OPINI—Sejak WHO menyatakan COVID-19 sebagai pandemi pada tanggal 11 Maret 2020, maka sejak ini itulah kecemasan muncul karena memberikan dampak yang besar pada semua aspek, diantaranya fisik, Psikologis bahkan pendidikan. Sejak saat itu pemerintah menerapkan sistem Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), setiap orang diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, segala pekerjaan dilakukan dari rumah sampai pemberlakuan pembelajaran jarak jauh yang saat ini trend dengan istilah LFH (Learning From Home).

Tidak sampai disitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  juga mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran corona virus disease (COVID19). Terhitung dari tanggal 24 Maret 2020, pembelajaran jarak jauh terkandung dalam surat tersebut yang membuat para guru, siswa bahkan orang tua harus beradaptasi dengan perubahan ini.

Bentuk adaptasi setiap orang tua yang anaknya terdampak oleh kebijakan ini  yaitu orang tua di tuntut berperan sebagai guru, dengan mengawasi dan membimbing saat pembelajaran berlangsung, ini bukan hal yang mudah bagi sebagian besar orang tua,

Padahal, dulu sebelum pandemi, waktu pagi sampai sore dipakai orang tua untuk mengurus urusannya sendiri, seperti bekerja, berbelanja, dan membereskan rumah.
Banyak hal yang harus dipelajari bahkan diatasi oleh orang tua dan yang paling sulit bagi orang tua adalah membagi waktu antara pekerjaan dan pemantauan pembelajaran anak, pemenuhan fasilitas perangkat elektronik dan kuota internet yang harus terus tersedia, dimana berdasarkan informasi yang di sampaikan Bidang

Kebijaksanaan Digital dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kominfo bahwa  jumlah pemakaian internet meningkat sekitar 30 hingga 40 persen. Sejak adanya aturan physical distancing yaitu bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah. Namun kehawatiran akan penggunaan internet yang negative dari anak-anak juga menjadi sesuatu yang  tidak bisa di abaikan oleh orang tua.

Selain dampak pada kemampuan akademik anak-anak mereka, kecemasan lain yang timbul dari orang tua yang mengamati anak meraka full time berada di rumah adalah anak-anak menjadi kurang aktif karena tinggal di rumah saja. Perasaan cepat bosan, lebih sering menonton tv dan bermain perangkat elektronik yang berdampak pada kesehatan semakin memburuk tanpa melakukan aktivitas di luar rumah. Mereka khawatir, anak mereka tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk mencari kerja dan bersosialisasi di masa mendatang.

Tentunya ada dampak kecemasan orang tua terhadap anak-anak mereka. Tanda-tanda munculnya kecemasan orang tua, antara lain mereka jadi lebih sensitif dan mudah marah (karena merasa terbebani) dan sering menganggap sepele apa yang diajarkan lewat pembelajaran online.

Alhasil, ketika anak butuh dukungan dan motivasi dari orang tua, mereka justru tidak mendapatkan hal itu. Rasa malas pun bisa meningkat dan justru bikin prestasi anak jadi jeblok. Belum lagi segala proses pembelajaran daring selalu dibilang tidak efektif dan anak selalu mendengar kalimat: “Mau jadi apa kamu kalau belajarnya via online begitu?”.

Namun harapan untuk anak-anak bisa beraktifitas dengan belajar tatap muka sepertinya dalam waktu dekat akan segera terwujud, sebab dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah membuka peluang bagi sekolah untuk belajar tatap muka. Mendikbud Nadiem Makarim khawatir ada learning loss atau ketertinggalan para murid karena terlalu lama menunda sekolah. Nadiem mendorong sekolah dari tingkat PAUD hingga SMA segera belajar tatap muka usai vaksinasi Covid-19. Sementara perguruan tinggi bisa tetap menggelar pembelajaran daring sesuai kebijakan kampus.

Terkhusus di Kota Makassar, sejak pencanangan Vaksinasi massal oleh walikota Makassar  atau yang familiar kita dengar dengan istilah Makassar Recover, yang akan menyasar sekitar 500 orang guru bahkan rencananya akan memvaksinasi 8000 orang guru di Makassar hingga bulan Juli. Dan kita semua berharap seluruh guru yang ada di kota makassar berdasarkan data dapodik yang berjumlah 17.020 orang mendapat perlakuan vaksinasi yang sama, Ini menjadi titik terang akan  solusi sebagai upaya pencegahan pandemic covid-19 dilingkungan sekolah, dan menjadi langkah awal untuk melakukan sekolah tatap muka langsung atau offline.

Ini akan menjawab kekhwatiran orang tua terhadap kebosanan selama learning from home, namun begitu orang tua harus tetap memberikan  edukasi kepada anak-anaknya bahwa pandemi yang sedang mewabah ini tidak serta merta di abaikan, harus tetap menerapkan protokol kesehatan jika nanti akan di lakukan sekolah tatap muka langsung atau off line, semoga.! (*)

Penulis: Pebriana Nur (Statistisi BPS Sulsel)