Ironi Ketahanan Pangan Negeriku

Ironi Ketahanan Pangan Negeriku
Dr. Suryani Syahrir, ST, MT (Dosen Teknik Sipil dan Pemerhati Sosial)

OPINI—Setelah mengalami kelangkaan selama hampir tiga bulan, minyak goreng kini muncul dengan tatanan cantik di etalase-etalase toko kelontong dan atau toko retail. Bak hantu di siang bolong, kehadiran minyak goreng tiba-tiba melimpah pasca diumumkan oleh pemerintah dengan harga yang disesuaikan dengan harga pasar.

Harga yang cukup fantastis, dimana menimbulkan keresahan yang sama pada saat masih langka. Pun, bahan pangan lainnya seperti gula, kedelai, masih menjadi problem rakyat kebanyakan. Ada apa dengan komoditas pangan negeriku?

Dilansir dari laman bulog.co.id, ketahanan pangan menurut UU No. 18/2012 adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

Jika ditelaah definisi di atas dan disandingkan dengan fakta yang ada di lapangan, sangat jauh dari harapan. Artinya, ketahanan pangan Indonesia sangat mengkhawatirkan. Hal ini bisa dibuktikan dari beragamnya problem terkait pangan; mulai dari produksi, konsumsi, terlebih distribusi.

Padahal, Indonesia adalah negara agraris. Berbagai julukan yang menggambarkan betapa suburnya negeri ini, diantaranya gemah ripah loh jinawi.

Namun, mengapa ada kelangkaan dan mahalnya komoditi pangan? Rasanya sangat sulit dinalar akal sehat.

Berita Lainnya
Lihat Juga:  Optimisme Pasca Pemilu

Berita terkait