OPINI – Hijrah merupakan fenomena yang begitu luar biasa saat ini, begitu sering kita mendengarkan kata hijrah di semua kalangan. Begitu banyak artis yang mulai berhijrah, telinga kita juga tidak lepas dari pemberitaan orang-orang yang masuk Islam (muallaf).

Hijrah secara bahasa adalah berpindah dari sesuatu ke sesuatu yang lain atau meninggalkan sesuatu menuju sesuatu yang lain. Jadi hijrah itu identik dengan perubahan.

Tentu perubahan ke arah yang baik. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bârî menjelaskan, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan.

Hijrah memiliki makna yang begitu besar, sehingga pada masa Khalifah Umar bin al-Khattab ra. penanggalan hijrah mulai dijadikan sebagai penanggalan Islam.

Awal Tahun Hijrah berpatokan pada saat hijrah yang dilakukan Rasulullah, yaitu dari Makkah ke Madinah. Peristiwa hijrah Baginda Nabi dari Makkah ke Madinah adalah momentum penting dalam lintasan sejarah perjuangan Islam dan Muslim.

Refleksi Hijrah Saat Ini

Hijrah memiliki makna yang sangat besar, tetapi bagaimana refleksi hijrah untuk saat ini? Bukankah kita sudah memeluk Islam? Bukankah sudah cukup dengan kita beragama Islam? Tidak.

Kita memang sudah memeluk Islam, tetapi apakah sebagai seorang muslim, kita sudah menerapkan semua aturan Islam?

Jangankan melaksanakan, masih sangat banyak kaum muslim yang belum mengetahui bagaimana aturan yang sebenarnya dalam Islam. Masih sangat banyak kaum muslim yang jauh dari agamanya.

Ustadz H. Rahmadon Tosari Fauzi M.Ed, Ph.D (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry) mengatakan bahwa perang pemikiran atau ghazwul fikri adalah cara lain dari musuh-musuh Islam dalam menghancurkan pelan-pelan tanpa disadari dengan mencuci otak kaum muslim.

Ini akibat mereka tidak dapat menghancurkan dan mengalahkan umat Islam secara fisik.

Maka sangat benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berabad-abad silam, umat Islam akhir zaman akan seperti buih di lautan, meski banyak namun tak berarti.

Mengapa? Karena mereka telah sangat jauh dari aturan agamanya, mereka mengaku beragama Islam tetapi anti terhadap syariah Islam, umat Islam saat ini lebih memilih berada di zona nyaman ketimbang melakukan pembelaan terhadap hak-hak umat.

Sedangkan mata menyaksikan penderitaan umat, telinga mendengarkan jeritan rakyat yang tertindas oleh kebijakan buatan manusia.

Masyarakat modern saat ini dibandingkan dengan kondisi masyarakat jahiliah pra hijrah, tampak ada kemiripan, dan dalam beberapa hal sebaliknya lebih buruk.

Ciri utama masyarakat jahiliah dulu adalah kehidupan yang diatur dengan aturan dan sistem jahiliah buatan manusia. Pada masyarakat Quraisy, aturan dan sistem kemasyarakatan dibuat oleh para pemuka kabilah.

Hal itu mereka rumuskan melalui pertemuan para pembesar dan tetua kabilah di Dar an-Nadwah. Kondisi yang sama terus terjadi sampai saat ini.

Kehidupan diatur dengan aturan dan sistem buatan manusia yang dibuat oleh sekumpulan orang dengan mengatasnamakan rakyat. Itulah sistem kapitalis dengan akidah sekuler yang saat ini diterapkan.

Pada aspek sosial, masyarakat jahiliah pra hijrah identik dengan kebobrokan moral yang luar biasa. Mabuk, pelacuran dan kekejaman menyeruak di mana-mana.

Anak-anak perempuan yang baru lahir pun dikubur hidup-hidup. Kondisi pada zaman jahiliah dulu pada saat ini juga terjadi. Perzinaan difasilitasi dengan lokalisasi dan dilegalkan atas nama investasi dan retribusi.

Tak sedikit pula bayi yang baru lahir dibunuh. Jika dulu bayi perempuan dibunuh, sekarang bayi laki-laki atau perempuan yang dibunuh. Sebelum lahir dibunuh melalui aborsi. Jumlahnya mencapai jutaan kasus aborsi yang terjadi setiap tahun.

Dalam aspek ekonomi ada riba, manipulasi, kecurangan dalam timbangan dan takaran, penimbunan, eksploitasi oleh pihak ekonomi kuat terhadap ekonomi lemah, konservasi kekayaan pada segelintir orang, dan sebagainya.

