Hari Kartini, Hati-hati Politisasi

Kartini
Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Hindia Belanda, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Hindia Belanda, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

OPINI – Momentum hari kartini merupakan momentum peringatan tentang perjuangan perempuan untuk memperoleh keadilan, bisa dianggap sebagai prasasti perjuangan perempuan.

Dalam momentum inilah berbagai opini terkait perempuan diperjualbelikan kepada masyarakat entah dalam bentuk lisan, tulisan, atau bentuk audio visual, dan bentuk kampanye lainnya.

Fenomena ini tentu hal lumrah, mengingat wacana tentang perempuan sangat ramai diperbincangkan di masyarakat tentang feminisme, kesetaraan gender, dan isu lainnya terkait perempuan.

Sayangnya, tidak semua menarasikan perjuangan, pergerakan, dan suara perempuan memiliki pemahaman yang sama dan tujuan yang sama, tidak semua memiliki kepedulian sosial terhadap perempuan.

Ada yang sebatas menjadikan narasi perempuan sebagai narasi politisasi, menarasikan perempuan untuk kepentingan diri sendiri.

Seperti menggaet massa untuk organisasi, untuk dipuji, untuk naikkan pamor, atau apapun itu yang sifatnya bukan karna prihatin dengan kondisi perempuan atau kepedulian terhadap nasib perempuan.

Berita Lainnya

Salah satu contohnya, viralnya video aktivis muslim yang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap feminisme dan kesetaraan gender dengan mengaitkan isu khilafah dibelakangnya.

Narasi seperti inilah yang menurut saya berpotensi menjadi narasi politis, atau bisa saja pembaca atau penonton yang akan menjadikan hal ini sebagai alat politis. Sekalipun tidak ada jaminan bahwa isu lain tidak dinilai politis.

Menarasikan perempuan harus berdiri sendiri sebagai kekuatan bagi perempuan, bukan karena hal lain atau unsur politik yang ingin dimainkan karena akan mengakibatkan perempuan sebagai korban itu sendiri.

Narasi politis inilah yang tidak akan memberikan ruang bagi perempuan untuk merdeka, karena dari awal hanya dijadikan dagangan politik.

Lihat Juga:  Konsep Maslahah dalam Ekonomi Syariah

Untuk itu, perlu sekali memahami narasi yang dibangun oleh pencipta karya, memahami dan mengklarifikasi isi.

Di momentum hari kartini, narasi itu akan semakin banyak diperjualbelikan sehingga menuntut kita semakin selektif dalam mengkonsumsinya apalagi mendistribusikan karna kita bertanggungjawab atas semua itu.

Narasi yang bersifat politis harus dihentikan dan dilawan, agar jangan lagi perempuan terus jadi korban keserakahan dan kekuasaan.

Bukan hanya perempuan akan tetapi laki-laki juga harus bermitra menghadapi, membendung dan melawan narasi politis terhadap perempuan.

Karena perjuangan ibu kartini mengingatkan kepada kita semua bahwa adil itu perlu dan lebih mahal dari politisasi. (*)

Perempuan dalam Keluarga Miskin dan Utang Tinggi
Rahmat (Kader PMII Rayon FEBI UINAM Cabang Makassar/ Waketum HMJ EI)
Penulis: Rahmat (Kader PMII RAYON FEBI UINAM Cabang Makassar/ Waketum HMJ EI UINAM)

Berita terkait