Bullying, Tantangan Guru Hingga Negara

Bullying, Tantangan Guru Hingga Negara
St. Maemunah, S.Pd, CM.NLP (Praktisi Pendidikan dan Aktifis Muslimah)

Peristiwa ini menjadi hal yang memprihatinkan dalam dunia pendidikan. Padahal, pemerintah dan berbagai pihak terkait telah mengupayakan berbagai program untuk menciptakan sekolah yang aman dan bebas bullying. Namun sekali lagi, semua itu masih jauh dari harapan. Bullying masih terus terjadi hingga saat ini.

Sistem sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) menjadi akar asas negeri ini menjadi akar masalah generasi. Memisahkan agama mengatur hidup manusia menjadi malapetakan keberlangsungan hidup manusia. Generasi muda yang menguasai sains dan teknologi nyatanya miskin karakter mulia.

Akibatnya, karakter yang mulia dan beradab jauh dari generasi muda. Akhirnya, harapan membangun karakter mulia dan beradab hanya tinggal mimpi semata. Tingkah lakunya diatur sesuai hawa nafsu dan informasi-informasi yang membahayakan dirinya melalui berbagai media.

Sedangkan, karakter mulia itu di bangun atas nilai-nilai agama. Bagi umat Muslim sendiri maka nilai akidah Islam menjadi  pondasinya dengan diterapkannya syariah secara total.

Oleh sebab itu, wajar jika generasi saat ini dinilai minim karakter mulia sebab agama telah dijauhkan dari kehidupan mereka. Hingga tak heran, bermunculan berbagai peristiwa yang memperhatikan generasi. Jika demikian, masihkah berharap pada sistem yang merusak generasi kita saat ini? Tentu tidak.

Berita Lainnya

Kasus-kasus bullying yang banyak terjadi sekarang ini, tentu sangat memprihatinkan kita semua.

Jika kita cermati, ada tiga faktor besar yang menjadi simpul masalah mengapa perundungan semakin meningkat dari tahun ke tahun dan menjadi penyakit di dunia pendidikan.

Pertama, keluarga. Kita sepakat jika pembentukan kepribadian bermula dari pola asuh keluarga. Sistem sekulerisme berpengaruh besar terhadap pola asuh orang tua kepada anak-anak mereka.

Lihat Juga:  Iuran BPJS Naik, Saat Rakyat Hadapi Pandemi

Akibatnya, banyak orang tua yang lalai bahwa mengajarkan anak tentang kecintaannya terhadap agama jauh lebih penting ketimbang kecintaannya kepada segala hal yang bersifat duniawi atau materi.

Pada akhirnya, anak tumbuh dengan misi misi hidup yang jauh dari nilai-nilai agama. Mereka berkembang menjadi generasi yang minim adab, sekalipun pintar; generasi yang jauh dari visi misi penciptaannya sebagai manusia; dan generasi yang mati rasa iman dan nuraninya.

Kedua, lingkungan sekolah dan masyarakat. Kasus bullying kasus perundungan biasa terjadi dimana saja. Tantangan pendidikan hari ini adalah kita berhadapan dengan lingkungan yang rusak.

Media dan tontonan mengajarkan budaya hedonis dan permisif. Sikap masyarakat yang individualis dan cenderung cuek terhadap kemaksiatan, menjadikan sulit menciptakan lingkungan yang yang kondusif bagi anak.

Ketiga, Negara bertanggung jawab besar dalam membangun SDM unggul. Semua itu mestinya dimulai dari penyiapan guru yang kompeten, memperhatikan kesejahteraan mereka terutama kesejahteraan guru-guru honorer dan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai.

Berita terkait