Semua itu kental mewarnai kehidupan ekonomi masyarakat jahiliah pra hijrah. Hal yang sama juga menggambarkan kehidupan ekonomi modern saat ini. Penipuan ekonomi banyak terjadi.

Harta juga terkonsentrasi pada segelintir orang kecil. Satu persen dari masyarakat menguasai harta yang dimiliki lebih dari enam puluh persen masyarakat lainnya.

Satu orang menguasai tanah lebih dari satu juta hektar. Riba merajalela, bahkan riba malah menjadi pilar dalam sistem ekonomi negara.

Dalam aspek politik dan konstelasi internasional, bangsa Arab jahiliah pra hijrah mendukung bangsa yang istimewa.

Dua negara adidaya saat itu, Persia dan Byzantium, sama sekali tidak melihat Arab sebagai kekuatan politik yang diperlihatkan.

Begitu pula saat ini. Negeri-negeri kaum Muslim, termasuk negeri ini, juga tidak pernah diperhitungkan oleh negara-negara lain, kecuali sebagai objek jajahan.

Kekayaan alam negeri kita dijadikan jarahan oleh negara-negara penjajah dan para kapitalis. Jutaan kilometer persegi dan jutaan hektar daratan ini sudah dikapling-kapling untuk perusahaan-perusahaan yang mayoritas asing.

Teknologi berkembang, namun aturan dan sistemnya tetap sistem jahiliah, aturan dan sistemnya buatan manusia. Jadi tepat, kondisi kehidupan saat ini disebut sebagai jahiliah modern.

Begitu banyak kerusakan yang disebabkan oleh sistem yang diterapkan saat ini, telah terlihat dari segala aspek. Jadi sudah sangat banyak alasan untuk mencampakkan sistem sekuler yang destruktif (merusak) menuju Khilafah yang dijanjikan.

Hijrah dari aturan buatan manusia ke aturan buatan Allah SWT yang Maha Sempurna, hijrah dari sistem ekonomi berlandaskan riba menuju sistem Islam yang mengharamkan riba.

Hijrah dari sistem sosial yang memfasilitasi perzinaan ke sistem Islam yang memberi hukuman berat pada pezina.

Hijrah dari sistem politik yang menjadikan umat sebagai objek eksploitasi pihak lain, sumber daya alam dikuasai asing ke sistem yang mewajibkan sumber daya alam dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat dan mengharamkan eksploitasi oleh pihak lain.

Jadi perubahan atau “hijrah” bukan hanya dilakukan pada tataran individu, tetapi pada tataran masyarakat, yaitu perubahan menuju ketaatan kepada Allah SWT secara total, itulah perubahan yang hakiki.

Menjadikan Bulan Muharram sebagai Momentum Hijrah Hakiki

Bulan Muharram merupakan awal bulan kalender hijriyah. Diutarakan pula oleh Ibnu Hajar ra alasan dijadikannya bulan muharram sebagai awal bulan.

Karena tekad untuk melakukan hijrah terjadi pada bulan muharram. Di mana baiat terjadi di pertengahan bulan Dzulhijjah. Dari peristiwa baiat itulah awal mula hijrah.

Bisa dikatakan hilal pertama setelah baiat adalah hilal bulan muharram, serta tekad untuk berhijrah juga terjadi pada hilal bulan muharram. Karena inilah muharram layak dijadikan awal bulan.

Ini alasan paling kuat mengapa dipilih bulan Muharram. Awal bulan ini sangat baik dijadikan sebagai momentum hijrah hakiki, karena di bulan ini pula awal dimulainya hijrah Rasulullah SAW.

Di mana Islam terbentuk untuk pertama kalinya, titik balik dari yang terusir menjadi berdaulat, Rasul yang awalnya dihina menjadi kepala negara, Islam yang lemah menjadi super power.

Islam diterapkan secara kaffah dan disebarkan di seluruh dunia, nampaklah keagungan Islam dan menjadi mercusuar dunia. Itulah hari di mana kaum muslimin merdeka dari penindasan manusia.

Lewat pintu hijrah itu pula, Islam sebagai sebuah ideologi dan sistem dapat ditegakkan dalam negara, yaitu Daulah Islamiyah di Madinah Munawarah.

Dari semua itu, hijrah dapat dimaknai sebagai momentum perubahan dan peralihan dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari segala bentuk kejahiliahan menuju Islam dan dari masyarakat jahiliah menuju masyarakat Islam.

Jadi sangat jelas, dari hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bukan hanya sekadar berpindah dari Makkah ke Madinah, tetapi perubahan dari segala aspek kehidupan, bukan perubahan secara parsial (sebagian) tetapi secara kaffah (menyeluruh). [*]

Hijrah dan Perubahan Hakiki
Penulis : Irnawati
(Mahasiswi, Makassar)