obat dan makanan. Mereka membutuhkan perlindungan nyata dari penjajahan Zionis.

Mereka membutuhkan keberanian dan persatuan umat Islam di bawah satu kepemimpinan yang adil, seorang Khalifah yang mampu mempersatukan kekuatan kaum muslimin.

Tanpa persatuan ini, luka Palestina akan terus menganga, menjadi saksi bisu atas pengkhianatan dunia terhadap generasi yang tak bersalah.

Anak-anak Palestina merindukan hadirnya pemimpin sejati yang dapat membebaskan mereka dari belenggu penindasan. Mereka tidak hanya memohon simpati; mereka mendambakan tindakan nyata. Hingga saat itu tiba, suara dunia hanya akan menjadi gema kosong di tengah jeritan yang tak kunjung reda. (*)

 

Penulis: Sri Wahyuni

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com