Beranda » Islam » Khilafah, Sistem Pemerintahan atau Prinsip Bernegara?
Khilafah, Sistem Pemerintahan atau Prinsip Bernegara?
Islam Opini

Khilafah, Sistem Pemerintahan atau Prinsip Bernegara?

OPINI – “Dalam Al-Qur’an disebutkan tentang Khilafah yang maksudnya adalah Negara yang memiliki pemerintahan, namun sistemnya seperti apa, Islam tidak mengajarkan soal itu. Artinya setiap Negara bisa menentukan sendiri sistem pemerintahannya,” kata Mahfud MD saat memberikan sambutan pada Dialog Kebangsaan Korps Alumni HMI, di Kalimantan Barat, Sabtu (27/10/2019) malam.

Menurut Mahfud, sistem pemerintahan Khilafah tidak ada didalam Islam yang ada hanya Prinsip Khilafah yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Mahfud juga mengatakan bahwa sistem Negara Khilafah tidak menjamin akan hilangnya kasus pelanggaran yang terjadi.

Ia mencontohkan, di Arab Saudi masih terjadi banyak kasus pencurian di mana potong tangan sebagai hukumannya. Jadi, ia beranggapan bahwa penerapan sistem Khilafah tidak mungkin dapat menghentikan kasus pelanggaran.

Khilafah atau Demokrasi?

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka (Wikipedia). Indonesia sendiri dikategorikan sebagai Demokrasi tidak langsung.

Dengan asas Demokrasi “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, dan Untuk Rakyat” masyarakat Indonesia menganggap bahwa Demokrasi adalah sistem yang paling tepat untuk diterapkan di Indonesia.

Masyarakat cenderung berpikir bahwa Khilafah tidak cocok diterapkan di Tanah Air, karena Indonesia merupakan Negara dengan beragam kepercayaan yang mana tidak dapat dipaksakan untuk memeluk agama Islam.

Mengapa masyarakat berpikir demikian? Jawabannya adalah karena masyarakat belum paham mengenai Khilafah itu sendiri.

Menurut Taqiyuddin An-Nabhani, Khilafah adalah sistem kepemimpina umum bagi seluruh umat muslim didunia di mana Islam sebagai Ideologi, dan hukum syara’ sebagai dasar hukum.

Tujuan Penegakkan Khilafah Islamiyah adalah untuk melaksanakan tauhid, merealisasikan hukum-hukum Allah dan syariat-Nya, serta menyebarluaskan risalah dakwah ke seluruh dunia.

Khilafah dalam Islam

Rasulullah saw. merupakan suri teladan bagi umat muslim sebagaimana firman Allah swt. dalam QS. Al-Ahzab/33:21 “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

Jika umat muslim menjadikan Rasulullah saw. sebagai teladan maka umat muslim harus berkaca dari apa yang telah dilakukan oleh beliau.

Pada masa Rasulullah saw. pelaksanaan Islam tidak hanya berpusat pada ibadah ritual saja melainkan juga menjadi sistem hukum yang berlaku di masyarakat.

Pemberlakuan sistem hukum Islam pada masa itu didukung oleh adanya sebuah Negara yaitu Madinah dibawah kepemimpinan Rasulullah saw.

Setelah Nabi Muhammad saw. wafat, kepemimpinan (Khulafaur Rasyidin) diganti oleh para sahabat yang dimulai dari Abu Bakar ra. (632-634 M), Umar bin Khattab ra. (634-644 M), Utsman bin Affan ra. (644-656 M), dan Ali bin Abi Thalib ra. (656-661 M).

Lalu, masa keKhilafahan Umayyah yang kemudian menaklukkan beberapa wilayah untuk digabungkan ke dalam keKhilafahan di mana banyak orang Nasrani yang diterima dalam wilayahnya.

Setelah itu, masa keKhilafahan Abbasiyah dan keKhilafahan terakhir yaitu keKhilafahan Utsmaniyah yang kemudian sistem Khilafah tersebut dihapuskan oleh Mustafa Kemal Ataturk dan diganti menjadi Republik Turki.

Masa ke-Khilafahan menjadi masa di mana peradaban Islam terjadi. Peradaban Islam dapat dilihat melalui catatan-catatan dan sejarah peninggalannya seperti, dalam buku “Story of Civilization” oleh Will Durant seorang sejarawan Barat yang mengatakan “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka.

Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.”,

Sejarawan Kristen yang bernama T.W. Arnold dalam bukunya “The Preaching of Islam: A History of Propagation of The Muslim Faith” mengatakan bahwa “Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Khilafah Turki Utsmani -selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani- telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.”,

Serta Komplek istana Alhambra di Granada dan Masjid Katedral di Cordoba yang dibangun oleh Arsitektur Islam yang juga menjadi bukti nyata peninggalan ke-Khilafahan Umayyah.

Dapat dilihat bahwa peradaban Islam membawa begitu banyak kemajuan ilmu pengetahuan hingga kesejahteraan kepada umat yang merupakan hikmah dan rahmat yang diberikan oleh Allah swt.

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih diantara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di Bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa.” (QS. An-Nur/24:55)

“Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya jika menghendakinya.

Lalu, datang masa keKhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Allah mengangkatnya jika menghendakinya.

Lalu, datang masa kekuasaan yang zhalim (mulkan ‘adlan) selama masa yang dikehendaki-Nya, kemudian Allah mengangkatnya jika menghendakinya.

Lalu, datang masa kekuasaan diktator bengis (mulkan jabariyyan) selama masa yang dikehendaki-Nya, kemudian Allah mengangkatnya jika menghendakinya.

Setelah itu, akan datang (kembali) masa ke-Khilafahan yang mengikuti manhaj kenabian. Kemudian Rasulullah terdiam.” (HR. Ahmad)

Seperti yang terdapat pada Al Qur’an dan Hadits diatas, diketahui bahwa Tegaknya Khilafah merupakan Janji Allah swt. (*)

Khilafah, Sistem Pemerintahan atau Prinsip Bernegara?
Penulis : Andi Nabila Nur A.