OPINI—Setahun lebih Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) telah berlalu. Tarik ulur berbagai kebijakan seputar dunia pendidikan terus berlangsung. Di tengah pandemi yang belum melandai, pemerintah Sulsel berencana melakukan uji coba terbatas sekolah tatap muka per awal April. Apakah keputusan ini adalah pilihan tepat atau malah hanya menambah kepelikan hidup hari ini?

Dilansir dari MAKASSAR, iNews.id, 7/4/2021, Tiga sekolah menegah atas (SMA) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), menggelar uji coba belajar tatap muka pada Jumat (9/4/2021). Pembelajaran baru mulai aktif pada Senin (11/4/2021).

Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman mengatakan bahwa untuk uji coba pembelajaran tatap muka terbatas yang kita launching hari ini baru berlaku kepada tiga sekolah yakni SMA Negeri 21, SMA Negeri 4, dan SMA Negeri 2 Makassar.

Tarik ulur kebijakan terkait pembelajaran di masa pandemi, sudah berlangsung sejak awal masuknya virus ini ke Indonesia. Beberapa wilayah yang dianggap aman, sudah memberlakukan sekolah tatap muka di awal tahun 2021. Makassar sendiri baru akan memulai per 11 April, itupun terbatas pada tiga sekolah. Sebagian masyarakat merasa was-was, mengingat Makassar adalah salah satu daerah dengan risiko cukup tinggi.

Perkembangan pasien Covid-19 dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 15 April 2021, terlihat provinsi dengan angka penambahan pasien terkonfirmasi terbanyak yakni DKI Jakarta 1.330 pasien.

Selanjutnya Jawa Barat 1.216 pasien, Jawa Tengah 841 pasien, Jawa Timur 294 pasien, Riau 268 pasien, Kalimantan Selatan dan DI Yogyakarta 221 pasien.

Sementara Sulsel di angka 93 pasien. Data pasien terkonfirmasi selama April 2021 di angka 1.388 pasien, dengan rerata penambahan pasien Covid-19 di angka 92 pasien per hari (makassar.tribunnews.com, 15/4/2021).

Melihat data yang masih terbilang cukup tinggi di beberapa wilayah termasuk Makassar, kebijakan sekolah tatap muka tentu harus dipikirkan dan dianalisis secara cerdas. Faktor kesehatan jangan sampai menjadi ajang coba-coba hanya karena desakan publik dan berbagai kepentingan terselubung lainnya.

Sistem Sekuler, Biang Masalah

Mencermati kondisi generasi hari ini, akan ditemui segudang permasalahan dan kerusakan. Dunia digital dengan minimnya penguatan akidah dalam keluarga dan support system yang lemah, membuat semuanya menjadi ambyar.

Jika kita ingin pure melihat bahwa kerusakan yang terjadi, terkhusus pada dunia pendidikan, bukanlah perkara baru. Akumulasi kegagapan regulasi memberi andil besar bagi kegagalan pencapaian generasi yang unggul dan bertakwa. Melenceng jauh dari tujuan pendidikan nasional.

Lost generation yang menjadi kekhawatiran banyak pihak juga menjadi alasan pemberlakukan pembelajaran tatap muka (PTM) ini. Kondisi pandemi dengan angka terkonfirmasi yang belum melandai di banyak wilayah, membuat beberapa instrumen evaluasi peserta didik yang sudah diagendakan terancam batal. Asesmen nasional (AN) tahun ini, yang dari awal dirancang menggantikan ujian nasional (UN) pun terancam tidak dilakukan.

Peta jalan menuju terwujudnya generasi emas 2045, tepat saat memperingati HUT RI ke-100, sepertinya hanya akan menjadi impian semata. Pandemi Covid-19 yang sudah meluluhlantakkan berbagai aspek, membuat kondisi semakin sulit. Resesi ekonomi yang berimbas luas ke seluruh sendi-sendi kehidupan, tak terkecuali ranah pendidikan.

Maraknya kerusakan sosial tak dapat dipandang sebelah mata. Kondisi negeri yang semrawut, menegaskan bahwa ada yang salah dari sistem saat ini. Sistem pendidikan sekuler kapitalis yang diadopsi, telah “berhasil” mengantarkan generasi ke gerbang kehancuran. Naudzubillah!

Sistem Pendidikan Unggul

Islam dengan seperangkat aturannya, meniscayakan terciptanya generasi yang unggul dan cemerlang. Sistem pendidikan berbasis akidah Islam mampu menciptakan peradaban gemilang di sepanjang abad hidup manusia. Bahkan, Barat pun mengakuinya.

Para ilmuan Muslim dengan semangat yang dilandasi ketakwaan kepada Allah Swt. berupaya semaksimal mungkin mempersembahkan yang terbaik untuk kegemilangan peradaban umat manusia.

Hasilnya, sampai hari ini masih kita rasakan. Pada saat kondisi dunia terserang virus dalam skala yang sangat luas, kontribusi ilmuan Muslim di bidang kedokteran begitu terasa. Mereka adalah peletak dasar-dasar ilmu kedokteran.

Abu Bakar Ar-Razi, yang didaulat sebagai ilmuan paling besar di bidang kedokteran dalam sejarah; Az-Zahrawi, orang pertama yang menemukan Teori Pembedahan; Ibnu Sina, orang pertama yang menemukan ilmu tentang parasit dan mempunyai kedudukan tinggi dalam dunia kedokteran modern; dan masih banyak lagi yang lain.

Intelektual Muslim berhasil mencapai keunggulan tidak hanya dalam bidang sains, namun juga fakih dalam bidang agama. Kolaborasi yang sangat luarbiasa menghasilkan generasi pembangun peradaban mulia nan agung. Semua hal tersebut dihasilkan dari penerapan sistem pendidikan Islam yang di-support penuh oleh negara.

Sistem Islam kafah sebagai sistem yang berasal dari Sang Pencipta, terbukti mampu menyejahterakan manusia tanpa memandang agama, suku, ras, dan warna kulit. Amanah sebagai seorang penguasa, dijalankan berdasar atas ketakwaan kepada Sang Khalik.

Alhasil, jika Indonesia ingin hidup dalam keberkahan dan ketenteraman, maka peran negara harus dikembalikan sesuai hukum-Nya.

Sebagaimana dalam QS. Al-Araaf: 96, yang artinya: Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” Wallahualam bis Showab. (*)

Penulis: Dr. Suryani Syahrir, ST, MT (Dosen dan Pemerhati Generasi)