Pendidikan Termasuk Kebutuhan Primer
Pendidikan dalam Islam termasuk kebutuhan primer sebagaimana kebutuhan akan sandang, papan, pangan, keamanan dan kesehatan. Karenanya, negara wajib menyediakan pendidikan untuk seluruh warganya secara cuma-cuma hingga perguruan tinggi.
Negara akan memastikan seluruh rakyat mendapatkan pelayanan tersebut. Baik miskin atau kaya, pintar atau tidak, muslim atau non muslim. Semuanya dilayani dan diberi kemudahan akses.
Berkaca pada sejarah kegemilangan Islam di masa lalu. Pendidikan sangat begitu pentingnya, hingga di masa Khalifah Umar Bin Khattab guru-guru yang mengajar anak-anak di Madinah dibayar 15 Dinar (setara 15 juta saat ini) tiap bulan.
Di Baghdad, Universitas Al Mustansiriyyah oleh Khalifah Al Muntasir Billah, pernah memberikan beasiswa kepada setiap siswanya berupa emas seharga satu dinar (4, 25 gram emas).
Di sekolah ini, keseharian mereka dijamin oleh negara. Sekolah ini pun memiliki fasilitas yang lengkap seperti perpustakaan, rumah sakit dan pemandian.
Di masa Abbasiyah, Al Kuttab (sekolah dasar) banyak didirikan oleh pemerintahan Abbasiyyah, menyatu dengan masjid.
Di sana juga dibangun perpustakaan. Pendidikan tinggi pertama pada zaman itu adalah Bait Al Hikmah, yang didirikan oleh Al Ma’mun (830 M) di Baghdad. Selain berfungsi sebagai pusat penerjemahan, juga digunakan sebagai pusat akademis, perpustakaan umum dan observatorium. (Philip K Hitti, History of the Arabs, 514-515).
Setelah itu, baru muncul Akademi Nidzamiyyah yang dibangun antara tahun 1065-1067 M. Akademi yang kemudian dijadikan oleh Eropa sebagai model perguruan tinggi mereka. (Reuben Levy, A Baghdad Chronide, Cambridge: 1929,193).
Di Cordoba, Spanyol, pada zaman itu juga telah berkembang Le Mosquet yang asalnya merupakan gereja, kemudian dialihfungsikan sebagai masjid, lengkap dengan madrasah, dengan berbagai fasilitas pendidikan lainnya. Lembaga pendidikan telah menelorkan ulama sekaliber Al Qurthubi, As Syathibi, dan lain-lain.
Akademi pendidikan di masa kejayaan Islam juga berhasil melahirkan para pakar di bidang kedokteran seperti Ali At Thabari, Ar Razi, Al Majusi dan Ibn Sina; di bidang kimia seperti Jabir bin Hayyan; astronomi dan matematika, Mathar, Hunain bin Ishaq, Tsabit bin Qurrah, Ali bin Isa Al Athurlabi dan lain-lain; geografi, seperti Yaqut Al Hamawi dan Al Khuwarizmi; historiografi, seperti Hisyam Al Kalbi, Al Baladzuri, dan lain-lain. Mereka merupakan produk akademi pendidikan di era pemerintahan Islam.











