Menyingkap Topeng Moderasi
Jika dirunut sejarah panjang munculnya narasi Moderasi Beragama (MB), maka akan didapati beragam kepentingan besar dunia global di balik program ini. Walau ada segelintir pihak yang menolak menyandingkan narasi MB ini dengan Barat.
Namun secara historis dan empiris, narasi MB merupakan agenda global Barat yang sengaja diinjeksi ke negeri-negeri muslim dalam rangka makin mengokohkan hegemoninya.
Bukti tak terbantahkan pertama kali diungkapkan oleh RAND Corporation, sebuah lembaga think tank Amerika Serikat, yang mengklasifikasikan Islam secara garis besar, yakni Islam moderat dan radikal.
Strategi tersebut tertuang dalam dua dokumen penting yakni “Civil Democratic Islam” pada tahun 2003 dan Building Moderate Muslim Network pada tahun 2007.
Sebuah narasi akbar yang dibuat sistemik oleh Barat dan dijajakan ke negeri-negeri muslim. Agar terlihat islami, maka disandarkan pada dalil-dalil termasuk dalam QS. Al-Baqoroh ayat 143. Selanjutnya menggunakan istilah-istilah tawazun, i’tidal, tasamuh, islah, dll. Sangat jelas kemana sebenarnya bidikan narasi ini dituju, yakni Islam politik atau Islam ideologis. Mengapa?
Sebab, hanya yang paham Islam politik lah yang bisa “membaca” kemana arah narasi MB ini. Ada apa di balik topeng MB yang sangat masif dan sistemik menyasar semua bidang. Terkhusus generasi muda yang memang di pundaknyalah estafet kepemimpinan suatu bangsa akan diletakkan. Sangat wajar jika banyak program MB membidik generasi. Mulai dari usia TK sampai PT, anak-anak sampai mahasiswa.
Lihatlah berbagai regulasi dibuat dalam mendukung program MB ini. Misal UU Pesantren No.18/2019, Perpres No.82/2021. Begitupun program Santripreneur dan One Pesantren-One Product (OPOP). Tak ketinggalan Sekolah Kebangsaan dan Guru Penggerak. Plus media sosial yang begitu masif menayangkan tema-tema terkait moderasi beragama dengan menerjunkan para influencer untuk menarik para generasi muda.
Jika ditelisik akan terlihat point-point urgen dari narasi ini, antara lain: pertama, adanya upaya pengalihan problem pokok umat Islam. Kerusakan yang sudah sedemikian parah di segala aspek kehidupan akibat diterapkannya sistem kapitalisme. Sistem yang lahir dari rahim sekulerisme, menegasikan aturan Sang Pencipta. Menjadikan tata kehidupan yang semrawut berujung kerusakan dimana-mana.
Kedua, deislamisasi. Moderasi Beragama hakikatnya menguatkan Islam versi Barat. Islam moderat yang pada prinsipnya menjadikan setiap orang berpikir bahwa semua agama benar (pluralisme). Hal ini adalah bentuk penyesatan yang luar biasa. Sehingga terjadi pengaburan makna Islam di tengah-tengah masyarakat. Hal ini bisa berakibat fatal karena makna pluralisme menjadi tidak jelas, yang berdampak pada kerusakan akidah umat.
Ketiga, makin mengokohkan eksistensi kapitalisme. Sistem kapitalisme dengan tabiat dasarnya menjajah (imperialis), menjadikan narasi ini sebagai uslub (cara) baru yang soft. Setelah war on terrorism dan war on radicalism kurang efektif, Barat mencari beribu macam cara agar tetap eksis mengeruk sumber daya alam dan merusak generasi muda suatu negeri.
Ketiga point di atas sudah sangat cukup untuk menegaskan bahwa Moderasi Beragama bukan sekadar problem toleransi, kekerasan, cinta tanah air, maupun tradisi/budaya lokal. Namun, sebuah narasi besar yang memang didesain Barat dalam rangka mengokohkan hegemoninya terhadap negara-negara jajahannya.












