OPINI—Dalam perjalanan sejarah umat manusia, kehadiran seorang figur teladan selalu menjadi kebutuhan. Manusia tidak bisa hidup tanpa panutan yang menunjukkan arah, terlebih dalam urusan akhirat dan dunia. Bagi umat Islam, sosok itu adalah Nabi Muhammad ﷺ.
Beliau tidak hanya seorang manusia pilihan, tetapi juga pembawa risalah terakhir yang menuntun manusia menuju kebenaran. Kehadiran Rasulullah adalah bukti nyata kasih sayang Allah, bahwa manusia tidak dibiarkan berjalan sendiri tanpa cahaya yang membimbingnya.
Allah berfirman dalam surah al ahzab yang artinya “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Bahkan Michael H Hart dalam bukunya “100 toko paling berpengaruh di dunia” menetapkan Nabi Muhammad di urutan pertama. Hart berkata, “Ia (Muhammad Saw) adalah satu-satunya manusia yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa, baik dalam hal agama maupun duniawi.”
Nabi Muhammad Saw tak hanya dikenal sebagai pemimpin umat Islam, tapi beliau juga dikenal sebagai seorang pedagang terjujur, pemimpin militer terhebat, pejuang kemanusiaan tergigih yang pernah ada, dan ia adalah suri tauladan bagi manusia.
Di perayaan maulid hari ini yaang dikenal sebagai hari kelahiran Sang Nabi sehaarusnya dapat menjadi semangat kaum muslim untuk meneladani Rasulullah secara utuh. Rasulullah hidup dalam masyarakat yang penuh dengan kesenjangan, praktik perbudakan, serta budaya jahiliyah yang keras. Hampir sama dengan apa yan menimpa dunia saat ini.
Hal ini menunjukkan urgensi menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan. Di era modern sekarang, ketika krisis moral dan budaya hedonisme begitu mudah memengaruhi, meneladani akhlak Rasulullah adalah kunci mengurai permasalahan yang ada.
Rasul Teladan Terbaik
Nabi Muhammad memiliki akhlak yang mulia bahkan sebelum diutus menjadi Rasul sudah mendapatkan gelar al-amin yaang berarti jujur. Namun ketika yang dibawa dan disampaikan adalah Islam, justru mendapatkan cemohan dan hinaan, bahkan diludahi dan dilempari kotoran.
Hal menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tidak sekadar menyampaikan akhlak tetapi mengkritisi perilaku para pembesar kafir quraisy daan tuhan-tuhannya. Rasul tidak hanya melakukan perbaikan akhlak tetapi akidah dan tatanan kehidupan.
Metode dakwahnya pun jelas dan terstruktur, mulai dari pembinaan intensif orang-orang yang baru masuk Islam, menyebarkan opini Islam di tengah-tengah masyarakat, hingga meminta pertolongan kepada kabilah dan tokoh yang mempunyai kekuatan. Setelah ada yang memberikan kekuatan itu, Islam dapat ditegakkan secara menyeluruh.
Islam diterapkan secara menyeluruhdi Madinah, suku Auz dan Khajraj memberikan baiat(sumpah setia) kepada Rasulullah saw dan rela diatur berdasarkan hukum Islam. Mulai dari hubungan individu kepada tuhannya, hubungan individu dengan dirinya sendiri, hingga hubungan individu dengan individu lainya berdasarkan aturan Islam.
Rasulullah juga menunjukkan kapasitas sebagai negarawan. Setelah hijrah ke Madinah, beliau berhasil membangun masyarakat multikultural yang damai. Piagam Madinah menjadi salah satu bukti nyata visi besar beliau: menciptakan persatuan dalam keragaman.
Rasulullah berhasil menyatukan suku Aus dan Khazraj yang sebelumnya berseteru, sekaligus menjalin kesepakatan dengan kelompok Yahudi dan komunitas lain. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan Rasulullah tidak terbatas pada ruang ibadah, tetapi juga dalam membangun peradaban dan tatanan sosial
Di era modern, pesan ini semakin relevan. Dunia kita masih dipenuhi konflik, ketidakadilan, dan krisis kemanusiaan. Kehadiran figur teladan seperti Rasulullah semakin kita butuhkan. Dari beliau, kita belajar bagaimana menata akhlak pribadi, membangun kepemimpinan yang adil, memperjuangkan kebenaran tanpa kekerasan, serta menyampaikan dakwah dengan bijaksana.
Cinta Nabi Cinta Syariah
Mencintai Rasulullah berarti berusaha menghadirkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Cinta itu tidak cukup hanya diucapkan dalam lisan atau dilantunkan dalam shalawat, melainkan diwujudkan dalam sikap nyata menjadikan Rasul sebagai teladan dalam kehidupan.
Dengan begitu, kita bukan hanya menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah, tetapi juga turut mewujudkan visi besar beliau: Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Setelah wafatnya pembawa risalah, Islam terus berkembang dan menguasai sepertiga dunia selama 1400 tahun. Hari ini umat muslim menjadi yang terbelakang, karena mereka tidak mengambil Islam dalam mengatur kehidupannya. Mengambil risalahnya yang bersumber dari Al-Quran dan sunnah.
Pada akhirnya, umat Islam dituntut tidak berhenti pada romantisme sejarah, tetapi menjadikan kehidupan Rasulullah sebagai kompas peradaban. Jika akhlak, kepemimpinan, perjuangan, dan dakwah beliau benar-benar kita teladani, maka wajah Islam akan tampil indah: membawa kedamaian, keadilan, dan rahmat bagi seluruh manusia. Wallahualam. (*)
Penulis: Musdalifah, S.Pd (Aktivis Muslimah)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













